Ekklesia, Liturgia, dan Sebuah Pertanyaan:
Wajibkah Berkumpul?
Ada dua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang, kalau
dipahami dengan tepat, bisa mengubah cara kita memandang apa itu “gereja” dan
apa yang sebenarnya kita lakukan saat berkumpul untuk beribadah. Dua kata itu
adalah ekklesia dan leitourgia. Dari situ, tulisan
ini akan bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis dan sering ditanyakan: apakah
orang Kristen wajib beribadah Minggu di gereja, dan apakah iman bisa
bertumbuh cukup hanya dari konten rohani di internet.
1.
Ekklesia: Bukan Gedung, tapi Umat yang Dipanggil
Kata ekklesia (ἐκκλησία)
muncul di Injil hanya tiga kali, semuanya dikatakan Tuhan Yesus sendiri
dan semuanya berada dalam Injil Matius (Matius 16:18; dua kali penyebutan di 18:17).
Namun di seluruh Perjanjian Baru, kata ini muncul sekitar 114 kali,
sebagian besar dalam surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul.
Secara etimologi, ekklesia
memang gabungan dari ek (“keluar dari”) dan kaleo (“memanggil”) —
secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar.” Ini benar secara bahasa, tapi
perlu kejujuran metodologis: pada abad pertama, kata ini sudah menjadi istilah
umum untuk “sidang” atau “perhimpunan,” dan yang lebih menentukan makna sebuah
kata bukan hanya asal-usulnya, melainkan bagaimana ia dipakai dalam konteksnya.
Dan konteks pemakaian ekklesia justru memperkuat, bukan melemahkan, poin
utamanya.
Latar Yunani-Romawi. Dalam dunia Yunani klasik, ekklesia adalah istilah
politik: kumpulan warga negara kota (polis) yang sah, dipanggil
bersidang membahas urusan pemerintahan dan keputusan bersama — badan
pemerintahan warga, bukan kerumunan biasa. Latar ini membantu menjelaskan
mengapa Paulus menyebut orang percaya memiliki “kewargaan... di sorga” (Filipi
3:20).
Latar Perjanjian Lama. Septuaginta (LXX, terjemahan Yunani Perjanjian Lama)
memakai kata ekklesia untuk menerjemahkan kata Ibrani qahal
(קָהָל) — jemaat umat Israel yang dipanggil berkumpul di hadapan TUHAN,
misalnya di kaki Gunung Sinai (Ulangan 9:10; 18:16). Jadi ketika Yesus dan para
rasul memakai kata ekklesia, orang Yahudi yang mendengarnya secara alami
menghubungkannya dengan qahal Yahweh — jemaat TUHAN.
Kesimpulannya: ekklesia menunjuk pada umat, bukan tempat.
Ini didukung jelas oleh Kisah Para Rasul 2:42-46, deskripsi tentang orang-orang
dan aktivitas mereka, bukan tentang bangunan. Ketika penganiayaan
menceraiberaikan jemaat Yerusalem (Kisah 8:1), mereka tidak berhenti menjadi ekklesia
— mereka membawa identitas itu ke mana pun mereka pergi.
Satu catatan bahasa: kata “church”
dalam bahasa Inggris sebenarnya tidak berasal dari ekklesia, melainkan
dari kata Yunani kyriakon (κυριακόν, “milik Tuhan”), diserap ke
bahasa-bahasa Jermanik (cirice, Kirche). Jadi bukan soal kata itu
“diterjemahkan salah” — ini dua kata Yunani berbeda yang akhirnya diwakili satu
kata Inggris “church.” Yang penting disadari: ekklesia dalam Alkitab
pertama-tama adalah umat yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi
milik Allah (1 Petrus 2:9-10), bukan sekadar tempat atau institusi.
2.
Liturgia: Bukan Ritual Kosong, tapi Pelayanan Bersama
Kata kedua adalah leitourgia
(λειτουργία), akar dari kata “liturgi.” Dalam dunia Yunani-Romawi, kata ini
punya makna sipil yang jelas: pelayanan publik yang dilakukan seorang
warga demi kepentingan bersama — misalnya warga kaya yang membiayai perayaan
kota demi kebaikan bersama (polis). Ini bukan tindakan privat, melainkan
kontribusi nyata bagi komunitas.
Dalam Perjanjian Baru, kata ini
dipakai untuk pelayanan imam di bait suci (Lukas 1:23), tapi juga untuk
pelayanan jemaat: di Kisah Para Rasul 13:2, para pemimpin di Antiokhia sedang “melayani
Tuhan” (dari akar kata yang sama) ketika Roh Kudus memisahkan Barnabas dan
Saulus untuk pekerjaan penginjilan. Paulus bahkan memakai kata ini untuk
persembahan jemaat Filipi baginya (Filipi 2:17) dan untuk pengumpulan dana bagi
orang percaya yang miskin (2 Korintus 9:12).
