Laman

Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan

26 April 2026

Khesed: Satu Kata Ibrani yang Mengubah Segalanya tentang Cara Anda Memandang Kasih

 


 

Dalam percakapan sehari-hari, kata “kasih” atau “cinta” sering kali kehilangan daya magisnya karena digunakan secara dangkal—kita mencintai pasangan kita, namun kita juga “mencintai” hobi atau makanan favorit kita. Kata tersebut menjadi terlalu ringan untuk menampung beban emosi dan komitmen manusia yang sesungguhnya. Namun, di dalam kedalaman Alkitab Ibrani, terdapat satu kata unik yang memiliki bobot yang tidak mampu dipikul oleh satu pun kata dalam bahasa Indonesia maupun Inggris: Khesed (atau Hesed).

Muncul lebih dari 240 kali, Khesed bukan sekadar istilah teologis; ia adalah detak jantung dari karakter Tuhan. Memahami kata ini bukan hanya tentang menambah kosakata spiritual, melainkan tentang mengubah cara Anda memandang hubungan Anda dengan Sang Pencipta dan sesama di tengah dunia yang sering kali terasa transaksional.

 

1. Lebih dari Sekadar Kata, Ini adalah Lapisan Makna

Mengapa Khesed begitu sulit diterjemahkan? Bahasa Ibrani memiliki jumlah kata yang jauh lebih sedikit daripada bahasa modern, sehingga setiap katanya sering kali menyerap lapisan makna yang sangat kaya tergantung pada konteksnya. Jika makna Khesed diibaratkan sebagai sebuah lemari besar, ia menyimpan berbagai konsep dalam “laci-laci” yang berbeda namun saling terhubung.

Secara etimologis, akar kata Khesed berasal dari kata kerja yang berarti “membungkukkan kepala dalam kesantunan kepada sesama.” Ini adalah detail yang krusial. Ini bukan sekadar rasa kasihan (pity) dari pihak yang tinggi kepada yang rendah, melainkan kasih yang dengan sengaja merendahkan diri demi sebuah kehormatan. Ia adalah kerendahan hati yang diputuskan secara sadar.

Setidaknya ada empat lapisan makna yang menyatu dalam Khesed:

·      Kasih Setia (Loyal Love): Jenis kasih yang menolak untuk menyerah saat hubungan menjadi sulit.

·      Kesetiaan Perjanjian (Covenant Faithfulness): Kasih yang terikat secara sah pada sebuah janji.

·      Belas Kasihan (Mercy): Memberikan kebaikan kepada pihak yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya.

·      Kebaikan Aktif (Active Kindness): Khesed bukanlah perasaan pasif; ia selalu mewujud dalam tindakan nyata yang melampaui kewajiban.

Khesed adalah tenunan kesetiaan yang tak terurai bahkan saat kita mengkhianati janji kita. Ia adalah kombinasi antara kehangatan perasaan dan kekokohan komitmen hukum.

 

2. Proklamasi di Tengah Kekacauan (Momen Eksodus 34)

Momen paling dramatis di mana Tuhan mendefinisikan diri-Nya dengan kata ini terjadi di Gunung Sinai. Konteksnya sangat menggetarkan: bangsa Israel baru saja melakukan pengkhianatan terbesar. Saat tinta pada loh batu perjanjian bahkan belum kering, mereka sudah menyembah anak lembu emas. Mereka berzina secara spiritual tepat di hadapan Sang Mempelai.

Di tengah puing-puing pengkhianatan inilah, Tuhan justru menyatakan jati diri-Nya yang terdalam. Ia tidak menyatakan kuasa-Nya untuk menghukum, melainkan Khesed-Nya yang melimpah.

“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia (Khesed) dan setia, yang meneguhkan kasih setia-Nya (Khesed) kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa...” (Keluaran 34:6-7)

Tuhan memproklamirkan Khesed-Nya bukan di masa “bulan madu,” melainkan dalam reruntuhan pasca-pengkhianatan. Ini membuktikan bahwa Khesed adalah kata untuk musim yang hancur. Ia bukan kasih untuk musim-musim yang baik saja, melainkan janji yang tetap berdiri saat segalanya runtuh.

