Laman

19 Februari 2026

Revolusi Terbalik: Mengapa 2.000 Tahun Lalu Yesus Memilih Para 'Nobodies' untuk Mengubah Dunia


1. Pendahuluan: Sebuah Paradoks di Atas Bukit

Di era modern yang terobsesi pada metrik pencapaian, narasi tentang kesuksesan hampir selalu bermuara pada satu pertanyaan: "Siapa yang menang?" Kita hidup dalam struktur piramida di mana status, pengaruh, dan akumulasi kekuasaan dianggap sebagai satu-satunya instrumen untuk membawa perubahan. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari kebisingan algoritma dan menengok ke sebuah lereng bukit di Galilea sekitar 2.000 tahun lalu, kita akan menemukan sebuah peristiwa yang membalikkan seluruh logika tersebut.
Khotbah di Bukit bukan sekadar teks etika agama yang statis; ia adalah sebuah manifesto subversif yang menghancurkan struktur kekuasaan duniawi. Di sana, sebuah tatanan dunia baru diproklamirkan—bukan melalui pedang Kekaisaran Romawi atau diplomasi elit Yerusalem, melainkan melalui sebuah revolusi batin yang sangat kontraintuitif. Yesus sedang menawarkan sebuah "anarki kasih" yang menantang kita untuk membayangkan kembali realitas dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda.
2. Panggung untuk Para "Nobodies" (Audiens yang Mengejutkan)
Yesus tidak menyampaikan pidato revolusinya di panggung-panggung bergengsi atau pusat intelektual masa itu. Sebaliknya, Ia memilih sebuah kerumunan yang oleh dunia dianggap sebagai "bukan siapa-siapa" (nobodies). Audiens aslinya adalah sekelompok ragtag group—orang-orang miskin, mereka yang fisiknya ringkih, serta rakyat jelata yang terhimpit oleh beban pajak berat dari sistem imperial yang korup.
Pilihan audiens ini adalah sebuah ejekan terhadap logika kekuasaan. Alih-alih mengumpulkan jenderal untuk memicu pemberontakan fisik, Yesus menyatakan bahwa pembaruan dunia justru dimulai dari mereka yang berada di titik nadir sosial.
"Yesus menyatakan bahwa sesuatu yang mengejutkan sedang dimulai bersama kelompok masyarakat kelas bawah ini. Mereka adalah titik awal (launch party) dari janji kuno untuk memperbarui seluruh dunia."
3. "Kerajaan Langit" adalah Realitas Di Sini dan Saat Ini
Salah satu miskonsepsi terbesar dalam sejarah spiritualitas adalah menganggap "surga" sebagai destinasi pasca-kematian yang jauh di awan. Namun, dalam sumber aslinya, Yesus menggunakan istilah "Kerajaan Langit" (Kingdom of the Skies) untuk menggambarkan sesuatu yang jauh lebih radikal. "Langit" di sini merujuk pada ruang yang melingkupi kita—atmosfer yang kita hirup hari ini juga.
Ini adalah klaim bahwa Tuhan sedang "mengambil alih" ruang di atas dan di antara kita sekarang juga. Kerajaan ini adalah jenis realitas baru di mana kemurahan hati, keadilan, dan kasih menjadi hukum tertinggi. Ini bukan tentang melarikan diri dari bumi, melainkan tentang menghadirkan realitas surgawi ke tengah-tengah dunia yang keras. Ini adalah subversi terhadap piramida kekuasaan Romawi; Yesus menyatakan bahwa pemerintahan sejati sedang hadir melalui orang-orang yang dianggap tidak berdaya.
4. Kekuatan di Dalam Ketidakberdayaan (Nilai yang Terbalik)
Inti dari revolusi ini adalah pembalikan nilai-nilai secara ekstrem. Yesus mendefinisikan ulang siapa yang sebenarnya "berbahagia" dan siapa yang memiliki kapasitas untuk memerintah dalam tatanan baru ini:
• Mereka yang Berduka: Bukan mereka yang tumpul hatinya, melainkan mereka yang jujur mengakui kehancuran dunia. Kesedihan mereka adalah pintu masuk bagi penghiburan ilahi yang transformatif.
