Laman

Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Buah Kehidupan: 5 Kunci Mengenali Integritas Sejati di Balik Topeng Keagamaan


 Di panggung dunia yang kian terobsesi dengan pencitraan, kita sering kali mendapati diri kita terpaku oleh karisma yang berkilau, retorika yang memukau, atau penampilan luar yang tampak sangat religius. Namun, sejarah—dan mungkin luka lama dalam ingatan kita sendiri—kerap memberikan peringatan pahit: kemasan yang suci tidak selalu membungkus hati yang murni. Dilema tentang bagaimana membedakan ketulusan dari kepalsuan adalah isu universal yang melintasi zaman. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menawarkan sebuah metode evaluasi yang sangat objektif dan tajam untuk menavigasi kompleksitas ini: sebuah prinsip agraris yang sederhana namun mendalam, yaitu "mengenal pohon dari buahnya."

 

1. "Buah" Sebagai Manifestasi Paling Jujur dari Kedalaman Hati

Segala perkataan dan tindakan kita bukanlah sekadar perilaku yang muncul secara acak, melainkan luapan alami dari kondisi batin. Hati adalah pusat kepribadian yang mengendalikan intelek, emosi, dan kehendak. Apa yang muncul di permukaan merupakan indikator spiritual yang paling nyata karena "mulut berbicara dari kelimpahan hati."

Dalam struktur pengajaran-Nya, Yesus menggunakan perangkat sastra yang disebut inclusio—mengulang frasa "dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" pada ayat 16 dan 20—untuk membingkai pesan ini sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak terbantahkan. Untuk memahami apa itu "buah baik," kita dapat merujuk pada standar Buah Roh (Galatia 5:22), yang mencakup perubahan sikap, perspektif, dan karakter yang diproduksi secara alami oleh kodrat baru di dalam Kristus. Karakter sejati tidak bisa dipalsukan melalui ritual; ia adalah bukti nyata dari transformasi batin yang telah terjadi.

"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?" (Matius 7:16)

 

2. Paradoks "Pakaian Domba" dan Waspada Terhadap Motif Predator

Metafora "serigala berbulu domba" bukan sekadar peringatan tentang kesalahan ajaran, melainkan tentang penipuan yang disengaja. Pengajar palsu sering kali menutupi sifat batiniah mereka yang "buas" (lykoi harpages) dengan penampilan luar yang lembut, ramah, dan tampak sangat spiritual untuk mendapatkan kepercayaan komunitas.

Ketajaman prinsip ini terlihat jelas saat kita melihat sejarah modern. Tokoh-tokoh seperti Jim Jones atau David Koresh adalah contoh tragis di mana karisma religius digunakan untuk menutupi buah yang busuk berupa kontrol eksploitatif, amoralitas, dan keserakahan. Karakteristik penyamaran ini meliputi:

  • Penyamaran Religius: Menggunakan simbol kesucian untuk mendapatkan pengakuan manusia atau memanipulasi otoritas spiritual.
  • Motif Tersembunyi: Di balik "pakaian domba," terdapat sifat predator yang mencari keuntungan finansial atau pemuasan ego pribadi.
  • Justifikasi Dosa: Kemampuan licik untuk membenarkan perilaku berdosa di bawah topeng "kebebasan rohani" atau pengurapan khusus.

 

3. Karunia vs. Karakter: Tragedi "Anomia" yang Mengejutkan

Mungkin bagian paling provokatif dalam pengajaran Yesus di Matius 7:21-23 adalah ketika Dia menolak orang-orang yang tampak sangat sukses secara spiritual. Mereka datang dengan daftar pencapaian yang spektakuler: bernubuat, mengusir setan, dan melakukan mukjizat dalam nama Yesus. Namun, jawaban yang mereka terima sangat mengerikan: "Aku tidak pernah mengenal kamu!"

