Bayangkan sebuah ruang sidang yang
hening. Seorang ayah berdiri di depan pembunuh putrinya. Dengan suara bergetar
namun tenang, ia berkata, “Sebagai orang Kristen, saya memaafkanmu.”
Secara emosional, momen ini terasa heroik dan mulia. Namun, jika kita menyelami
Alkitab lebih dalam, apakah tindakan tersebut benar-benar merefleksikan “pengampunan”
sebagaimana yang Tuhan maksudkan?
Bagi banyak orang Kristen modern,
pengampunan telah direduksi menjadi sekadar mekanisme pertahanan diri
psikologis, sebuah upaya melepaskan emosi negatif agar kita tidak lagi menjadi “tahanan”
bagi luka masa lalu. Kita sering mendengar frasa: “Lepaskan saja, maafkan, dan
temukan kedamaianmu.” Namun, pendekatan ini sebenarnya adalah produk campur
aduk antara kesalahpahaman terhadap teks Alkitab dan dominasi psikologi
sekuler. Melalui lensa praktis dan teologis, mari kita membongkar mengapa model
terapeutik ini justru sering kali menjadi bentuk moral gaslighting terhadap
korban, dan bagaimana model alkitabiah yang sejati menawarkan kemerdekaan yang
jauh lebih kokoh.
1. Pengampunan Alkitabiah Adalah
Transaksi Relasional, Bukan Aksi Solo
Kesalahan kategori yang paling umum
dalam gereja hari ini adalah menganggap pengampunan sebagai aksi “solo,” sesuatu
yang Anda lakukan sendirian di dalam hati tanpa keterlibatan pelaku. Teasi
Cannon memberikan analogi yang sangat tajam tentang hal ini: Analogi
Perjanjian Sewa.
Jika saya berkata kepada Anda, “Saya
telah menandatangani perjanjian sewa di dalam hati saya kemarin,” Anda akan
menganggap saya tidak waras. Mengapa? Karena perjanjian sewa adalah sebuah
kontrak yang melibatkan dua pihak dengan syarat-syarat tertentu. Anda tidak
bisa melakukan transaksi hukum sendirian di dalam kepala Anda. Demikian pula
dengan pengampunan alkitabiah.
Pengampunan dalam Alkitab bukan
tentang memanipulasi perasaan pribadi, melainkan sebuah tindakan hukum dan
relasional untuk menghapus beban moral.
“Pengampunan alkitabiah adalah janji
yang dibuat kepada pelanggar yang bertobat untuk menghapus kewajiban moral atas
dosa mereka; sebuah janji untuk tidak menggunakan dosa tersebut untuk melawan
pelaku lagi.”
Ini bukan aktivitas mental pribadi;
ini adalah transaksi yang bertujuan memulihkan hubungan. Tanpa adanya dua pihak
yang bersepakat pada kebenaran, transaksi ini tidak dapat terjadi.
2. Memahami Matius 18: Rahasia di
Balik Inclusio-nya
Kita sering kali menggunakan Matius
18 sebagai senjata untuk menekan korban agar segera mengampuni. Namun, kita
sering melewatkan struktur sastranya yang disebut inclusio - seperti sepasang roti lapis yang mengapit satu tema besar. Dari ayat 15 hingga 35,
seluruh konteksnya adalah tentang penanganan dosa, pertobatan, dan pemulihan
saudara.
Dalam perikop ini, Yesus memberikan
instruksi eksplisit: Jika saudaramu berdosa, tegurlah. Jika ia mendengar (artinya:
mengakui kebenaran dan bertobat), barulah Anda mendapatkan saudaramu kembali.
Perhatikan juga Perumpamaan Tentang Hamba yang Tidak Menaruh Belas Kasihan di
akhir bab tersebut. Dalam perumpamaan itu, kedua hamba tersebut bertobat
dan memohon belas kasihan sebelum pengampunan diberikan.
Satu detail krusial yang sering
salah diterjemahkan adalah ayat 35. Yesus tidak memerintahkan kita mengampuni “di
dalam hati” (in your heart) seolah-olah itu adalah meditasi pribadi.
Teks aslinya merujuk pada mengampuni “dari hatimu” (from your heart).
Perbedaannya sangat mendasar: “di dalam hati” bersifat terapeutik dan tertutup,
sedangkan “dari hati” adalah tindakan lahiriah yang tulus sebagai hasil dari
transaksi relasional yang sudah terjadi.
3. Sejarah Masuknya Model
Terapeutik: Warisan Smedes
Bagaimana gereja bisa bergeser
sejauh ini? Akarnya dapat ditarik dari pergeseran pemikiran sejak era Renaisans
yang menempatkan manusia sebagai pusat, lalu diperkuat oleh psikologi Freudian,
hingga mencapai puncaknya di gereja pada tahun 1980-an melalui Lewis B.
Smedes.
Smedes, yang saat itu merupakan
seorang profesor di Fuller Theological Seminary, menulis buku
fenomenal Forgive and Forget. Ia memopulerkan kutipan: “Pengampunan
membebaskan tahanan, dan tahanan itu adalah Anda.” Smedes mengambil
konsep psikologi sekuler dan membungkusnya dengan terminologi religius.