 

3. Karakter Sang Pelaku, Bukan Kelayakan Sang Penerima

Keindahan Khesed terletak pada arah sumbernya: ia sepenuhnya bergantung pada karakter si pelaku, bukan kelayakan si penerima. Alkitab menunjukkan ini melalui kontras karakter Yakub dan Rut.

Yakub adalah seorang penipu ulung yang menghabiskan hidupnya dengan manipulasi. Namun, saat ia menyadari kesetiaan Tuhan yang tak tergoyahkan selama puluhan tahun, ia berseru:”Aku tidak layak menerima segala kasih setia (Khesed) yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini.” Yakub benar; ia memang tidak layak. Namun, Khesed Tuhan tidak pernah tentang kelayakan Yakub, melainkan tentang kesetiaan Tuhan pada janji-Nya kepada Abraham.

Demikian pula dengan Rut. Sebagai perempuan Moab, ia tidak memiliki kewajiban hukum untuk tetap setia kepada mertuanya, Naomi, yang sudah bangkrut dan berduka. Komitmen Rut untuk menyertai Naomi bukanlah sekadar sentimen romantis atau emosi sesaat, melainkan sebuah sumpah perjanjian (covenant oath). Rut tidak memiliki keuntungan materi apa pun; ia memberikan kasih karena itulah jati dirinya. Khesed adalah tindakan seseorang yang memutuskan untuk setia melampaui apa yang dituntut oleh kewajiban.

 

4. Mengubah Posisi, Meski Kondisi Belum Berubah (Kisah Mefiboset)

Ilustrasi Khesed yang paling menyentuh dalam sejarah kerajaan Israel adalah hubungan antara Raja Daud dan Mefiboset. Alih-alih membasmi keturunan musuhnya (Saul), Daud justru bertanya: ”Adakah orang yang masih tinggal dari keluarga Saul, supaya aku menunjukkan kasih setia (Khesed) Allah kepadanya?”

Daud menemukan Mefiboset di Lo-debar, sebuah nama yang secara harfiah berarti ”tidak ada padang rumput” atau “kehampaan.” Mefiboset adalah seorang pangeran yang tinggal di tempat gersang, lumpuh kedua kakinya, dan hidup dalam ketakutan. Ia merasa dirinya tak lebih dari “anjing mati.” Namun, Daud menunjukkan Khesed melalui tiga tindakan:

·      Mencari (Seeks Out): Daud tidak menunggu Mefiboset memohon; ia yang menginisiasi pencarian.

·      Memulihkan (Restores): Daud mengembalikan seluruh warisan tanah milik kakeknya tanpa syarat.

·      Mengangkat (Elevates): Daud memberinya tempat permanen di meja perjamuan raja, setara dengan putra raja sendiri.

Narasi ini ditutup dengan sebuah kalimat yang sangat kuat: ”Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya lumpuh.” (2 Samuel 9:13). Inilah inti dari Khesed: Kondisi fisik Mefiboset tidak berubah, ia tetap lumpuh. Namun, posisinya berubah total. Sebab ketika Anda duduk di meja raja, tidak ada orang yang melihat kaki Anda. Khesed memberikan martabat yang menutupi segala kelemahan kita.

 

5. Reaksi Berantai dan Hati di Balik Ritual

Khesed memiliki sifat menular yang mampu mengubah sejarah. Dalam kisah Rut, kita melihat Boas menunjukkan Khesed yang luar biasa. Mengapa? Karena Boas adalah putra dari Rahab, perempuan Kanaan yang juga diselamatkan oleh Khesed Tuhan. Boas adalah produk dari sebuah cerita anugerah, sehingga ia terdorong untuk meneruskan rantai kasih tersebut kepada Rut. Dari rantai Khesed inilah lahir Raja Daud, dan berabad-abad kemudian, Yesus Kristus.