Mengapa? Karena Yesus menemukan anomia atau lawlessness (pelanggaran hukum moral) di balik aktivitas mereka. Ini memaksa kita bertanya: Mungkinkah seseorang melakukan "pekerjaan Tuhan" tanpa benar-benar mengenal Tuhan? Jawabannya adalah ya. Aktivitas religius sehebat apa pun tidak dapat menggantikan ketaatan moral. Yesus tidak mencari "pembuat mukjizat" yang memiliki hati terbagi, melainkan "pelaku kehendak Bapa" yang memiliki integritas antara pengakuan bibir dan ketaatan hidup.

 

4. Hukum Kodrat: Ketidakmungkinan Konsistensi Palsu

Yesus menggunakan analogi agraris yang sangat kontras untuk menekankan hukum konsistensi karakter. Ia membandingkan buah anggur dan ara—produk bumi yang paling berharga saat itu—dengan semak duri dan rumput duri yang dianggap sampah serta pengganggu saat panen. Secara biologis dan spiritual, ada sebuah "ketidakmungkinan kodrat": pohon yang buruk tidak dapat menghasilkan buah yang baik secara konsisten.

Seseorang mungkin bisa memakai topeng kesalehan untuk sementara waktu, namun karakter asli tidak dapat disembunyikan secara permanen. Hati yang didominasi oleh kesombongan atau keserakahan pada akhirnya akan mengeluarkan "duri" yang melukai orang lain. Sebaliknya, hati yang telah ditebus akan secara alami menghasilkan transformasi perilaku. Karakter bukanlah sesuatu yang kita pakai seperti kostum, melainkan sesuatu yang tumbuh dari akar batin kita. Jika akarnya korup, maka seluruh sistem kehidupannya pun akan membuahkan ketidakkonsistenan.

 

5. Simfoni Karakter: Indikator Utama Integritas Sejati

Seorang pengajar atau pengikut yang memiliki integritas sejati akan menunjukkan kualitas yang menjadi antitesis dari kemunafikan. Berdasarkan sumber kebenaran, berikut adalah indikator utama yang perlu kita amati:

1.Kerendahan Hati yang Radikal: Mereka tidak mencari prestise, posisi kehormatan, atau gelar-gelar hebat. Mereka melakukan kebajikan tanpa "meniup sangkakala" di depan manusia.

2.Hati yang Melayani (Servanthood): Kepemimpinan mereka bukan tentang "memerintah dengan tangan besi," melainkan menjadi hamba (diakonos) bagi sesama, meneladani Kristus yang datang bukan untuk dilayani.

3.Reproduksi Rohani (Menghasilkan Murid): Indikator utama seorang pengajar saleh adalah kualitas hidup orang-orang yang mereka bimbing. Buah mereka terlihat dalam keberhasilan memuridkan orang lain untuk hidup dalam ketaatan yang sama kepada Tuhan.

4.Kasih yang Melampaui Batas: Menunjukkan kasih yang tulus bahkan kepada mereka yang lemah atau musuh sekalipun, membuktikan bahwa mereka benar-benar telah diubah oleh kasih Allah.

Kesimpulan: Cermin untuk Diri Sendiri

Prinsip "mengenal dari buahnya" bukanlah alat tajam yang diberikan hanya untuk menghakimi orang lain, melainkan sebuah cermin untuk memeriksa integritas diri kita sendiri. Kita diingatkan bahwa pada akhirnya, keselamatan dan pengenalan akan Tuhan dibuktikan melalui ketaatan yang nyata, bukan sekadar pengakuan lisan yang dangkal.

Integritas adalah keselarasan antara akar batin dan buah lahiriah. Karakter kita tidak ditentukan oleh apa yang kita katakan tentang diri kita di hadapan publik, melainkan oleh buah yang kita hasilkan saat tidak ada mata manusia yang melihat. Jika hidup kita adalah sebuah pohon, buah apa yang akan ditemukan orang lain saat mereka berteduh di sana? Apakah mereka akan menemukan keteduhan dan nutrisi rohani, atau justru akan terluka oleh duri-duri kemunafikan kita?