MASALAHNYA, model Smedes ini menempatkan seluruh beban pada pundak
korban. Jika korban belum merasa “bebas” secara emosional, mereka dianggap
belum mengampuni, dan otomatis dianggap tidak taat kepada Tuhan. Ini adalah
beban moral tambahan bagi orang yang sudah terluka, sementara pelaku dibiarkan
tanpa tuntutan pertobatan. Jelas ini bukan pandangan Injil; ini adalah bantuan
diri (self-help) dengan pendekatan psikologi sekuler yang memakai jubah
kekristenan.
4. Memisahkan Perintah Tuhan dari
Transaksi Manusia
Untuk menemukan kebebasan, kita
harus mampu memisahkan tiga kategori yang selama ini kita campur adukkan:
a)
Menyerahkan
Hak Pembalasan kepada Tuhan (Aksi Solo): Ini adalah perintah mutlak. Kita menyerahkan hak
pembalasan kepada Tuhan (Vengeance is Mine, says the Lord – Roma 12:19).
Ini adalah kewajiban setiap orang percaya, terlepas dari apakah pelaku bertobat
atau tidak.
b)
Kesediaan
untuk Mengampuni (Willingness to Forgive): Sikap hati yang selalu siap dan rindu
untuk memulihkan hubungan jika pelaku datang membawa pertobatan. Seperti ayah
dalam kisah Anak yang Hilang, kita menanti di ambang pintu dengan tangan
terbuka.
c)
Transaksi
Pengampunan yang Sebenarnya: Peristiwa relasional di mana pelaku bertobat, mengakui
dosa tanpa pembelaan, dan korban secara resmi menghapus beban moral tersebut.
Melepaskan kebencian adalah perintah,
namun transaksi pengampunan adalah sebuah proses yang bergantung
pada kedua belah pihak.
5. Hikmat, Pelecehan, dan “Buah
Pertobatan”
Dalam kasus-kasus berat seperti
pelecehan atau penyalahgunaan kekuasaan, pemahaman yang salah tentang
pengampunan jelas dapat berakibat fatal bagi korban. Pengampunan tidak berarti
menghapus batasan atau memulihkan kepercayaan secara buta.
Yohanes Pembaptis menyerukan untuk
menghasilkan “buah yang sesuai dengan pertobatan.” Jika
seorang pendeta yang melakukan pelecehan benar-benar bertobat, ia akan
menunjukkan penyesalan yang mendalam (seperti “mencabik jubah” di Perjanjian
Lama) dan kesediaan untuk menerima konsekuensi. Pertobatan sejati dari seorang
pelaku penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) seperti pendeta
tersebut mungkin berarti ia bersedia untuk tidak pernah lagi berada di atas
mimbar dan merasa terhormat jika hanya diperbolehkan “membersihkan toilet” di
gereja.
Pengampunan menghapus hutang moral,
tetapi hikmat (wisdom) menentukan jarak relasional. Kita bisa mengampuni
seorang penipu, tetapi hikmat melarang kita meminjamkan uang kepadanya lagi.
6. Pengampunan Sebagai Refleksi “Cosmic
Treason”
Mengapa kita harus begitu kaku
dengan definisi ini? Karena cara kita mengampuni mencerminkan pemahaman kita
tentang Injil. Jika kita menganggap dosa hanyalah kesalahan antarpribadi yang
membuat perasaan tidak nyaman, maka pengampunan terapeutik sudah cukup.
Namun, Rosaria Butterfield
menggunakan istilah yang sangat tepat: dosa adalah Cosmic Treason
(Pengkhianatan Kosmik) terhadap Allah yang kudus. Allah tidak
mengampuni secara universal tanpa syarat; Ia mengampuni mereka yang bertobat
dan percaya kepada Kristus. Jika kita mengampuni orang yang tidak bertobat,
kita tidak sedang mencerminkan karakter Allah. Kita justru sedang menawarkan
kasih karunia yang murahan yang tidak menghargai keadilan Allah.
Kesimpulan: Kemerdekaan dalam
Kebenaran
Model alkitabiah sebenarnya jauh
lebih membebaskan bagi korban yang terluka. Tuhan tidak menuntut Anda melakukan
sesuatu yang mustahil secara emosional, seperti merasa damai dengan orang yang
terus menyakiti Anda tanpa penyesalan. Tugas Anda adalah menyerahkan dendam dan
pembalasan kepada-Nya, menjaga hati agar tetap rindu pada pemulihan, dan
bersandar pada keadilan Tuhan yang sempurna.
Kebebasan sejati tidak ditemukan
dalam perasaan yang fluktuatif, melainkan dalam ketaatan pada kebenaran yang
kokoh. Saat kita berhenti memikul beban “transaksi sepihak” yang tidak pernah
Tuhan perintahkan, kita baru bisa benar-benar bernapas lega.
Pertanyaan Reflektif: Apakah Anda berani menukar perasaan yang fluktuatif
dengan janji alkitabiah yang kokoh dalam proses pemulihan Anda? Kembalilah
pada otoritas Firman-Nya, karena hanya kebenaran – bukan sekadar pelepasan
emosional – yang sanggup memerdekakan Anda sepenuhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.