Namun, Tuhan juga mengingatkan bahwa Khesed tidak bisa digantikan oleh rutinitas agama. Melalui nabi Hosea, Tuhan menegur umat-Nya yang rajin beribadah namun hatinya dingin:

“Sebab Aku menyukai kasih setia (Khesed), dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6)

Tuhan lebih menginginkan loyalitas relasional daripada performa religius. Ritual tanpa Khesed hanyalah cangkang kosong yang tidak memiliki makna di mata-Nya.

 

Kesimpulan: Yesus sebagai Khesed yang Menjelma

Seluruh perjalanan kata Khesed dalam Perjanjian Lama mencapai puncaknya pada pribadi Yesus Kristus. Di dalam Yesus, kita bertemu dengan Tuhan yang meninggalkan takhta-Nya—membungkukkan kepala dalam kesantunan surgawi—untuk mencari kita di “Lo-debar” dunia ini.

Yesus adalah Sang Penebus (Goel) sejati yang membayar harga penuh untuk memulihkan apa yang tidak bisa kita pulihkan sendiri. Ia tidak menunggu kita menjadi “layak” atau “sembuh” untuk mengundang kita ke meja perjamuan-Nya. Di dalam Kristus, Khesed Tuhan menjadi nyata: sebuah kasih yang aktif, mengejar, dan tak tergoyahkan oleh kegagalan kita.

Di area mana dalam hidup Anda saat ini, Anda merasa berada di tempat yang gersang dan merasa tidak berharga? Realitas Khesed mengundang Anda untuk berhenti terpaku pada “kelumpuhan” Anda dan mulai memandang pada kesetiaan Sang Raja.

 

Sebagaimana umat Israel kuno menyanyikan Mazmur 136 sebagai refrain liturgis sebanyak 26 kali untuk mengingatkan diri mereka bahwa kasih ini tidak akan pernah berakhir, mari kita pegang janji yang sama:

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Khesed-Nya).” (Mazmur 136:1)


Video ringkasan: Arti Khesed dalam Alkitab: Rahasia Kasih Setia Tuhan yang Tak Pernah Berakhir

 

25 Februari 2026

7 Revolusi Hati dalam Standar Kebenaran Yesus yang Mengubah Paradigma Moralitas

Banyak dari kita hari ini terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai “hustle culture spiritual”—sebuah kelelahan batin akibat upaya tanpa henti untuk memenuhi daftar panjang aturan moral agar dianggap sebagai orang baik. Kita sering memandang agama sebagai kurasi perilaku luar, sebuah arsitektur legalistik yang justru sering kali terasa menyesakkan. Namun, dua ribu tahun lalu, dalam sebuah manifesto radikal yang dikenal sebagai Khotbah di Bukit, Yesus melakukan dekonstruksi total terhadap struktur moral tersebut.

Ia tidak menawarkan sekadar perbaikan sistem, melainkan sebuah revolusi paradigma. Yesus memperkenalkan konsep kebenaran yang tidak lagi diukur dari seberapa ketat kita mematuhi hukum formal, melainkan dari integritas batin yang utuh. Mari kita bedah tujuh pergeseran mendalam yang ditawarkan Yesus—sebuah jalan hidup yang, meski menuntut segalanya, justru menawarkan kemerdekaan sejati.

1. Dari Ketaatan Lahiriah ke Disposisi Batin yang Utuh

Dalam pengajaran Yesus, istilah kebenaran (dikaiosyne) mengalami transformasi makna. Menjadi orang benar bukan lagi soal pencapaian moral yang bisa dipamerkan, melainkan tentang kualitas batin seseorang yang secara konsisten bertindak benar di hadapan Allah dan sesama.