• Para "Unimportant" (Yang Lembut Hati): Dalam logika dunia, yang kuatlah yang mewarisi tanah. Namun, Yesus menegaskan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kuasa politik inilah yang akan memerintah dunia melalui instrumen yang tidak lazim: kemurahan hati dan pengampunan.
• Pemerintahan Gaya Baru: Revolusi ini tidak mengejar dominasi, melainkan pelayanan. Kekuatan sejati ditemukan dalam kerendahan hati untuk mengakui ketergantungan penuh pada Allah.
5. Lapar akan Hubungan, Bukan Kekuasaan
Bagi Yesus, revolusi sejati tidak pernah tentang mengubah struktur luar tanpa mengubah karakter pelakunya. Ia mendefinisikan ulang "kebenaran" (righteousness) bukan sebagai ketaatan hukum yang kaku, melainkan sebagai kerinduan mendalam akan hubungan yang sehat antarmanusia, komunitas, batin, hingga skala antarbangsa.
Inilah poin yang membedakan gerakan Yesus dengan aktivisme modern yang sering kali gagal. Banyak gerakan sosial hanya mengubah siapa yang duduk di puncak piramida, namun tetap menggunakan cara-cara penindasan yang sama. Yesus menekankan "kesucian hati" karena Ia memahami bahwa tanpa transformasi batin, motif manusia selalu tercemar oleh kepentingan pribadi (mixed motives). Kedamaian sejati mustahil dicapai jika pelaku perdamaian tersebut masih menyimpan bibit kekuasaan di dalam hatinya.
6. Bahaya Menjadi Pembawa Damai (Panggilan Radikal)
Menjadi pembawa damai dalam revolusi ini bukanlah sikap pasif atau upaya mencari zona nyaman. Sebaliknya, ini adalah panggilan aktif untuk secara sengaja masuk ke dalam konflik orang lain untuk menciptakan jalan rekonsiliasi. Ini adalah jalan hidup yang berbahaya.
Mengapa berbahaya? Karena kehadiran pembawa damai mengganggu kenyamanan status quo yang korup. Yesus memperingatkan bahwa ada "harga mahal" berupa celaan dan penganiayaan. Dengan memilih jalan ini, pengikut Yesus sedang meneruskan legasi para nabi yang berdiri melawan kerajaan dunia demi menyuarakan kehendak Allah.
"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
7. Anda Adalah "Yerusalem Baru" (Garam dan Terang)
Klaim paling provokatif Yesus muncul saat Ia menyebut para nobodies ini sebagai "garam tanah" dan "terang dunia." Dalam konteks abad pertama, klaim ini adalah penghinaan langsung terhadap otoritas keagamaan di Yerusalem.
Yesus menyatakan bahwa kehadiran Allah tidak lagi eksklusif milik Bait Allah yang megah atau pusat kekuasaan lama. Sebaliknya, komunitas orang-orang biasa yang hatinya telah ditransformasi inilah yang menjadi "Kota di Atas Bukit"—sebuah Yerusalem Baru. Mereka bukan sekadar label moral, melainkan identitas politik-spiritual baru yang bertugas menampilkan bagaimana Kerajaan Allah bekerja kepada seluruh dunia melalui keadilan dan pelayanan, menggantikan pusat kekuasaan dunia yang lama.
Penutup: Langkah Kecil dalam Revolusi Hati
Khotbah di Bukit adalah undangan visioner untuk melakukan dekonstruksi total terhadap identitas kita. Ia memaksa kita untuk membayangkan kembali siapa Tuhan, siapa diri kita, dan bagaimana kita memperlakukan sesama manusia di tengah dunia yang penuh kekerasan.
Revolusi ini tidak dimulai dari podium kekuasaan, melainkan dari pengakuan akan kemiskinan spiritual kita. Ini adalah ajakan untuk meninggalkan obsesi terhadap kekuatan fisik dan beralih pada kekuatan karakter yang didasarkan pada kasih yang murni.
Pertanyaan Reflektif: Di dunia yang terobsesi pada puncak piramida, beranikah kita memilih jalan kerendahan hati untuk menjadi titik awal pemulihan bagi sesama dan bangsa-bangsa?

