Laman

Tampilkan postingan dengan label sampai mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sampai mati. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2016

MENGHADAPI PENDERITAAN SEBAGAI KONSEKUENSI IMAN (Renungan dari kitab Wahyu 2:8-11)

Pendahuluan

Saudara, kita tentu sering mendengar berita tentang Islamic State (IS) atau ISIS — kelompok militan radikal yang berusaha mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Demi mencapai tujuan itu, mereka tidak segan melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap siapa pun yang berbeda pandangan dan iman.
Beberapa tahun lalu, ISIS menyandera 230 orang Kristen di Suriah, terdiri dari 51 anak-anak, 84 perempuan, dan 95 laki-laki. Uang tebusan sebesar 1,1 juta dolar AS telah dikumpulkan oleh warga setempat, namun ISIS menolak, karena mereka lebih menginginkan perhatian dunia.

Kisah ini menyayat hati kita. Saudara-saudara seiman kita di Timur Tengah hidup dalam tekanan yang luar biasa, hanya karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus.

Namun, bentuk penderitaan karena iman tidak hanya terjadi di sana. Di Indonesia pun, meski tidak sekejam itu, banyak orang Kristen menghadapi tekanan, diskriminasi, atau kehilangan karena memilih setia kepada Kristus.
Maka muncul pertanyaan:

“Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita ketika kita mempertahankan iman?”
Dan apa yang Tuhan kehendaki dari kita di tengah penderitaan itu?

Mari kita belajar dari jemaat Smirna, sebagaimana tertulis dalam Wahyu 2:8–10, untuk menemukan dua pesan penting bagi kita hari ini.


1. Tuhan Ingin Kita Tidak Takut, Karena Penderitaan Itu Sementara

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.”
(Wahyu 2:10a, AYT)

Rasa takut adalah hal yang wajar ketika menghadapi ancaman. Jemaat Smirna pun mengalaminya. Mereka hidup di bawah tekanan politik dan sosial yang berat. Pada masa itu, Yudaisme masih dianggap sah oleh pemerintah Romawi, tetapi Kekristenan dipandang sebagai sekte baru yang berbahaya. Karena menolak berpartisipasi dalam upacara penyembahan dewa-dewa Roma, mereka dianiaya, dikucilkan, bahkan kehilangan mata pencaharian.

Namun Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya.” (Wahyu 2:9).
Kata “kemiskinan” di sini berarti kemiskinan yang sangat parah, tetapi mereka disebut “kaya” karena kaya dalam iman dan janji Kristus.

Ketika Tuhan berkata bahwa penderitaan mereka hanya akan berlangsung “sepuluh hari,” itu adalah lambang waktu yang singkat dan terbatas. Artinya, Tuhan menegaskan bahwa penderitaan orang percaya tidak akan berlangsung selamanya — karena Allah tetap memegang kendali atas segalanya.

Bayangkan proses seorang ibu melahirkan. Pada puncak persalinan, rasa sakitnya begitu hebat, bahkan mengancam nyawa. Namun begitu mendengar tangisan bayinya, seluruh rasa sakit seolah lenyap, digantikan sukacita yang tak tergambarkan.
Demikianlah penderitaan karena iman — sakit, tapi sementara, dan akan berganti dengan kemuliaan yang kekal.

Jadi, saudara, ketika kita menghadapi tekanan karena iman, jangan takut. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami ada batasnya, dan Tuhan sendiri tahu persis apa yang kita tanggung. Ia tidak membiarkan satu pun air mata kita sia-sia.


2. Tuhan Ingin Kita Tetap Setia Sampai Mati, Karena Ia Akan Memberikan Mahkota Kehidupan

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
(Wahyu 2:10b, AYT)

Kesetiaan adalah nilai yang makin langka di dunia modern — baik dalam relasi, pekerjaan, maupun iman. Banyak orang mudah menyerah, meninggalkan komitmen, bahkan berpaling dari Tuhan demi kenyamanan duniawi.

Namun Yesus memanggil jemaat Smirna — dan kita — untuk tetap setia sampai mati.
Kata Yunani pistos yang diterjemahkan “setia,” juga bermakna “percaya” atau “beriman.” Artinya, Tuhan menghendaki kita beriman teguh sampai akhir, sekalipun harus mengorbankan nyawa.

Jemaat Smirna kelak membuktikan kesetiaan itu. Sejarah mencatat, Polikarpus, uskup Smirna yang terkenal, mati sebagai martir karena menolak menyangkal Kristus. Sebelum dibakar hidup-hidup, ia berkata,

“Selama delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?”

Kepada orang-orang seperti Polikarpus dan semua yang setia, Yesus menjanjikan mahkota kehidupan — lambang dari sukacita, kemuliaan, dan kehidupan kekal di hadapan Allah. Yakobus 1:12 berkata:

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia.”

Kesetiaan ini telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Filipi 2:8–9 menulis:

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”

Saudara, seperti dalam janji pernikahan yang kita ikrarkan — “setia dalam suka dan duka, sehat atau sakit, kaya atau miskin, sampai maut memisahkan” — demikian pula komitmen kita kepada Kristus haruslah total dan tak tergoyahkan.
Dunia mungkin mencoba membeli iman kita dengan kekayaan, jabatan, status, atau ancaman. Tetapi orang percaya sejati akan berkata:

“Sekalipun aku kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan Yesusku.”


Penutup: Setia Hingga Akhir, Menerima Mahkota Kekal

Penganiayaan jemaat Smirna bukan karena kesalahan, melainkan karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Demikian pula dengan kita — mengikut Yesus berarti siap menderita bagi Dia. Tetapi penderitaan itu tidak sia-sia, sebab Tuhan tahu dan peduli.

Ia sudah menyiapkan mahkota kehidupan, yaitu kehidupan kekal di hadirat-Nya bagi setiap orang yang setia.
Karena itu, marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan apa pun demi iman kita. Sebab Yesus yang setia telah lebih dahulu menang, dan di dalam Dia kita pun akan menang.

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

Amin.