Yesus menegaskan bahwa tindakan lahiriah hanyalah puncak gunung es dari apa yang ada di dalam hati. Seseorang bisa saja terlihat saleh karena tidak melakukan kejahatan fisik, namun integritas sejati menuntut pemeriksaan terhadap niat yang paling dalam. Melalui rangkaian “Antitesis”—studi kasus tentang amarah, perzinaan, hingga sumpah—Yesus memindahkan medan tempur moralitas dari tangan menuju hati.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.” (Matius 5:21-22)

2. “Plerosai”: Membawa Kisah Menuju Klimaksnya

Sering muncul kesalahpahaman bahwa Yesus datang untuk menghapuskan hukum kuno (Taurat). Sebaliknya, Ia menggunakan istilah plerosai—menggenapi. Menggenapi di sini bukan sekadar “melakukan perintah,” melainkan “mengisi hingga penuh” atau membawa seluruh narasi sejarah keselamatan menuju sasarannya yang semula.

Yesus bertindak sebagai penafsir definitif yang menyingkapkan kebijaksanaan Allah yang terlupakan di balik tumpukan aturan teknis. Ia tidak sedang merombak arsitektur moral Tuhan, melainkan sedang melanjutkan kisah tersebut menuju tujuannya yang sejati: pemulihan hubungan manusia dengan Penciptanya.

3. Revolusi Relasional: Melampaui “Lex Talionis”

Salah satu poin paling provokatif dalam manifesto Yesus adalah dekonstruksi terhadap Lex Talionis atau hukum pembalasan (“mata ganti mata”). Aturan ini awalnya dibuat untuk membatasi dendam, namun Yesus membawanya lebih jauh menuju pengorbanan diri dan kerelaan membantu tanpa menuntut hak pribadi.

Ini adalah pergeseran dari etika “hak saya” menjadi etika “kasih karunia.” Dengan menantang praktik pembalasan, Yesus sedang membentuk komunitas yang didasarkan pada pengampunan dan kerelaan untuk menanggung beban orang lain, sebuah gaya hidup kontra-budaya yang mematahkan rantai kekerasan dan egoisme.

4. Prioritas pada “Hal yang Terpenting dalam Taurat”

Yesus memberikan kritik tajam terhadap elit keagamaan yang terjebak dalam “kebenaran kuantitas”—mereka yang sangat teliti dalam hal-hal mikro seperti persepuluhan rempah-rempah (selasih, adas manis, dan jintan), namun mengabaikan substansi iman.

Dalam standar Kerajaan-Nya, Yesus menekankan apa yang disebutnya sebagai “hal-hal yang terpenting dalam Taurat.”

·      Fokus Legalistik: Menjaga jarak dari “orang berdosa” demi kemurnian ritual dan terobsesi pada detail teknis hukum lisan.

·      Fokus Yesus: Memprioritaskan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan (mercy over sacrifice).

·      Akar Kenabian: Yesus menghidupkan kembali pesan Nabi Hosea 6:6, bahwa Allah lebih menyukai kasih setia daripada sekadar kurban sembelihan ritualistik.

5. “Teleios”: Kesempurnaan sebagai Keutuhan Kasih

Panggilan untuk menjadi “sempurna” (teleios) sering kali disalahpahami sebagai tuntutan untuk menjadi “robot moral” tanpa cacat. Namun, dalam konteks aslinya, teleios merujuk pada keutuhan moral, kematangan, dan integritas yang tidak terbagi.

Puncak dari kesempurnaan ini adalah kasih yang inklusif dan tidak terbatas. Menjadi sempurna berarti meneladani karakter Bapa di Surga yang memberikan “hujan dan matahari” baik kepada orang baik maupun orang jahat. Kebenaran sejati dibuktikan ketika kita mampu mengasihi musuh, melampaui etika balas budi yang biasa dilakukan dunia.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:44-45)

6. Spiritualitas “Tempat Tersembunyi” vs. Narsisme Publik

Yesus memberikan peringatan keras terhadap “kesalehan panggung”—tindakan memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa yang dilakukan demi mendapatkan tepuk tangan manusia. Ia menyebut mereka yang melakukan ini sebagai “munafik” (hypokrites), aktor yang mengenakan topeng kesalehan.