Kenali dari Buahnya! 5 Kunci Ajaran Yesus Mengenali Serigala Berbulu Domba (Matius 7)


24 April 2025

KRITIK: 5 Prinsip Transformatif untuk Mengubah Kritik Menjadi Batu Loncatan Menuju Kedewasaan Karakter (Amsal 27:17)

Bagi banyak orang, kritik adalah sebuah momok. Di dalam lanskap budaya yang menjunjung tinggi otoritas dan hierarki status, kritik sering kali disalahartikan sebagai serangan terhadap harga diri atau bentuk pembangkangan personal. Secara naluriah, kita cenderung membangun benteng pertahanan segera setelah mendengar masukan yang terasa asing di telinga. Namun, sebagai pribadi yang merindukan pertumbuhan batin, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah kritik benar-benar musuh yang harus dihindari, ataukah ia merupakan sebuah "sapaan kasih yang tajam" - sebuah instrumen ilahi yang menyamar untuk menyelamatkan kita dari keterbatasan diri sendiri?

Memandang kritik melalui lensa spiritual yang mendalam akan mengubah paradigma kita secara radikal. Kritik bukan lagi sekadar gangguan eksternal, melainkan sebuah proses pemurnian. Artikel ini akan mengupas lima prinsip transformatif untuk mengubah kritik menjadi batu loncatan menuju kedewasaan karakter.

 

1. Kritik Adalah Instrumen Netral, Bukan Serangan

Pada hakikatnya, kritik bersifat netral. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kritik sebagai kecaman atau tanggapan yang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat. Kata kuncinya terletak pada "pertimbangan," yang berarti kritik adalah alat evaluasi, bukan vonis mati atas nilai diri seseorang.

Mengapa kita sering merasa terserang? Hal ini biasanya terjadi karena ego kita merasa terancam dalam budaya yang mengidentikkan otoritas dengan kesempurnaan. Padahal, makna sebuah kritik ditentukan sepenuhnya oleh respons hati penerimanya, bukan sekadar kata-kata yang diucapkan oleh penyampainya.

"Kritik tidak secara otomatis bermakna negatif; ia adalah sarana objektif untuk menyatakan bagian-bagian hidup yang masih perlu disempurnakan."

 

2. Menemukan "Sisi Buta" melalui Cermin Jiwa

Salah satu keterbatasan terbesar manusia adalah ketidakmampuan untuk melihat dirinya secara utuh. Kita semua memiliki blind spots (sisi buta)—aspek karakter atau perilaku yang tidak kita sadari, namun terlihat jelas oleh orang lain. Tanpa "intervensi" dari luar, seseorang sangat rentan terjebak dalam ilusi diri; ia merasa sudah hidup benar padahal tindakannya mungkin sudah mulai melenceng dari prinsip kebenaran.

Dalam konteks ini, kritik berperan sebagai instrumen penyingkap tabir tersebut. Kritik adalah cara kita kembali pada realitas yang objektif.

"Sama seperti kita membutuhkan cermin fisik untuk melihat wajah, kita memerlukan 'cermin jiwa' berupa masukan dari orang lain untuk mengenal kedalaman batin dan mengoreksi sisi buta yang tersembunyi dari persepsi pribadi."

 

3. Prinsip "Besi Menajamkan Besi" dalam Komunitas

Pertumbuhan hikmat bukanlah sebuah perjalanan soliter, melainkan sebuah usaha kolektif yang dijalani dalam komunitas. Prinsip ini berakar kuat pada metafora kuno mengenai proses "gesekan" yang membentuk ketajaman:

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17)

Penting untuk dipahami bahwa prinsip ini adalah hukum universal yang berlaku bagi semua orang, tanpa batasan gender atau status. Sebagaimana sebilah besi tidak bisa menajamkan dirinya sendiri, manusia membutuhkan interaksi—dan terkadang gesekan—untuk memperhalus karakter. Melalui proses saling menajamkan ini, komunitas memberikan manfaat nyata:

·      Persiapan Hidup: Para sahabat saling membantu mengasah kesiapan dalam menghadapi dinamika kehidupan.

·      Pembekalan Hikmat: Praktik saling mengajar yang membekali individu untuk menjalani hidup secara bijaksana.