Implikasinya: liturgi, dalam akar
Alkitabiahnya, bukan sekadar urutan acara ibadah yang kaku, dan bukan sesuatu
yang kita “konsumsi” sebagai penonton. Liturgi adalah kerja bersama umat
untuk membangun dan melayani tubuh Kristus — nyanyian, doa, pengajaran,
perjamuan kudus, persembahan — tindakan aktif jemaat yang saling melayani.
3.
Peran Roh Kudus dalam Ekklesia
Ekklesia bukan sekadar konstruksi sosial atau politik tandingan,
melainkan karya Roh Kudus. Efesus 2:22 menyebut jemaat dibangun menjadi “tempat
kediaman Allah, di dalam Roh.” 1 Korintus 12:13 menegaskan “oleh satu Roh kita
semua... telah dibaptis menjadi satu tubuh” — kelahiran ekklesia Perjanjian
Baru tepat terjadi pada peristiwa pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta
(Kisah 2), bukan sekadar rekonstruksi politik dari qahal Sinai. Dan 1
Korintus 14 menunjukkan bahwa ketika jemaat berkumpul, karunia-karunia Roh
dimaksudkan beroperasi demi membangun jemaat (oikodome, ayat 12).
Ekklesia adalah umat yang dipanggil, dibentuk, dan diberdayakan oleh Roh Kudus
untuk menjadi saksi Kristus (Kisah 1:8).
4.
Wajibkah Ibadah di Gereja Hari Minggu?
Dari pemahaman ekklesia dan liturgia
di atas, kita bisa masuk ke pertanyaan praktis ini dengan lebih tajam. Jawaban
jujurnya: bukan syarat keselamatan, tapi bukan opsional untuk murid Kristus
yang serius. Dua hal ini harus dipisahkan tegas.
Bukan syarat keselamatan. Keselamatan adalah sola gratia, sola fide (Efesus
2:8-9), bukan hasil kepatuhan ritual mingguan. Tidak ada ayat yang menjadikan
kehadiran fisik di gedung gereja hari Minggu sebagai syarat masuk sorga. Kalau
ada yang mengancam “kalau tidak ke gereja, tidak selamat,” itu legalisme.
Tapi bukan opsional. Dasar tekstual utamanya adalah Ibrani 10:24-25, yang layak
dibedah lebih dalam.
Eksegesis
Ringkas Ibrani 10:24-25
Ayat 24-25 bukan dua perintah
terpisah, melainkan bagian dari satu kalimat panjang sejak ayat 19, dibangun di
atas tiga kohortatif present subjunctive (“marilah kita,” bentuk yang
menuntut tindakan terus-menerus): menghampiri Allah (ay. 22, vertikal ke atas),
memegang teguh pengakuan (ay. 23, vertikal ke dalam), dan saling memperhatikan
(ay. 24-25, horizontal ke sesama). Ketiganya setara secara struktural —
perintah berkumpul bukan tambahan opsional, melainkan konsekuensi kristologis
dari karya Kristus sebagai Imam Besar (ay. 19-21).
Beberapa kata kunci menegaskan ini:
- Katanoōmen allēlous (“marilah kita saling memperhatikan”) — katanoeō
berarti mengamati dengan saksama, bukan sekadar melirik. Tindakan ini
mustahil dilakukan tanpa kehadiran fisik berulang dengan orang yang sama.
- Paroxysmos
(“dorongan,” ay. 24) — akar kata yang di Kisah 15:39 dipakai untuk “perselisihan
tajam.” Nuansanya adalah gesekan intensif, bukan sekadar dorongan lembut —
menunjukkan relasi jemaat dirancang untuk saling menggesek menghasilkan
kasih dan perbuatan baik.
- Mē enkataleipontes tēn episynagōgēn heautōn (“jangan meninggalkan pertemuan kita”) — enkataleipō
adalah kata kuat, dipakai untuk seruan Yesus di kayu salib (“mengapa
Engkau meninggalkan Aku,” Matius 27:46) dan untuk Demas yang meninggalkan
Paulus (2 Timotius 4:10). Ini bukan kata netral untuk “absen sesekali,”
tapi menyiratkan desersi.
- Kathōs ethos tisin (“seperti kebiasaan pada beberapa orang”) — penulis
menggambarkan situasi nyata: ada orang yang sudah punya pola berulang
menjauh dari pertemuan, dalam konteks surat yang penuh peringatan tentang
kemurtadan (bandingkan 10:26-31, tepat setelah ayat ini).
- Parakaloūntes
(“saling menasihati/menguatkan”) — akar kata yang sama dengan Paraklētos,
tindakan aktif menguatkan yang menuntut kedekatan personal.
Kesimpulan eksegetisnya: ayat ini
bukan rumus legalistik “wajib ke gereja hari Minggu” — tidak ada kata “Minggu”
atau sanksi keselamatan di dalamnya. Tapi ayat ini juga bukan sandaran bagi “aku
dan Tuhan saja cukup.” Konteksnya justru teguran keras terhadap kebiasaan
menjauh dari perkumpulan jemaat, dan kata-kata kuncinya — mengamati saksama,
saling menggesek, saling menguatkan — semuanya secara linguistik menuntut
relasi timbal balik yang berulang dan personal, sesuatu yang tidak bisa
digantikan oleh menonton dari kejauhan.