Kebenaran yang transformatif justru menemukan kekuatannya saat dilakukan “di tempat tersembunyi” di hadapan Bapa. Hal ini menjaga hubungan kita dengan Allah tetap murni dan melindungi kita dari godaan untuk menjadikan iman sebagai alat validasi sosial. Hubungan yang tulus tidak membutuhkan panggung; ia tumbuh dalam keheningan kejujuran batin.

7. Komunitas “Kota di Atas Bukit” sebagai Saksi Dunia

Revolusi hati ini tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian secara privat. Yesus sedang membentuk sebuah komunitas baru (Ekklesia)—sebuah “Kota di Atas Bukit” yang menjadi cahaya bagi dunia.

Komunitas ini adalah ruang sejarah di mana kebenaran Kerajaan Allah dipraktikkan secara nyata. Di dalamnya, orang miskin, yang terpinggirkan, bahkan mereka yang dianggap “orang berdosa” oleh standar agama saat itu, dirangkul dalam sebuah keluarga baru yang didasarkan pada kasih dan rasa hormat yang tulus. Ini adalah masyarakat alternatif yang menunjukkan kepada dunia bagaimana rasanya hidup di bawah pemerintahan Allah yang penuh berkat.

Standar yang Yesus tawarkan mungkin terasa jauh lebih tinggi daripada sekadar aturan legalistik, namun di sinilah letak paradoksnya: standar ini justru membebaskan. Yesus menyebutnya sebagai “kuk yang ringan” karena Ia tidak lagi menindih kita dengan rincian hukum yang menyesakkan, melainkan mengundang kita ke dalam cara hidup yang didorong oleh anugerah.

Kebenaran ini bukan tentang seberapa keras kita berusaha memoles penampilan luar agar terlihat religius. Ini tentang pemulihan hubungan yang rusak dan pembentukan hati yang utuh.

Sebuah Refleksi Akhir: Jika hari ini topeng kesalehan publik Anda dilepaskan dan semua daftar aturan moral dunia ini menghilang, apakah masih ada kerajaan kasih yang tersisa di dalam hati Anda, ataukah hanya ada kekosongan dari sebuah daftar aturan yang kering?

 

Video ringkasan:

22 Februari 2016

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI (Lukas 10:25-37)


     Pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang ahli Taurat yang dikisahkan dalam Lukas 10:25-37 membawa sang ahli Taurat dan para murid Tuhan Yesus masuk dalam sebuah perenungan yang dalam. Dalam pertemuan itu, sang Ahli Taurat mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuhan Yesus. “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan. Mungkin karena tujuan awalnya yang salah (yaitu untuk mencobai Tuhan Yesus), sang Ahli Taurat menanyakan pertanyaan yang seharusnya dapat ia jawab sendiri berdasarkan kitab Taurat yang telah ia kuasai. 

     Tuhan Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan balik bertanya kepada sang Ahli Taurat. “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Dan terbukti sang Ahli Taurat pun dapat menjawab dengan benar dengan mengutip dari kitab Ulangan 6:4 dan Imamat 19:18. Tuhan Yesus menjawab dengan mengatakan “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tidak berhenti disitu, sang Ahli Taurat melanjutkan pertanyaannya dengan kembali bertanya ”Siapakah sesamaku manusia?”  Bagi kita yang secara umum mengerti pengajaran Tuhan Yesus mengenai kasih, pertanyan tersebut terlihat lucu. Namun saat kita pahami latar belakang orang Yahudi dan kehidupan agamawi mereka, kita akan mengerti alasan kenapa ia bertanya demikian.

     Dalam masyarakat Yahudi, terdapat semacam "lingkaran-lingkaran" kelompok masyarakat yang berlaku. Lingkar terdalam dianggap paling suci dan terhormat, sedangkan lingkar terluar dianggap paling berdosa dan kotor. Imam dan kaum Lewi adalah pemuka agama yang sangat dihormati di kalangan Yahudi. Orang Samaria dan bangsa kafir (gentiles – ingg.) adalah kelompok orang yang sangat dibenci oleh orang Yahudi. Jadi bagi orang Yahudi, “sesama manusia” adalah sesama bangsa Yahudi saja.