·      Pencegahan Stagnasi: Teguran atas perilaku keliru memampukan kita menghindari pengulangan kesalahan di masa depan.

 

4. Restorasi Melalui "Luka Seorang Sahabat"

Dalam keheningan refleksi, kita harus mengakui bahwa pujian palsu sering kali lebih berbahaya daripada teguran yang jujur. Dalam perspektif spiritual, tujuan kritik yang benar adalah restorasi (pemulihan), bukan destruksi (penghancuran).

Bayangkan momen ketika Nabi Natan menegur Raja Daud. Natan tidak menggunakan serangan kasar, melainkan menyampaikan teguran Tuhan dengan hikmat yang luar biasa. Hasilnya? Daud tidak marah, melainkan mengalami pertobatan mendalam yang melahirkan Mazmur 51. Inilah esensi "luka" yang memulihkan. Yesus pun sering kali mengkritik motivasi batin orang Farisi, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengundang mereka keluar dari kemunafikan.

Kejujuran yang menyakitkan dari seorang sahabat jauh lebih berharga daripada sanjungan manis dari lawan yang menipu. Hal ini sejalan dengan pernyataan dalam Wahyu 3:19"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar." Kritik, dalam terang kasih, adalah bentuk pemurnian, bukan penghukuman. Seperti tertulis dalam Amsal 27:6:

"Luka dari seorang sahabat dapat dipercaya, tetapi ciuman seorang lawan adalah berlebih-lebihan."

 

5. Seni Memisahkan Biji Gandum dari Sekam

Menanggapi kritik secara dewasa memerlukan ketajaman spiritual untuk memilah informasi. Kita harus belajar menjadi penapis yang bijak dengan langkah-langkah praktis berikut:

a.    Mendengar dengan Penuh Perhatian: Sesuai prinsip Yakobus 1:19, jadilah "cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata." Diamlah hingga kritik selesai disampaikan tanpa terburu-buru membangun benteng pembelaan diri.

b.    Mengulang untuk Memahami: Nyatakan kembali kritik tersebut dengan kata-kata Anda sendiri. Ini adalah latihan kerendahan hati untuk memastikan Anda benar-benar memahami maksud penyampai dan mencegah distorsi pesan.

c.    Fokus pada Kebenaran Isi: Pisahkan "biji gandum" (kebenaran yang membangun) dari "sekam" (cara penyampaian yang mungkin emosional atau kasar). Bahkan jika pengkritik memiliki motif yang tidak murni, kita dapat tetap bersukacita selama ada kebenaran yang disampaikan (Filipi 1:18).

d.    Menyaring untuk Pertumbuhan Kekudusan: Ambil poin yang relevan bagi transformasi karakter dan abaikan hal yang tidak sesuai fakta. Fokuslah pada bagaimana masukan tersebut membantu Anda hidup dalam kekudusan yang lebih tinggi.

 

Kesimpulan: Kritik Sebagai Api Pemurnian Emas

Kritik memang jarang terasa manis saat pertama kali menyentuh hati. Namun, ia ibarat api yang memurnikan emas; panasnya api bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memisahkan kotoran sehingga yang tersisa hanyalah kemurnian yang berkilau.

Ibrani 12:11 mengingatkan kita bahwa setiap teguran pada awalnya terasa menyedihkan dan menyakitkan, namun bagi mereka yang mau dilatih olehnya, proses tersebut akan menghasilkan buah damai sejahtera dan kebenaran. Tujuan akhirnya adalah agar kita menjadi pribadi yang sebagaimana digambarkan dalam Yakobus 1:4: "sempurna dan utuh, tidak kekurangan suatu apa pun."

Kini, cobalah refleksikan kembali kritik terakhir yang mampir ke telinga Anda. Apakah Anda akan menyimpannya sebagai bara dendam yang menghanguskan, atau menjadikannya batu loncatan menuju kedewasaan rohani?