Kunjungi juga videonya di sini:

18 Februari 2026

Revolusi Hati: 5 Kebenaran Radikal dari Khotbah di Bukit yang Mengubah Dunia


Di tengah hiruk-pikuk pencarian manusia modern akan makna hidup dan keadilan, sebuah pidato kuno dari sebuah bukit di Galilea tetap bergema sebagai manifesto perubahan sosial dan spiritual yang paling radikal dalam sejarah. Khotbah di Bukit bukan sekadar kumpulan aturan moral yang santun atau nasihat etika yang usang; ia adalah sebuah "Konstitusi Kerajaan Allah" yang dirancang secara strategis untuk menjungkirbalikkan logika kekuasaan duniawi.
Bagi sang komunikator ulung, Yesus Kristus, khotbah ini bukan hanya penyampaian informasi, melainkan sebuah aksi komunikasi strategis untuk mentransformasi identitas pendengarnya. Dengan membalikkan nilai-nilai kemapanan, Yesus menawarkan sebuah jalan keluar bagi mereka yang lelah dengan struktur sosial yang menindas. Mari kita bedah lima kebenaran radikal dalam Khotbah di Bukit melalui lensa teologi kontemporer dan strategi komunikasi yang melatarbelakanginya.
1. Rekayasa Pedagogis: Yesus sebagai "Musa Baru"
Secara struktural, Injil Matius melakukan sebuah langkah "rebranding identitas" yang jenius bagi komunitas awal. Khotbah di Bukit (Matius 5–7) ditempatkan sebagai diskursus pertama dari lima blok pengajaran besar. Penomoran ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah strategi Typology Musa.
Dengan menyusun ajaran Yesus dalam lima bagian yang selalu diakhiri dengan formula "Setelah Yesus selesai menyampaikan segala perkataan itu...", Matius menyejajarkan Yesus dengan Musa yang memberikan lima kitab Taurat (Pentateukh). Yesus dihadirkan sebagai Pemberi Hukum yang Baru di atas gunung, sebuah metafora visual yang mengingatkan pada peristiwa Sinai. Strategi pedagogis ini menegaskan bahwa Yesus adalah Penafsir Taurat yang definitif, memberikan kontinuitas pada warisan Israel sekaligus menetapkan otoritas mesianik yang melampaui tradisi kuno.
2. Paradoks Ucapan Bahagia: Janji Eskatologis yang Menjungkirbalikkan Logika
Inti dari khotbah ini dimulai dengan Beatitudes atau "Ucapan Bahagia", yang berfungsi sebagai proklamasi anugerah sebelum adanya tuntutan hukum. Ini adalah sebuah "Paradoks Kudus". Yesus menyebut beruntung pada kondisi yang secara manusiawi dianggap menyedihkan: miskin, berdukacita, dan tertindas.
Berbeda dengan penekanan pada aspek ekonomi, Matius menggunakan istilah "miskin di hadapan Allah" (poor in spirit) untuk menekankan disposisi batin yang rendah hati dan ketergantungan penuh pada Tuhan. Pesan ini bukan sekadar hiburan moral, melainkan janji eskatologis—sebuah realitas masa depan yang menerobos ke masa kini.
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."
Kebenaran ini berakar pada nubuat Yesaya 61 dan janji Mazmur 37:11 mengenai mereka yang rendah hati yang akan "mewarisi bumi." Yesus sedang mengumumkan bahwa berkat Tuhan justru hadir di tengah penderitaan, sebuah strategi komunikasi yang memberikan harapan baru bagi mereka yang berada di pinggiran kekuasaan.
3. Politik Identitas: Indikatif "Garam dan Terang Dunia"
