Dalam percakapan sehari-hari, kata “kasih”
atau “cinta” sering kali kehilangan daya magisnya karena digunakan secara
dangkal—kita mencintai pasangan kita, namun kita juga “mencintai” hobi atau
makanan favorit kita. Kata tersebut menjadi terlalu ringan untuk menampung
beban emosi dan komitmen manusia yang sesungguhnya. Namun, di dalam kedalaman
Alkitab Ibrani, terdapat satu kata unik yang memiliki bobot yang tidak mampu
dipikul oleh satu pun kata dalam bahasa Indonesia maupun Inggris: Khesed (atau Hesed).
Muncul lebih dari 240 kali, Khesed bukan
sekadar istilah teologis; ia adalah detak jantung dari karakter Tuhan. Memahami
kata ini bukan hanya tentang menambah kosakata spiritual, melainkan tentang
mengubah cara Anda memandang hubungan Anda dengan Sang Pencipta dan sesama di
tengah dunia yang sering kali terasa transaksional.
1. Lebih dari Sekadar Kata, Ini
adalah Lapisan Makna
Mengapa Khesed begitu
sulit diterjemahkan? Bahasa Ibrani memiliki jumlah kata yang jauh lebih sedikit
daripada bahasa modern, sehingga setiap katanya sering kali menyerap lapisan
makna yang sangat kaya tergantung pada konteksnya. Jika makna Khesed diibaratkan
sebagai sebuah lemari besar, ia menyimpan berbagai konsep dalam “laci-laci”
yang berbeda namun saling terhubung.
Secara etimologis, akar kata Khesed berasal
dari kata kerja yang berarti “membungkukkan kepala dalam kesantunan
kepada sesama.” Ini adalah detail yang krusial. Ini bukan sekadar rasa
kasihan (pity) dari pihak yang tinggi kepada yang rendah, melainkan
kasih yang dengan sengaja merendahkan diri demi sebuah kehormatan. Ia adalah
kerendahan hati yang diputuskan secara sadar.
Setidaknya ada empat lapisan makna
yang menyatu dalam Khesed:
·
Kasih
Setia (Loyal Love): Jenis
kasih yang menolak untuk menyerah saat hubungan menjadi sulit.
·
Kesetiaan
Perjanjian (Covenant Faithfulness): Kasih yang terikat secara sah pada sebuah janji.
·
Belas
Kasihan (Mercy): Memberikan
kebaikan kepada pihak yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya.
·
Kebaikan
Aktif (Active Kindness): Khesed bukanlah perasaan pasif; ia selalu
mewujud dalam tindakan nyata yang melampaui kewajiban.
Khesed adalah tenunan kesetiaan yang
tak terurai bahkan saat kita mengkhianati janji kita. Ia adalah kombinasi
antara kehangatan perasaan dan kekokohan komitmen hukum.
2. Proklamasi di Tengah Kekacauan
(Momen Eksodus 34)
Momen paling dramatis di mana Tuhan
mendefinisikan diri-Nya dengan kata ini terjadi di Gunung Sinai. Konteksnya
sangat menggetarkan: bangsa Israel baru saja melakukan pengkhianatan terbesar.
Saat tinta pada loh batu perjanjian bahkan belum kering, mereka sudah menyembah
anak lembu emas. Mereka berzina secara spiritual tepat di hadapan Sang
Mempelai.
Di tengah puing-puing pengkhianatan
inilah, Tuhan justru menyatakan jati diri-Nya yang terdalam. Ia tidak
menyatakan kuasa-Nya untuk menghukum, melainkan Khesed-Nya yang
melimpah.
“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan
pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia (Khesed) dan setia, yang
meneguhkan kasih setia-Nya (Khesed) kepada beribu-ribu orang, yang
mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa...” (Keluaran 34:6-7)
Tuhan memproklamirkan Khesed-Nya
bukan di masa “bulan madu,” melainkan dalam reruntuhan pasca-pengkhianatan. Ini
membuktikan bahwa Khesed adalah kata untuk musim yang hancur. Ia
bukan kasih untuk musim-musim yang baik saja, melainkan janji yang tetap
berdiri saat segalanya runtuh.
3. Karakter Sang Pelaku, Bukan
Kelayakan Sang Penerima
Keindahan Khesed terletak
pada arah sumbernya: ia sepenuhnya bergantung pada karakter si pelaku, bukan
kelayakan si penerima. Alkitab menunjukkan ini melalui kontras karakter Yakub
dan Rut.
Yakub adalah seorang penipu ulung yang menghabiskan hidupnya
dengan manipulasi. Namun, saat ia menyadari kesetiaan Tuhan yang tak
tergoyahkan selama puluhan tahun, ia berseru:”Aku tidak layak menerima
segala kasih setia (Khesed) yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini.” Yakub
benar; ia memang tidak layak. Namun, Khesed Tuhan tidak pernah
tentang kelayakan Yakub, melainkan tentang kesetiaan Tuhan pada janji-Nya
kepada Abraham.
Demikian pula dengan Rut.