01 Mei 2020

PEMIMPIN DAN KRITIKAN


        Saat sebuah kritik yang ditujukan kepada seseorang yang dianggap memiliki kedudukan atau status yang sejajar, hal tersebut mungkin dianggap sebagai sebuah kewajaran. Namun jika sebuah kritik ditujukan kepada atasan atau orang yang memiliki status dan kedudukan tinggi, hal tersebut seringkali dipandang sebagai sebuah perlawanan. Kata kritik sudah memiliki konotasi negatif dalam masyarakat kita. Namun apakah selalu demikian?


KRITIK – APA ITU?
        Kita akan mampu menempatkan kritik di tempat yang tepat saat kita memahami apa itu kritik dan apa fungsinya bagi diri kita.
        Menurut kamus bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008), kata kritik memiliki arti kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat. Banyak orang hanya memandang kritik sebagai sebuah kecaman, atau bahkan serangan. Jarang sekali ada orang yang melihat kritik sebagai sebuah tanggapan. Menurut saya pribadi, kritik adalah sebuah bantuan yang diberikan orang lain untuk melihat hal-hal yang seringkali tidak dapat kita lihat dengan pandangan kita sendiri.
        Berdasarkan makna katanya, kritik pada dasarnya bersifat netral. Respon kitalah yang kemudian akan memposisikan kritik tersebut dalam pikiran kita. Kritik akan menjadi sebuah hal yang menyakitkan dan melukai saat kita memandanganya sebagai sebuah serangan kebencian yang dilancarkan oleh orang-orang yang kita anggap ingin menghancurkan hidup kita. Namun di lain pihak, kritik akan menjadi seperti nutrisi yang menyehatkan dan menguatkan, saat kita melihatnya sebagai sebuah alat evaluasi bagi diri kita.
        Selembar soal ulangan adalah gambaran yang dapat kita gunakan saat kita memandang sebuah kritik. Selembar soal ulangan dapat dimaknai secara berbeda oleh siswa sekolah. Bagi seorang murid yang sadar akan tujuan pendidikannya, soal ulangan akan menjadi alat untuk mengukur kemampuan dan pemahamannya terhadap sebuah mata pelajaran. Namun di mata seorang murid yang tidak terlalu mempedulikan tujuannya bersekolah, soal ulangan tersebut hanya akan dipandang sebagai hal yang menakutkan dan mengusik kenyamanannya.


ANTI-KRITIK = ANTI-PERKEMBANGAN
        Secara nyata: adakah pemikiran dan tindakan seseorang yang bebas dari kesalahan? Tentu saja tidak ada. Semua manusia mengakui bahwa pasti akan ada kelemahan dalam kehidupannya, baik dalam pemikiran maupun tindakannya. Permasalahan yang seringkali timbul adalah bahwa kita sulit untuk melihat kekurangan atau kelemahan kita. Bukan hanya sekedar sulit melihat kesalahan, namun seringkali malah tidak mampu melihatnya.
Sederhananya saja, kita tidak mungkin dapat melihat wajah kita sendiri tanpa bantuan dari pihak lain – baik itu barang atau orang lain. Oleh karena itulah kita sangat membutuhkan pihak lain yang mampu melihat diri kita, baik itu kelemahan maupun kelebihan kita. Dengan adanya mereka, kita akan mampu lebih banyak mengenal diri kita.
        Kita akan menjadi manusia yang “utuh” dengan mengenal diri sendiri secara menyeluruh. Kita harus mampu mengidentifikasi diri kita, baik itu kelemahan maupun kelebihan kita. Dari situlah kita akan mampu mengenal setiap potensi diri dan mengembangkannya. Kita juga akan mengenali kelemahan-kelemahan kita dan mencari cara untuk memperbaikinya. Pengembangan diri akan dapat berjalan dengan baik saat kita mengenal diri sendiri dengan baik.


*Celoteh senja

05 April 2017

NIKODEMUS: “Percayalah Kepada-Ku Dalam Setiap Proses Kehidupan” (Renungan Yohanes 3:1-21)


Nikodemus adalah seorang Farisi, sebuah kelompok yang sangat ketat memelihara hukum Musa dan tradisi Yudaisme yang berdasar pada pengajaran Rabi-rabi (tulisan-tulisan rabinik). Kemungkinan besar ia juga adalah seorang pejabat Sanhedrin. Melihat latar belakangnya sebagai seorang Farisi, kita dapat memastikan bahwa Niko-demus adalah seorang yang paham betul aturan dan tradisi Taurat yang berlaku dalam masyarakat Yahudi.
Kisah yang ditulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 3:1-21, menceritakan interaksi pertama antara Nikodemus dengan Tuhan Yesus. Pada bagian ini diceritakan bahwa Nikodemus mendatangi Tuhan Yesus pada waktu malam hari. Kenapa malam hari? Menurut pengajaran rabi Yahudi, malam hari adalah waktu terbaik untuk belajar. Namun hal ini kemungkinan besar bukanlah dasar maksud Nikodemus mendatangi Yesus di malam hari. Alasan yang paling masuk akal adalah Nikodemus tidak ingin orang tahu bahwa ia mendatangi Yesus, seorang rabi yang kala itu menjadi sorotan orang banyak karena pengajaran-Nya yang “berani dan berbeda.”
Nikodemus, dan dan mungkin juga banyak orang Farisi lainnya, menilai bawa Yesus adalah seorang yang benar-benar diutus oleh Tuhan. Dia berkata kepada Yesus “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” (Ayt. 2) Perlu diingat bahwa Injil Yohanes tidak menulis peristiwa sepenuhnya berdasarkan waktu peristiwanya (kronologis). Saat Nikodemus mengatakan hal tersebut, kemungkinan Yesus sudah melakukan banyak mujizat yang disaksikan oleh banyak orang. Dari hal tersebutlah kemudian Nikodemus dan beberapa orang Farisi lainnya menyimpulkan bahwa Yesus adalah benar-benar “utusan Tuhan.”

Kelahiran Baru
Tuhan Yesus kemudian mengatakan sebuah pernyataan yang sempat membingungkan Nikodemus, dalam kapasitasnya sebagai seorang pengajar hukum Yahudi. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Dengan kebingungan, Nikodemus menjawab: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?... Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” (Ayt. 4, 9)
Kelahiran baru adalah sebuah komitmen yang diambil oleh seorang Kristen untuk memindahkan fokus kehidupannya, dari hal-hal duniawi/daging kepada hal-hal surgawi/rohani. Secara harafiah, Yohanes 3:3 diterjemahkan seperti ini: “Truly, truly, I say to you, If one is not generated from above…” (LITV) Jika  kalimat ini diterjemah dengan bebas, maka kurang lebih bermakna: “kamu harus mengalami pembaharuan kerohanian melalui iman.
Mengenai hal ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa seperti halnya Nikodemus, kita harus dilahirkan kembali dari air dan Roh. Banyak yang memaknai bahwa frasa air dan Roh mengacu pada babtisan air Yohanes Pembabtis dan babtisan roh oleh Tuhan Yesus. Jika kita melihat substansi dari kedua jenis babtisan tersebut, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa kelahiran baru berkenaan dengan pembaharuan jiwa (pikiran dan perasaan) dan pembaharuan iman (band. Roma 12:2). Dalam Kolose 3:10 Rasul Paulus menulis demikian “Each of you is now a new person. You are becoming more and more like your Creator, and you will understand him better.” Dari hari ke sehari, kita dituntut untuk menjadi semakin serupa dengan karakter Kristus Sang Firman yang menciptakan. Disaat yang sama, kita akan terus belajar untuk memahami isi hati dan pikiran-Nya.