     Berdasarkan pandangan tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan kepada Ahli Taurat ini arti mengasihi sesama manusia. Tuhan Yesus menggunakan cerita “Orang Samaria Yang Baik Hati” untuk menjelaskan pemahaman yang benar tentang ungkapan “Sesama Manusia.”

     Dalam kisah Orang Samaria yang baik ini ada 3 kelompok orang yang menonjol. Kelompok tersebut adalah para perampok, Imam dan Lewi, serta orang Samaria. Dikisahkan ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Di tengah jalan ia dirampok dan dihajar perampoh hingga sekarat dan hampir mati kemudian ditinggalkan tergeletak di pinggir jalan. Beberapa waktu kemudian ada Imam yang sedang dalam perjalanan turun dari Yerusalem. Saat sang Imam melihat orang yang terluka itu, ia berjalan menjauh dan meninggalkannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang Lewi yang beberawa waktu kemudian juga melewati tempat itu. Ia berjalan menjauh dan tidak menolong orang yang terluka tersebut. Dan kemudian lewatlah pula seorang Samaria. Melihat ada orang yang terluka, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan kemudian mendekatinya untuk menolongnya. Ia meminyaki luka-luka orang tersebut, menyiramnya dengan anggur untuk menghindari infeksi, kemudian menaikkan orang tersebut ke atas keledai tunggangannya. Ia membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan dan merawatnya disana. Saat ia harus melanjutkan perjalanan, ia membayar pemilik penginapan untuk meneruskan proses perawatan tersebut sampai ia kembali lagi. 

     Mari kita pelajari kembali tiga kelompok orang yang digambarkan dengan menonjol dalam kisah orang Samaria yang baik hati tersebut:

     1. Perampok
     Perampok hanya mengingini milik orang lain untuk dikuasainya. Orang yang tidak pernah merasa puas akan apa yang ia miliki. Saat melihat orang lain yang memiliki lebih, ia menjadi iri dan ingin memilikinya pula. Orang yang iri dan tidak suka melihat keberhasilan orang lain, ingin menjadi lebih dengan motivasi ingin mengalahkan orang lain, pada hakekatnya sama dengan perampok. Ia tidak lagi pedulia akan cara mendapatkannya, yang penting dapat mengalahkan orang lain dan menjadi lebih.

     2.  Imam dan Lewi
     Imam dan Lewi adalah pelayan-pelayan Tuhan yang seharusnya memiliki moralitas yang unggul. Ia harusnya dapat menjadi teladan perbuatan yang baik. Seorang Imam dan Lewi akan menjadi najis dan tidak dapat melayani saat ia menyentuh darah dan mayat selain hewan korban di Bait Allah. Mungkin imam dan lewi tersebut tidak mau menjadi najis dengan menolong sang korban perampokan tersebut, karena proses penyucian imam dan lewi adalah sebuah proses yang panjang dan ribet. Hal ini adalah gambaran dari para pelayan Tuhan yang tidak mengerti intisari dari pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan hanya menjadi aktivitas tanpa nilai luhur. Pelayanan dijadikan bahan pencitraan tingkat kerohanian, karena dengan terlibat dalam pelayanan orang akan dianggap lebih kudus dan dewasa rohani. Pada kenyataannya itu tidaklah tepat.

     3. Orang Samaria
    Kasih tidak memandang siapa orang yang seharusnya dikasihi. Kasih akan mengasihi semua manusia. Seseorang yang memiliki kasih dalam hidupnya, ia akan rela melakukan apa saja untuk mengasihi semua manusia, tanpa memandang batasan apapun. Karena kasih, orang akan rela mengorbankan apapun, seperti halnya Tuhan Yesus yang rela memberi nyawanya, untuk menyatakan kasihNya kepada semua manusia. 

     Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.