Dalam Matius 5:13-16, Yesus menggunakan metafora garam dan terang dengan cara yang sangat krusial secara linguistik. Ia tidak menggunakan bentuk imperatif ("Kamu harus menjadi"), melainkan bentuk indikatif ("Kamu adalah").
Pilihan kata ini menunjukkan bahwa identitas sebagai agen perubahan adalah sebuah pemberian (gift) yang muncul karena seseorang telah menerima anugerah Kerajaan Allah.
• Garam: Melambangkan fungsi pengawet moral untuk mencegah kebusukan masyarakat dan memberikan "rasa" hikmat.
• Terang: Melambangkan visibilitas perbuatan baik yang tidak boleh disembunyikan, seperti kota di atas gunung.
Menariknya, penggunaan kata "Dunia" (kosmos) dan "Bumi" (ge) menunjukkan sebuah niat strategis universal. Meskipun pelayanan historis Yesus terbatas pada Israel, diksi yang dipilihnya mengarahkan komunitas-Nya pada misi global. Identitas ini menuntut manifestasi melalui "perbuatan baik" agar dunia melihat karakter Allah, bukan untuk kemegahan diri sendiri.
4. Dikaiosyne yang Melampaui: Antitesis dan Otoritas Mesianik
Bagian paling provokatif dari khotbah ini adalah seri "Antitesis", di mana Yesus menggunakan formula otoritas yang unik untuk menuntut kebenaran (dikaiosyne) yang melampaui kesalehan formal para ahli Taurat.
"Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada orang zaman dahulu... Tetapi Aku berkata kepadamu..."
Dalam bagian ini, Yesus tidak membatalkan Taurat, melainkan melakukan plerosai (menggenapi/membawa ke makna terdalam). Ia meradikalisasi ketaatan dari lahiriah menjadi batiniah: kemarahan batin disetarakan dengan pembunuhan, dan nafsu mata disetarakan dengan perzinaan.
Puncak dari antitesis ini adalah perintah untuk mengasihi musuh, yang bertujuan agar manusia mencapai teleios—kesempurnaan atau keutuhan karakter yang mencerminkan Bapa di surga. Di tengah struktur ini, terdapat Doa Bapa Kami sebagai "pusat dari segala pusat" (heart of the sermon). Doa ini, yang merupakan adaptasi dari doa Yahudi kuno Qaddish, mengajarkan bahwa hubungan intim dengan Bapa harus berjalan beriringan dengan ketergantungan etis dan semangat pengampunan.
5. Aturan Emas: Formulasi Positif dalam Bingkai Inclusio
Sebagai kristalisasi dari seluruh etika Kerajaan Allah, Yesus memberikan "Aturan Emas" dalam Matius 7:12. Keunikan Yesus terletak pada penggunaan formulasi positif"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."
Ini adalah pergeseran radikal dari tradisi kuno lainnya—termasuk Didache, Rabbi Hillel, atau Kitab Tobit—yang umumnya menggunakan bentuk negatif ("Jangan lakukan..."). Formulasi positif Yesus menuntut tindakan kasih yang aktif, proaktif, dan tidak terbatas, bukan sekadar menahan diri dari kejahatan.
Secara literasi, ayat ini menciptakan sebuah inclusio atau "braket" dengan Matius 5:17. Jika Matius 5:17 menyatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi "Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi," maka Matius 7:12 menutup bagian utama tersebut dengan menyatakan bahwa Aturan Emas inilah isi dari "Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi." Semua ajaran di antara kedua ayat tersebut adalah "daging" dari hukum kasih yang baru.