Memandang Tuhan
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Ayt. 14-15) Kelahiran baru diawali dengan sebuah komitmen; komitmen yang muncul oleh kesadaran akan dosa-dosa yang telah diampuni Tuhan, dan oleh dorongan Roh Kudus menyerahkan diri pada proses pemurnian yang akan dikerjakan Tuhan dalam kehidupan kita selanjutnya. Jadi komitmen kelahiran baru seperti sebuah pintu masuk kedalam proses Tuhan.
Proses pembentukan karakter dan keimanan dengan Kristus sebagai acuannya, bukanlah sebuah proses yang mudah dan secara asal-asalan dikerjakan oleh Tuhan. Proses tersebut besar dan sangat rumit. Jika kita ditugaskan untuk menyusun permainan puzzle seluas meja makan saja pasti akan merasa kesulitan. Bagaimana jika puzzle tersebut seukuran lapangan bola. Setidaknya seperti itulah gambaran sederhananya betapa sulit dan beratnya proses yang Tuhan kerjakan dalam membentuk karakter kita hingga serupa dengan karakter Kristus. Disitulah iman kita bekerja.
Iman yang kuat sangatlah diperlukan dalam proses hidup yang harus kita lalui. Bagaimanakah mungkin bangsa Israel dapat selamat dari racun ular yang mematikan hanya dengan cara memandang kepada ular tembaga Musa (Bilangan 21:4-9)? Itulah iman. Ada bagian-bagian proses yang menuntut kita untuk sepenuhnya percaya kepada Tuhan, sekalipun itu kadang terasa tidak masuk akal.
           Saat proses itu terlihat mustahil dan tidak masuk akal, pandanglah salib Kristus. Di salib itulah manusia didamaikan dengan Tuhan melalui curahan darah Tuhan Yesus Kristus. Seperti halnya seorang penjahat yang disalib disebelah Kristus, bertobat disaat-saat terakhir kehidupannya dan ia menerima Firdaus, demikianlah pertolongan Tuhan juga akan dinyatakan disaat-saat terberat dalam proses yang harus kita jalani. Ambillah komitmen kelahiran baru. Masukilah proses pembentukan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Percayalah sepenuhnya dengan apa yang Tuhan kerjakan, dan lihatlah bagaimana kasih Tuhan dicurahkan melalui proses-proses kehidupan tersebut. Amin.

(Renungan dari Yohanes 3:1-21)

MENGIKUT KRISTUS ADALAH MEMATIKAN KEINGINAN DIRI (Kolose 3:5)


Kekristenan bukanlah sebuah pilihan hidup yang mudah. Menjadi seorang yang beriman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, menuntut sebuah pengorbanan yang sangat besar. Kekristenan menuntut umatnya untuk menjadi pribadi yang dewasa dalam hal keimanan dan karakter.

Adalah sebuah hal yang salah jika mengidentikkan kekristenan dengan kenyamanan, keamanan, berkat yang tiada berhenti, atau kehidupan sukacita tanpa derita. Justru sebaliknya. Iman kepada Kristus akan selalu berhadapan dengan kebalikan dari kondisi-kondisi tersebut. Hal tersebut juga bukan berarti bahwa mengikut Yesus hanya akan diisi dengan penderitaan. Proses pembentukan karakter adalah hal utama. Dalam proses tersebut tentunya melibatkan “latihan-latihan” dimana karakter yang dewasa akan terbentuk. Di tengah proses kehidupan, Tuhan juga selalu memberi waktu/kesempatan untuk “beristirahat.”

Para murid Tuhan Yesus telah merasakan hal yang sama, saat kita bicara mengenai proses pendewasaan rohani. Sebagaimana kita semua ketahui, latar belakang para murid Tuhan Yesus (dan bahkan Tuhan Yesus sendiri) adalah masyarakat Yahudi. Pada awalnya, mereka melihat pribadi Yesus sebagai calon pembebas masyarakat Yahudi dari tekanan penjajah Romawi. Mereka, dan kebanyakan masyarakat Yahudi kala itu, berharap bahwa bangsa Yahudi akan menjadi bangsa yang besar, berkuasa di seluruh dunia. Melalui Yesus yang dengan demonstrasi kuasa-Nya mereka percayai sebagai mesias, bangsa Yahudi akan dikembalikan kepada masa kejayaannya.

Kenyataan berbicara lain. Yesus yang awalnya diharapkan akan menjadi mesias pembebas bangsa Yahudi dari tekanan Romawi, terlihat menerapkan ajaran Taurat dengan sangat berbeda. Tuhan Yesus menekankan pada hakikat Taurat, lebih daripada praktik jasmaniahnya. Yesus terlihat tidak berminat untuk membangun kejayaan kerajaan Israel secara fisik. Mulai saat itu, banyak orang Yahudi yang menjadi murid dan mengikut Yesus, menjadi sangat kecewa dan meninggalkan-Nya. Hal tersebut tercatat dalam injil Yohanes 6:60-66.

Pada ayat 63 perikop tersebut, Tuhan Yesus berkata “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Konteks yang melatarbelakangi perikop tersebut adalah perbincangan mengenai posisi Yesus sebagai sumber kehidupan bagi manusia, yang digambarkan-Nya dengan penggambaran yang terkenal: “Roti Hidup.” Kembali Yesus menekankan bahwa berita yang dibawa-Nya bukanlah kemerdekaan secara fisik, melainkan secara rohani: hidup kekal bersama Tuhan, bukan kemerdekaan sementara di dunia.

Surat 1 Yohanes 2:18-19 menulis bahwa antikristus berasal dari kalangan umat percaya. Ayat 19 menulis demikian: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.” Hal tersebut senada dengan catatan dalam Yohanes 6:66 “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Siapa yang dimaksud dengan antikristus? Yaitu para murid Yesus yang kecewa kepada Yesus karena tidak memenuhi keinginan atau harapan mereka.

Saat ini telah banyak ditemui pengajaran-pengajaran Kristen yang menyimpang. Dalam pengajaran menyimpang tersebut, rata-rata selalu mengedepankan tentang berkat tanpa batas yang seharusnya diterima oleh orang Kristen. Kebanyakan orang akan senang dengan model pengajaran seperti itu; pengajaran yang memenuhi keinginan pribadinya. Lantas apa hubungannya dengan topik yang sedang kita bicarakan?

Pengajaran yang salah akan menghasilkan pemahaman yang salah. Saat pemahaman yang salah terbentur dengan realita kehidupan, maka hal tersebut akan memunculkan orang-orang yang kecewa. Seperti halnya para murid yang meninggalkan Yesus karena pengajaran-Nya yang tidak seperti yang mereka harapkan, maka demikianlah konteks pengajaran menyimpang di masa sekarang ini. Antikristus akan muncul dari orang-orang yang salah memahami pengajaran firman Tuhan. Mereka kecewa dan menyalahkan Tuhan karena tidak memberikan apa yang mereka inginkan.

Kita disebut dewasa secara rohani, saat kita dapat memahami kehendak Tuhan dan hidup seturut dengannya. Alkitab dengan jelas mengarahkan kita untuk memindahkan fokus kehidupan: dari hal-hal atau keinginan duniawi kepada hal-hal atau keinginan surgawi. Orang-orang yang telah melakukan hal tersebut pasti akan menunjukkan sebuah kedewasaan karakter dan keimanan. Bukti nyata dari hal tersebut adalah pribadi dan kehidupan para murid Tuhan Yesus setelah Tuhan Yesus naik ke surga.

Para murid hidup dalam tekanan yang sangat besar dari bangsa Yahudi yang memusuhi mereka dan pemerintahan Romawi yang menganggap mereka sebagai pemberontak. Banyak dari mereka yang mati dibunuh dan diumpankan pada binatang buas. Dengan semua kejadian yang menyakitkan tersebut, tidak ada kekecewaan yang muncul dari mulut mereka. Sebaliknya, mereka menjalani penderitaan tersebut dengan sukacita dan kebanggaan.

Para murid Tuhan Yesus tersebut telah mati terhadap keinginan diri sendiri dan mereka menghidupi kehendak Tuhan. Demikianlah kita seharusnya hidup di masa sekarang ini. Kesenangan dunia, kelimpahan harta, tingginya jabatan dan kehormatan bukanlah ukuran berkat yang sesungguhnya. Tujuan hidup kita sebagai pengikut Yesus adalah mematikan keinginan daging dan fokus pada penyataan kebenaran firman Tuhan melalui keseharian. Amin.

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." (Kolose 3:5)