Sebagai perempuan Moab, ia tidak memiliki kewajiban hukum untuk tetap setia
kepada mertuanya, Naomi, yang sudah bangkrut dan berduka. Komitmen Rut untuk
menyertai Naomi bukanlah sekadar sentimen romantis atau emosi sesaat, melainkan
sebuah sumpah perjanjian (covenant oath). Rut tidak memiliki
keuntungan materi apa pun; ia memberikan kasih karena itulah jati
dirinya. Khesed adalah tindakan seseorang yang memutuskan
untuk setia melampaui apa yang dituntut oleh kewajiban.
4. Mengubah Posisi, Meski Kondisi
Belum Berubah (Kisah Mefiboset)
Ilustrasi Khesed yang
paling menyentuh dalam sejarah kerajaan Israel adalah hubungan antara Raja Daud
dan Mefiboset. Alih-alih membasmi keturunan musuhnya (Saul), Daud justru
bertanya: ”Adakah orang yang masih tinggal dari keluarga Saul, supaya
aku menunjukkan kasih setia (Khesed) Allah kepadanya?”
Daud menemukan Mefiboset di Lo-debar,
sebuah nama yang secara harfiah berarti ”tidak ada padang rumput” atau
“kehampaan.” Mefiboset adalah seorang pangeran yang tinggal di tempat gersang,
lumpuh kedua kakinya, dan hidup dalam ketakutan. Ia merasa dirinya tak lebih
dari “anjing mati.” Namun, Daud menunjukkan Khesed melalui
tiga tindakan:
·
Mencari
(Seeks Out): Daud tidak
menunggu Mefiboset memohon; ia yang menginisiasi pencarian.
·
Memulihkan
(Restores): Daud
mengembalikan seluruh warisan tanah milik kakeknya tanpa syarat.
·
Mengangkat
(Elevates): Daud memberinya
tempat permanen di meja perjamuan raja, setara dengan putra raja sendiri.
Narasi ini ditutup dengan sebuah
kalimat yang sangat kuat: ”Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem,
sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya lumpuh.” (2
Samuel 9:13). Inilah inti dari Khesed: Kondisi fisik Mefiboset
tidak berubah, ia tetap lumpuh. Namun, posisinya berubah total. Sebab
ketika Anda duduk di meja raja, tidak ada orang yang melihat kaki Anda. Khesed memberikan
martabat yang menutupi segala kelemahan kita.
5. Reaksi Berantai dan Hati di Balik
Ritual
Khesed memiliki sifat menular yang mampu mengubah sejarah.
Dalam kisah Rut, kita melihat Boas menunjukkan Khesed yang
luar biasa. Mengapa? Karena Boas adalah putra dari Rahab, perempuan
Kanaan yang juga diselamatkan oleh Khesed Tuhan. Boas adalah
produk dari sebuah cerita anugerah, sehingga ia terdorong untuk meneruskan
rantai kasih tersebut kepada Rut. Dari rantai Khesed inilah
lahir Raja Daud, dan berabad-abad kemudian, Yesus Kristus.
Namun, Tuhan juga mengingatkan
bahwa Khesed tidak bisa digantikan oleh rutinitas agama.
Melalui nabi Hosea, Tuhan menegur umat-Nya yang rajin beribadah namun hatinya
dingin:
“Sebab Aku menyukai kasih setia (Khesed),
dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari
pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6)
Tuhan lebih menginginkan loyalitas
relasional daripada performa religius. Ritual tanpa Khesed hanyalah
cangkang kosong yang tidak memiliki makna di mata-Nya.
Kesimpulan: Yesus sebagai Khesed
yang Menjelma
Seluruh perjalanan kata Khesed dalam
Perjanjian Lama mencapai puncaknya pada pribadi Yesus Kristus. Di dalam Yesus,
kita bertemu dengan Tuhan yang meninggalkan takhta-Nya—membungkukkan kepala
dalam kesantunan surgawi—untuk mencari kita di “Lo-debar” dunia ini.
Yesus adalah Sang Penebus (Goel)
sejati yang membayar harga penuh untuk memulihkan apa yang tidak bisa kita
pulihkan sendiri. Ia tidak menunggu kita menjadi “layak” atau “sembuh” untuk
mengundang kita ke meja perjamuan-Nya. Di dalam Kristus, Khesed Tuhan
menjadi nyata: sebuah kasih yang aktif, mengejar, dan tak tergoyahkan oleh
kegagalan kita.
Di area mana dalam hidup Anda saat
ini, Anda merasa berada di tempat yang gersang dan merasa tidak berharga?
Realitas Khesed mengundang Anda untuk berhenti terpaku pada “kelumpuhan”
Anda dan mulai memandang pada kesetiaan Sang Raja.
Sebagaimana umat Israel kuno
menyanyikan Mazmur 136 sebagai refrain liturgis sebanyak 26 kali untuk
mengingatkan diri mereka bahwa kasih ini tidak akan pernah berakhir, mari kita
pegang janji yang sama:
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia
baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Khesed-Nya).”
(Mazmur 136:1)




