Laman

Tampilkan postingan dengan label Amin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amin. Tampilkan semua postingan

04 Agustus 2025

DOA BAPA KAMI: Kerajaan, Kuasa, Kemuliaan, Amin (VIII)

Kerajaan dan Kuasa

Doa Bapa Kami mencakup setiap aspek kehidupan seorang murid Kristus, sebagaimana musik mampu mengekspresikan seluruh spektrum emosi manusia. Bagian awal doa ini adalah pujian kepada Allah atas karya penebusan-Nya (sebutan "Bapa"), penyembahan kepada Allah yang tinggi dan agung (yang “di surga”), kerinduan agar nama-Nya dimuliakan, hasrat akan pemerintahan ilahi-Nya datang ke dunia, dan kesediaan untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak-Nya.

Bagian selanjutnya berisi permohonan, yang menunjukkan ketergantungan manusia pada Allah: kebutuhan jasmani (roti harian), pengampunan atas kegagalan kita dalam mengasihi, dan perlindungan dari kejatuhan rohani dan kuasa kegelapan. Akhir dari doa ini membawa kita kembali kepada pujian.

Meskipun kalimat penutup atau doksologi doa ini tidak ditemukan dalam sebagian manuskrip kuno, namun maknanya selaras dengan tradisi rohani Alkitab yang kokoh. Doksologi, yakni ungkapan pujian kepada Allah, merupakan bagian yang akrab dalam Kitab Suci. Pujian dan doa berjalan bersama—keduanya saling mendorong. Semakin kita memuji Allah, semakin kita terdorong untuk berdoa; dan semakin kita berdoa, semakin kita memiliki alasan untuk memuji-Nya.

Doa dan Pujian

Doa dan pujian bagaikan dua sayap burung: keduanya harus bekerja agar kita dapat terbang tinggi secara rohani. Tanpa salah satunya, kita hanya akan tertambat di bumi. Seorang Kristen yang tidak memuji seperti burung yang tidak terbang—hidupnya tidak sesuai dengan tujuannya. Frasa “yang di surga” di awal dan “di bumi seperti di surga” di tengah doa adalah momen pujian dalam struktur Doa Bapa Kami. Doksologi penutup, meskipun mungkin bukan berasal langsung dari Yesus, mencerminkan isi hati-Nya.

Kata penghubung “sebab” dalam kalimat penutup mengaitkan isi permohonan kita dengan karakter Allah: “Sebab Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan...” Ini menegaskan bahwa kita bisa dengan yakin datang kepada Allah dalam doa karena Dialah Raja yang Mahakuasa dan Pemurah, yang mampu mencukupi semua kebutuhan kita.

Gordon Fee menulis: “Tidak ada teologi yang sehat tanpa penyembahan. Pujian adalah respons alami dari hati yang telah melihat kemuliaan Kristus.”

Kerajaan dan Kuasa

Pernyataan bahwa Allah empunya Kerajaan dan kuasa adalah pengakuan iman akan kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan. “Kerajaan” berarti pemerintahan Allah yang menyeluruh (Mazmur 103:19), yang menjadi dasar permohonan agar Kerajaan kasih karunia dan keselamatan-Nya nyata dalam hidup kita. Iblis menolak pemerintahan Allah, tetapi orang percaya mengakui dan memuji-Nya. “Kuasa” menggambarkan tindakan nyata dari Kerajaan itu—kekuatan ilahi yang bukan hanya besar, tetapi penuh kasih dan tidak terkalahkan, bertujuan untuk menyatakan belas kasih dan kasih setia-Nya. Mazmur 47, 93, 97, dan 145 menjelaskan keagungan kuasa dan pemerintahan Allah dengan indah.

Kemuliaan

Dalam Perjanjian Baru, “kemuliaan” berbicara tentang kemegahan Allah yang tampak dan tentang tanggapan pujian dari ciptaan-Nya. Kita memuliakan Allah karena berkat-Nya, dan pujian itu mencerminkan pekerjaan-Nya yang sedang membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus (2 Korintus 3:18). Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Allah pernah dinyatakan sebagai cahaya shekinah yang memenuhi Kemah Suci dan Bait Allah, namun kemuliaan-Nya yang terdalam adalah sifat kasih dan keadilan-Nya, seperti yang dinyatakan kepada Musa (Keluaran 33:18–34:7). Dalam Yesus, kemuliaan itu berinkarnasi—tidak dalam bentuk cahaya, tetapi dalam wujud kasih yang penuh anugerah dan kebenaran (Yohanes 1:14). Kini, kita melihat kemuliaan itu dalam Injil Yesus Kristus (2 Korintus 4:6).

Melalui doksologi ini, kita menyatakan bahwa Allah—sang Pencipta dan Penebus—selalu layak dipuji karena karya-karya-Nya yang mulia, terutama kasih-Nya. Berbeda dengan orang berdosa yang haus kemuliaan diri, orang percaya sadar bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah pemberian Allah, dan hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Ukuran kesehatan rohani kita adalah seberapa dalam kita terganggu jika Allah tidak dimuliakan, dibandingkan jika kita sendiri tidak dipuji.

Amin

Kata “Amin” berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “benar,” “teguh,” atau “pasti.” Ini bukan sekadar penutup formal, melainkan pernyataan iman yang penuh kesungguhan: “Aku mengamini seluruh isi doa ini.” Dalam Alkitab, kata ini sering dipakai untuk mengafirmasi doa, janji, atau perintah Allah (2 Korintus 1:20). Mengucapkan “amin” adalah menyatukan hati kita dengan isi doa dalam sikap, keinginan, dan kerinduan.


Refleksi Pribadi: Apakah Doa Bapa Kami Benar-Benar Hidup di Hatimu?

  • Apakah engkau percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan mengakui Allah sebagai Bapamu?
  • Apakah engkau rindu nama Allah dimuliakan lebih dari nama dirimu?
  • Apakah engkau sungguh menantikan pemerintahan Allah dinyatakan dalam hidupmu dan sekitarmu?
  • Apakah engkau rela bekerja dan berkorban demi perluasan Kerajaan Allah?
  • Apakah engkau tunduk kepada kehendak-Nya meski tidak selalu sesuai keinginanmu?
  • Apakah engkau bergantung pada Allah dalam kebutuhan jasmani dan rohani?
  • Apakah engkau melepaskan dendam dan memilih mengampuni?
  • Apakah engkau berjaga dan bersandar pada Tuhan untuk menang atas pencobaan?
  • Apakah doa ini benar-benar berasal dari hatimu, bukan sekadar rutinitas?