Doa Bapa Kami mencakup setiap aspek kehidupan
seorang murid Kristus, sebagaimana musik mampu mengekspresikan seluruh spektrum
emosi manusia. Bagian awal doa ini adalah pujian kepada Allah atas karya
penebusan-Nya (sebutan "Bapa"), penyembahan kepada Allah yang tinggi
dan agung (yang “di surga”), kerinduan agar nama-Nya dimuliakan, hasrat akan
pemerintahan ilahi-Nya datang ke dunia, dan kesediaan untuk tunduk sepenuhnya
pada kehendak-Nya.
Bagian selanjutnya berisi permohonan, yang
menunjukkan ketergantungan manusia pada Allah: kebutuhan jasmani (roti harian),
pengampunan atas kegagalan kita dalam mengasihi, dan perlindungan dari
kejatuhan rohani dan kuasa kegelapan. Akhir dari doa ini membawa kita kembali
kepada pujian.
Meskipun kalimat penutup atau doksologi doa
ini tidak ditemukan dalam sebagian manuskrip kuno, namun maknanya selaras
dengan tradisi rohani Alkitab yang kokoh. Doksologi, yakni ungkapan pujian
kepada Allah, merupakan bagian yang akrab dalam Kitab Suci. Pujian dan doa
berjalan bersama—keduanya saling mendorong. Semakin kita memuji Allah, semakin
kita terdorong untuk berdoa; dan semakin kita berdoa, semakin kita memiliki
alasan untuk memuji-Nya.
Doa dan
Pujian
Doa dan pujian bagaikan dua sayap burung:
keduanya harus bekerja agar kita dapat terbang tinggi secara rohani. Tanpa
salah satunya, kita hanya akan tertambat di bumi. Seorang Kristen yang tidak
memuji seperti burung yang tidak terbang—hidupnya tidak sesuai dengan
tujuannya. Frasa “yang di surga” di awal dan “di bumi seperti di surga” di
tengah doa adalah momen pujian dalam struktur Doa Bapa Kami. Doksologi penutup,
meskipun mungkin bukan berasal langsung dari Yesus, mencerminkan isi hati-Nya.
Kata penghubung “sebab” dalam kalimat penutup mengaitkan isi permohonan kita
dengan karakter Allah: “Sebab Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan
kemuliaan...” Ini menegaskan bahwa kita bisa dengan yakin datang kepada Allah
dalam doa karena Dialah Raja yang Mahakuasa dan Pemurah, yang mampu mencukupi
semua kebutuhan kita.
Gordon Fee menulis: “Tidak ada teologi yang sehat tanpa penyembahan.
Pujian adalah respons alami dari hati yang telah melihat kemuliaan Kristus.”
Kerajaan dan Kuasa
Pernyataan bahwa Allah empunya Kerajaan dan
kuasa adalah pengakuan iman akan kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan.
“Kerajaan” berarti pemerintahan Allah yang menyeluruh (Mazmur 103:19), yang
menjadi dasar permohonan agar Kerajaan kasih karunia dan keselamatan-Nya nyata
dalam hidup kita. Iblis menolak pemerintahan Allah, tetapi orang percaya
mengakui dan memuji-Nya. “Kuasa” menggambarkan tindakan nyata dari Kerajaan
itu—kekuatan ilahi yang bukan hanya besar, tetapi penuh kasih dan tidak
terkalahkan, bertujuan untuk menyatakan belas kasih dan kasih setia-Nya. Mazmur
47, 93, 97, dan 145 menjelaskan keagungan kuasa dan pemerintahan Allah dengan
indah.
Kemuliaan
Dalam Perjanjian Baru, “kemuliaan” berbicara
tentang kemegahan Allah yang tampak dan tentang tanggapan pujian dari
ciptaan-Nya. Kita memuliakan Allah karena berkat-Nya, dan pujian itu
mencerminkan pekerjaan-Nya yang sedang membentuk kita menjadi serupa dengan
Kristus (2 Korintus 3:18). Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Allah pernah
dinyatakan sebagai cahaya shekinah yang memenuhi Kemah Suci dan Bait Allah,
namun kemuliaan-Nya yang terdalam adalah sifat kasih dan keadilan-Nya, seperti
yang dinyatakan kepada Musa (Keluaran 33:18–34:7). Dalam Yesus, kemuliaan itu
berinkarnasi—tidak dalam bentuk cahaya, tetapi dalam wujud kasih yang penuh
anugerah dan kebenaran (Yohanes 1:14). Kini, kita melihat kemuliaan itu dalam Injil
Yesus Kristus (2 Korintus 4:6).
Melalui doksologi ini, kita menyatakan bahwa
Allah—sang Pencipta dan Penebus—selalu layak dipuji karena karya-karya-Nya yang
mulia, terutama kasih-Nya. Berbeda dengan orang berdosa yang haus kemuliaan
diri, orang percaya sadar bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah pemberian
Allah, dan hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Ukuran kesehatan rohani kita
adalah seberapa dalam kita terganggu jika Allah tidak dimuliakan, dibandingkan
jika kita sendiri tidak dipuji.
Amin
Kata “Amin” berasal dari bahasa Ibrani yang
berarti “benar,” “teguh,” atau “pasti.” Ini bukan sekadar penutup formal,
melainkan pernyataan iman yang penuh kesungguhan: “Aku mengamini seluruh isi
doa ini.” Dalam Alkitab, kata ini sering dipakai untuk mengafirmasi doa, janji,
atau perintah Allah (2 Korintus 1:20). Mengucapkan “amin” adalah menyatukan
hati kita dengan isi doa dalam sikap, keinginan, dan kerinduan.
Refleksi
Pribadi: Apakah Doa Bapa Kami Benar-Benar Hidup di Hatimu?
- Apakah engkau percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat
dan mengakui Allah sebagai Bapamu?
- Apakah engkau rindu nama Allah dimuliakan lebih dari
nama dirimu?
- Apakah engkau sungguh menantikan pemerintahan Allah
dinyatakan dalam hidupmu dan sekitarmu?
- Apakah engkau rela bekerja dan berkorban demi perluasan
Kerajaan Allah?
- Apakah engkau tunduk kepada kehendak-Nya meski tidak
selalu sesuai keinginanmu?
- Apakah engkau bergantung pada Allah dalam kebutuhan
jasmani dan rohani?
- Apakah engkau melepaskan dendam dan memilih mengampuni?
- Apakah engkau berjaga dan bersandar pada Tuhan untuk
menang atas pencobaan?
- Apakah doa ini benar-benar berasal dari hatimu, bukan
sekadar rutinitas?