Verdiknya: kalau seseorang secara sadar dan terus-menerus menjauh dari
perkumpulan jemaat tanpa alasan yang sah (sakit, isolasi geografis,
penganiayaan), itu bukan pelanggaran hukum yang membatalkan keselamatan — tapi
gejala kerohanian yang sedang mundur, bukan sesuatu yang netral. Soal harinya
sendiri lebih longgar dari yang sering diajarkan: pola jemaat mula-mula memang
berkumpul di hari kebangkitan (Kisah 20:7; 1 Korintus 16:2), tapi tidak ada
perintah eksplisit “wajib Minggu.” Yang jadi inti bukan hari kalendernya,
melainkan keteraturan dan kesetiaan berkumpul dengan tubuh Kristus.
5. Bisakah Iman Bertumbuh Hanya dari Konten Rohani di Internet?
Ini pertanyaan yang perlu dipecah,
bukan disamaratakan sebagai satu hal yang disebut “bertumbuh.”
Pengetahuan (kognitif): ya, bisa
bertumbuh signifikan. Orang bisa belajar teologi
mendalam, memahami doktrin, mengerti Alkitab dengan baik semata-mata dari
khotbah, podcast, dan pengajaran daring berkualitas. Ini fakta.
Tapi kedewasaan Kristen dalam pengertian
Alkitab bukan cuma soal pengetahuan — ini soal karakter yang dibentuk dalam
relasi. Di sinilah konsumsi konten online,
sebagus apa pun, punya keterbatasan struktural:
- Karunia Roh dirancang beroperasi dalam komunitas. 1 Korintus 12-14 menggambarkan tubuh Kristus sebagai
organisme saling bergantung — “mata tidak dapat berkata kepada tangan: aku
tidak membutuhkan engkau” (1 Kor 12:21). Karunia bernubuat, menguatkan,
menyembuhkan hanya bermakna kalau ada orang lain untuk menerimanya —
sesuatu yang mustahil terjadi bagi penonton khotbah di layar.
- Perjamuan Kudus adalah tindakan komunal (1 Korintus 11:23-26 — “roti yang kita pecah-pecahkan”),
bukan sesuatu yang bermakna sama kalau dilakukan sendiri di depan layar.
- Akuntabilitas rohani
— Ibrani 13:17 bicara tentang pemimpin jemaat yang “berjaga-jaga atas
jiwamu,” relasi yang mengenal seseorang secara pribadi dan bisa menegur
langsung. Ini persis apa yang dituntut oleh katanoōmen allēlous di
Ibrani 10:24 — mengamati dengan saksama, sesuatu yang butuh kehadiran
nyata dan berulang.
- Postur pasif-konsumtif — menonton khotbah online menempatkan seseorang
sebagai konsumen konten, sementara gambaran ekklesia yang berkumpul
dan leitourgia yang dijelaskan di atas justru menuntut partisipasi
aktif: melayani, memberi, dinasihati sekaligus menasihati. Struktur
konsumsi digital secara desain membuat orang tetap penonton, bukan anggota
tubuh yang berfungsi.
Simpulannya: seseorang bisa jadi lebih pintar secara teologis
tanpa gereja, tapi tidak bisa bertumbuh dewasa secara Kristen dalam
pengertian penuh Alkitab tanpa komunitas nyata — karena kedewasaan Kristen
dibentuk lewat gesekan relasi nyata (paroxysmos, Ibrani 10:24), bukan
cuma konsumsi informasi.
Pengecualian
yang sah tentu ada — disabilitas berat, isolasi
geografis ekstrem, penganiayaan yang membuat berkumpul fisik mustahil. Dalam
kasus itu, ibadah daring adalah jalan darurat yang lebih baik daripada tidak
ada sama sekali. Tapi itu harus dilihat sebagai pengecualian darurat,
bukan model normal kehidupan Kristen.
Kalau seseorang punya akses ke
jemaat lokal tapi memilih terus-menerus hanya “gereja YouTube” karena lebih
nyaman, itu bukan pertumbuhan iman — itu penghindaran terhadap bagian iman yang
justru paling menuntut: hidup berdampingan dan saling membentuk dengan orang
percaya lain yang tidak sempurna.
Penutup
Ekklesia memberi tahu kita siapa kita — umat yang dipanggil keluar dari dunia menjadi milik Allah, dibentuk dan diberdayakan oleh Roh Kudus. Leitourgia memberi tahu kita apa yang kita lakukan saat berkumpul — bukan menonton, melainkan melayani bersama. Dan Ibrani 10:24-25 memberi tahu kita mengapa berkumpul secara nyata dan berulang itu bukan pilihan sampingan: karena pertumbuhan rohani, dalam desain Alkitab, secara struktural terikat pada relasi nyata dengan sesama orang percaya — sesuatu yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kepandaian teologis maupun kenyamanan konten digital.