Penutup: Katekese bagi Revolusi Hidup
Khotbah di Bukit bukan sekadar orasi inspiratif, melainkan sebuah manual katekese (instruksi) bagi komunitas ekklesia mula-mula, sebagaimana yang kemudian diadopsi dalam tradisi Didache. Ia menawarkan sebuah pilihan radikal antara "Dua Jalan": jalan sempit menuju kehidupan yang didasarkan pada hikmat spiritual Yesus, atau jalan lebar menuju kebinasaan.
Transformasi masyarakat yang ditawarkan Yesus dimulai dari revolusi hati—sebuah kebenaran yang menembus topeng hipokrisi dan menuntut integritas batin yang murni. Di dunia yang masih terbelah oleh kebencian dan formalitas yang hampa, "Kebenaran yang Melampaui" ini tetap menjadi tantangan intelektual dan spiritual yang provokatif. Mampukah kita membangun hidup di atas dasar batu yang kokoh ini, ataukah kita lebih memilih kenyamanan pasir yang mudah runtuh?



14 Februari 2026

Di Balik Badai Keheningan: Menemukan Makna Saat Keadilan Tak Lagi Masuk Akal - Pengantar Kitab Ayub

Pernahkah Anda merasa bahwa semesta sedang berutang penjelasan kepada Anda? Kita sering kali mengarungi hidup dengan sebuah kompas moral yang sederhana: jika kita menabur kebaikan, kita layak menuai berkat. Namun, ada saat-saat di mana kompas itu patah. Ketika tragedi menghantam tanpa undangan, logika "sebab-akibat" kita runtuh, meninggalkan sebuah lubang menganga yang terus meneriakkan pertanyaan: Mengapa?

Kitab Ayub bukanlah sekadar teks kuno yang berdebu di rak perpustakaan teologi. Ia adalah sebuah simfoni sastra yang disusun dengan presisi ilahi—sebuah laboratorium psikologis dan teologis yang tetap segar bagi setiap jiwa yang merasa dikhianati oleh rasa keadilan. Melalui kisah seorang pria yang kehilangan segalanya dalam sekejap, kita diajak menyadari bahwa jawaban yang kita cari mungkin bukan berupa penjelasan intelektual, melainkan sebuah perjumpaan yang mengubah segalanya.
Arsitektur "Sandwich": Menangkap Gejolak Batin Manusia
Kitab Ayub didesain dengan struktur sastra yang sangat terorganisir, sering disebut sebagai pola "Sandwich" (A-B-A). Di bagian luar, kita menemukan narasi prosa (Prolog dan Epilog) yang tampak tenang dan teratur. Namun, di bagian intinya, terdapat rangkaian puisi yang panjang dan bergejolak.
Struktur ini adalah refleksi dari pengalaman manusia itu sendiri. Prosa di awal menggambarkan "iman yang sederhana"—dunia yang tampak hitam-putih. Namun, ketika penderitaan datang, bahasa narasi yang kaku tak lagi cukup. Kita membutuhkan puisi—bahasa yang mampu menampung jeritan, kemarahan, dan pencarian makna yang rumit. Transisi ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak pernah bisa diselesaikan dengan rumus sederhana; ia harus dirasakan, diratapi, dan diperjuangkan dalam doa yang jujur.
Jebakan Doktrin Retribusi: Ketika Teologi Menjadi Senjata
Sebagian besar isi kitab ini adalah perdebatan sengit mengenai Doktrin Retribusi—keyakinan bahwa Tuhan selalu memberkati orang benar dan menghukum orang jahat secara matematis di dunia ini. Ketiga sahabat Ayub datang untuk membela kehormatan Tuhan, namun mereka justru terjebak dalam upaya menyederhanakan kedaulatan Ilahi ke dalam kotak teori yang sempit.
Ketiga sahabat ini mewakili tiga pilar otoritas yang sering kita gunakan untuk menghakimi sesama:
• Elifas (Sang Mistikus): Mendasarkan argumennya pada pengalaman pribadi dan penglihatan spiritual yang misterius. Ia memandang penderitaan sebagai disiplin untuk mengoreksi kesalahan kecil.
• Bildad (Sang Tradisionalis): Mengacu pada hikmat nenek moyang dan hukum alam yang kaku. Baginya, jika anak-anak Ayub mati, itu adalah bukti matematis atas dosa mereka.
• Zofar (Sang Dogmatis): Sahabat yang paling keras. Ia mengandalkan intuisi dogmatis bahwa Tuhan pasti tahu dosa rahasia Ayub. Ia bahkan mengklaim bahwa hukuman Ayub sebenarnya lebih ringan dari yang seharusnya.
Refleksi yang memilukan di sini adalah bahwa para sahabat ini akhirnya dinyatakan bersalah oleh Tuhan karena mereka telah "berbohong demi Tuhan." Mereka lebih peduli pada kebenaran sistem teologi mereka daripada kebenaran tentang karakter Tuhan. Pada akhirnya, logika manusia ini mencapai titik buntu; Zofar bahkan terbungkam dan tidak memberikan tanggapan ketiga, menandakan bahwa dogma manusia telah kehabisan kata-kata di hadapan misteri penderitaan yang tak berdosa.
Penderitaan sebagai "Megafon": Perspektif Segar dari Elihu
Di tengah kebuntuan tersebut, muncul Elihu, seorang tokoh muda yang menawarkan perspektif yang lebih dinamis. Ia menggeser fokus dari masa lalu (apa dosa yang telah dilakukan?) ke masa depan (apa yang sedang Tuhan kerjakan?).
Bagi Elihu, penderitaan tidak selalu bersifat retributif (hukuman), melainkan bisa bersifat pedagogis (edukatif). Ia menggunakan metafora penderitaan sebagai cara Allah "membuka telinga" manusia.
"Allah berbicara melalui rasa sakit di tempat tidur untuk mencegah manusia jatuh ke dalam kesombongan. Penderitaan berfungsi sebagai megafon ilahi yang membangunkan kita dari ketulian spiritual, memurnikan jiwa dari 'endapan kesombongan' yang tersembunyi."
Yang luar biasa, Elihu memperkenalkan konsep Mĕlîṣ atau Malaikat Penengah—seorang perantara yang bertindak sebagai pembela dan penunjuk jalan pertobatan bagi manusia di pengadilan surgawi. Ini adalah jembatan teologis yang indah, menunjukkan bahwa di tengah rasa sakit, ada tangan Ilahi yang sedang memandu kita kembali kepada cahaya kehidupan.
Tur Virtual Alam Semesta: Jawaban yang Melampaui Logika
Puncak dari narasi ini adalah ketika Tuhan akhirnya menjawab dari dalam badai. Namun, jawaban-Nya bukan berupa pembelaan legal atau penjelasan mengapa Ayub menderita. Sebaliknya, Tuhan membawa Ayub dalam sebuah "tur virtual" atas seluruh ciptaan-Nya.
Melalui lebih dari 70 pertanyaan retoris, Tuhan memamerkan keagungan-Nya—dari dasar samudra, rasi bintang Pleiades, hingga makhluk-makhluk dahsyat seperti Behemot dan Lewiatan. Makhluk-makhluk ini adalah simbol dari sisi dunia yang liar, berbahaya, dan kompleks; dunia yang "tidak aman" namun tetap berada dalam kendali-Nya.
Pesan Tuhan sangat jelas: jika Ayub bahkan tidak mampu memahami cara kerja alam semesta yang luas, bagaimana mungkin ia bisa menghakimi cara Tuhan menjalankan keadilan kosmik? Tuhan mendekonstruksi asumsi bahwa manusia adalah pusat dari segala sesuatu, namun di saat yang sama, Ia menunjukkan bahwa Ia mempedulikan setiap detail—bahkan proses kelahiran kambing gunung yang tak terlihat manusia.
Dari "Kabar Angin" Menjadi "Mata yang Memandang"
Transformasi terdalam Ayub terjadi justru sebelum kekayaannya dipulihkan. Masalah terbesar Ayub bukanlah kehilangan harta, melainkan perasaan bahwa ia telah ditinggalkan oleh Tuhan. Begitu Tuhan berbicara, rasa terasing itu sirna.
Ayub mengalami pergeseran radikal: dari hubungan yang bersifat yudisial (menuntut hak dan gugatan hukum) menjadi hubungan yang berdasarkan iman dan kepercayaan personal. Ia menyadari bahwa perjumpaan dengan Sang Pencipta jauh lebih memuaskan daripada penjelasan intelektual mana pun.
"Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (Ayub 42:5-6)

Menemukan Kedamaian di Tengah Ketidaktahuan
Kitab Ayub tidak pernah memberikan daftar alasan mengapa orang benar harus menderita. Sebaliknya, kitab ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih kokoh: kehadiran Sang Pencipta sebagai jawaban final. Ayub menemukan bahwa Allah dapat dipercaya untuk mengelola dunia-Nya, bahkan ketika motif-Nya tetap menjadi misteri yang tak terselami oleh nalar kita.
Kita diajak untuk berhenti mencoba memasukkan Tuhan ke dalam kotak logika kita yang sempit. Kekuatan sejati ditemukan bukan saat kita memahami seluruh rencana-Nya, melainkan saat kita mulai memercayai Karakter-Nya.
Jika penjelasan yang Anda tuntut tidak kunjung datang, apakah kehadiran-Nya cukup untuk membuat Anda tetap bertahan?

Youtube: