Laman

Tampilkan postingan dengan label Ekklesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekklesia. Tampilkan semua postingan

22 Juli 2026

Ekklesia, Liturgia, dan Pertanyaan: Masih Wajibkah Bergereja?



Ekklesia, Liturgia, dan Sebuah Pertanyaan: Wajibkah Berkumpul?

Ada dua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang, kalau dipahami dengan tepat, bisa mengubah cara kita memandang apa itu “gereja” dan apa yang sebenarnya kita lakukan saat berkumpul untuk beribadah. Dua kata itu adalah ekklesia dan leitourgia. Dari situ, tulisan ini akan bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis dan sering ditanyakan: apakah orang Kristen wajib beribadah Minggu di gereja, dan apakah iman bisa bertumbuh cukup hanya dari konten rohani di internet.


1. Ekklesia: Bukan Gedung, tapi Umat yang Dipanggil

Kata ekklesia (ἐκκλησία) muncul di Injil hanya tiga kali, semuanya dikatakan Tuhan Yesus sendiri dan semuanya berada dalam Injil Matius (Matius 16:18; dua kali penyebutan di 18:17). Namun di seluruh Perjanjian Baru, kata ini muncul sekitar 114 kali, sebagian besar dalam surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul.

Secara etimologi, ekklesia memang gabungan dari ek (“keluar dari”) dan kaleo (“memanggil”) — secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar.” Ini benar secara bahasa, tapi perlu kejujuran metodologis: pada abad pertama, kata ini sudah menjadi istilah umum untuk “sidang” atau “perhimpunan,” dan yang lebih menentukan makna sebuah kata bukan hanya asal-usulnya, melainkan bagaimana ia dipakai dalam konteksnya. Dan konteks pemakaian ekklesia justru memperkuat, bukan melemahkan, poin utamanya.

 

Latar Yunani-Romawi. Dalam dunia Yunani klasik, ekklesia adalah istilah politik: kumpulan warga negara kota (polis) yang sah, dipanggil bersidang membahas urusan pemerintahan dan keputusan bersama — badan pemerintahan warga, bukan kerumunan biasa. Latar ini membantu menjelaskan mengapa Paulus menyebut orang percaya memiliki “kewargaan... di sorga” (Filipi 3:20).


Latar Perjanjian Lama. Septuaginta (LXX, terjemahan Yunani Perjanjian Lama) memakai kata ekklesia untuk menerjemahkan kata Ibrani qahal (קָהָל) — jemaat umat Israel yang dipanggil berkumpul di hadapan TUHAN, misalnya di kaki Gunung Sinai (Ulangan 9:10; 18:16). Jadi ketika Yesus dan para rasul memakai kata ekklesia, orang Yahudi yang mendengarnya secara alami menghubungkannya dengan qahal Yahweh — jemaat TUHAN.

Kesimpulannya: ekklesia menunjuk pada umat, bukan tempat. Ini didukung jelas oleh Kisah Para Rasul 2:42-46, deskripsi tentang orang-orang dan aktivitas mereka, bukan tentang bangunan. Ketika penganiayaan menceraiberaikan jemaat Yerusalem (Kisah 8:1), mereka tidak berhenti menjadi ekklesia — mereka membawa identitas itu ke mana pun mereka pergi.

Satu catatan bahasa: kata “church” dalam bahasa Inggris sebenarnya tidak berasal dari ekklesia, melainkan dari kata Yunani kyriakon (κυριακόν, “milik Tuhan”), diserap ke bahasa-bahasa Jermanik (cirice, Kirche). Jadi bukan soal kata itu “diterjemahkan salah” — ini dua kata Yunani berbeda yang akhirnya diwakili satu kata Inggris “church.” Yang penting disadari: ekklesia dalam Alkitab pertama-tama adalah umat yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah (1 Petrus 2:9-10), bukan sekadar tempat atau institusi.

 

2. Liturgia: Bukan Ritual Kosong, tapi Pelayanan Bersama

Kata kedua adalah leitourgia (λειτουργία), akar dari kata “liturgi.” Dalam dunia Yunani-Romawi, kata ini punya makna sipil yang jelas: pelayanan publik yang dilakukan seorang warga demi kepentingan bersama — misalnya warga kaya yang membiayai perayaan kota demi kebaikan bersama (polis). Ini bukan tindakan privat, melainkan kontribusi nyata bagi komunitas.

Dalam Perjanjian Baru, kata ini dipakai untuk pelayanan imam di bait suci (Lukas 1:23), tapi juga untuk pelayanan jemaat: di Kisah Para Rasul 13:2, para pemimpin di Antiokhia sedang “melayani Tuhan” (dari akar kata yang sama) ketika Roh Kudus memisahkan Barnabas dan Saulus untuk pekerjaan penginjilan. Paulus bahkan memakai kata ini untuk persembahan jemaat Filipi baginya (Filipi 2:17) dan untuk pengumpulan dana bagi orang percaya yang miskin (2 Korintus 9:12).

Implikasinya: liturgi, dalam akar Alkitabiahnya, bukan sekadar urutan acara ibadah yang kaku, dan bukan sesuatu yang kita “konsumsi” sebagai penonton. Liturgi adalah kerja bersama umat untuk membangun dan melayani tubuh Kristus — nyanyian, doa, pengajaran, perjamuan kudus, persembahan — tindakan aktif jemaat yang saling melayani.

 

3. Peran Roh Kudus dalam Ekklesia

Ekklesia bukan sekadar konstruksi sosial atau politik tandingan, melainkan karya Roh Kudus. Efesus 2:22 menyebut jemaat dibangun menjadi “tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” 1 Korintus 12:13 menegaskan “oleh satu Roh kita semua... telah dibaptis menjadi satu tubuh” — kelahiran ekklesia Perjanjian Baru tepat terjadi pada peristiwa pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta (Kisah 2), bukan sekadar rekonstruksi politik dari qahal Sinai. Dan 1 Korintus 14 menunjukkan bahwa ketika jemaat berkumpul, karunia-karunia Roh dimaksudkan beroperasi demi membangun jemaat (oikodome, ayat 12). Ekklesia adalah umat yang dipanggil, dibentuk, dan diberdayakan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus (Kisah 1:8).


4. Wajibkah Ibadah di Gereja Hari Minggu?

Dari pemahaman ekklesia dan liturgia di atas, kita bisa masuk ke pertanyaan praktis ini dengan lebih tajam. Jawaban jujurnya: bukan syarat keselamatan, tapi bukan opsional untuk murid Kristus yang serius. Dua hal ini harus dipisahkan tegas.


Bukan syarat keselamatan. Keselamatan adalah sola gratia, sola fide (Efesus 2:8-9), bukan hasil kepatuhan ritual mingguan. Tidak ada ayat yang menjadikan kehadiran fisik di gedung gereja hari Minggu sebagai syarat masuk sorga. Kalau ada yang mengancam “kalau tidak ke gereja, tidak selamat,” itu legalisme.

Tapi bukan opsional. Dasar tekstual utamanya adalah Ibrani 10:24-25, yang layak dibedah lebih dalam.

Eksegesis Ringkas Ibrani 10:24-25

Ayat 24-25 bukan dua perintah terpisah, melainkan bagian dari satu kalimat panjang sejak ayat 19, dibangun di atas tiga kohortatif present subjunctive (“marilah kita,” bentuk yang menuntut tindakan terus-menerus): menghampiri Allah (ay. 22, vertikal ke atas), memegang teguh pengakuan (ay. 23, vertikal ke dalam), dan saling memperhatikan (ay. 24-25, horizontal ke sesama). Ketiganya setara secara struktural — perintah berkumpul bukan tambahan opsional, melainkan konsekuensi kristologis dari karya Kristus sebagai Imam Besar (ay. 19-21).


Beberapa kata kunci menegaskan ini:

  • Katanoōmen allēlous (“marilah kita saling memperhatikan”) — katanoeō berarti mengamati dengan saksama, bukan sekadar melirik. Tindakan ini mustahil dilakukan tanpa kehadiran fisik berulang dengan orang yang sama. 
  • Paroxysmos (“dorongan,” ay. 24) — akar kata yang di Kisah 15:39 dipakai untuk “perselisihan tajam.” Nuansanya adalah gesekan intensif, bukan sekadar dorongan lembut — menunjukkan relasi jemaat dirancang untuk saling menggesek menghasilkan kasih dan perbuatan baik.
  • Mē enkataleipontes tēn episynagōgēn heautōn (“jangan meninggalkan pertemuan kita”) — enkataleipō adalah kata kuat, dipakai untuk seruan Yesus di kayu salib (“mengapa Engkau meninggalkan Aku,” Matius 27:46) dan untuk Demas yang meninggalkan Paulus (2 Timotius 4:10). Ini bukan kata netral untuk “absen sesekali,” tapi menyiratkan desersi.
  • Kathōs ethos tisin (“seperti kebiasaan pada beberapa orang”) — penulis menggambarkan situasi nyata: ada orang yang sudah punya pola berulang menjauh dari pertemuan, dalam konteks surat yang penuh peringatan tentang kemurtadan (bandingkan 10:26-31, tepat setelah ayat ini).
  • Parakaloūntes (“saling menasihati/menguatkan”) — akar kata yang sama dengan Paraklētos, tindakan aktif menguatkan yang menuntut kedekatan personal.

Kesimpulan eksegetisnya: ayat ini bukan rumus legalistik “wajib ke gereja hari Minggu” — tidak ada kata “Minggu” atau sanksi keselamatan di dalamnya. Tapi ayat ini juga bukan sandaran bagi “aku dan Tuhan saja cukup.” Konteksnya justru teguran keras terhadap kebiasaan menjauh dari perkumpulan jemaat, dan kata-kata kuncinya — mengamati saksama, saling menggesek, saling menguatkan — semuanya secara linguistik menuntut relasi timbal balik yang berulang dan personal, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh menonton dari kejauhan.

Verdiknya: kalau seseorang secara sadar dan terus-menerus menjauh dari perkumpulan jemaat tanpa alasan yang sah (sakit, isolasi geografis, penganiayaan), itu bukan pelanggaran hukum yang membatalkan keselamatan — tapi gejala kerohanian yang sedang mundur, bukan sesuatu yang netral. Soal harinya sendiri lebih longgar dari yang sering diajarkan: pola jemaat mula-mula memang berkumpul di hari kebangkitan (Kisah 20:7; 1 Korintus 16:2), tapi tidak ada perintah eksplisit “wajib Minggu.” Yang jadi inti bukan hari kalendernya, melainkan keteraturan dan kesetiaan berkumpul dengan tubuh Kristus.

5. Bisakah Iman Bertumbuh Hanya dari Konten Rohani di Internet? 

Ini pertanyaan yang perlu dipecah, bukan disamaratakan sebagai satu hal yang disebut “bertumbuh.”

Pengetahuan (kognitif): ya, bisa bertumbuh signifikan. Orang bisa belajar teologi mendalam, memahami doktrin, mengerti Alkitab dengan baik semata-mata dari khotbah, podcast, dan pengajaran daring berkualitas. Ini fakta.

Tapi kedewasaan Kristen dalam pengertian Alkitab bukan cuma soal pengetahuan — ini soal karakter yang dibentuk dalam relasi. Di sinilah konsumsi konten online, sebagus apa pun, punya keterbatasan struktural:


  • Karunia Roh dirancang beroperasi dalam komunitas. 1 Korintus 12-14 menggambarkan tubuh Kristus sebagai organisme saling bergantung — “mata tidak dapat berkata kepada tangan: aku tidak membutuhkan engkau” (1 Kor 12:21). Karunia bernubuat, menguatkan, menyembuhkan hanya bermakna kalau ada orang lain untuk menerimanya — sesuatu yang mustahil terjadi bagi penonton khotbah di layar.
  • Perjamuan Kudus adalah tindakan komunal (1 Korintus 11:23-26 — “roti yang kita pecah-pecahkan”), bukan sesuatu yang bermakna sama kalau dilakukan sendiri di depan layar.
  • Akuntabilitas rohani — Ibrani 13:17 bicara tentang pemimpin jemaat yang “berjaga-jaga atas jiwamu,” relasi yang mengenal seseorang secara pribadi dan bisa menegur langsung. Ini persis apa yang dituntut oleh katanoōmen allēlous di Ibrani 10:24 — mengamati dengan saksama, sesuatu yang butuh kehadiran nyata dan berulang.
  • Postur pasif-konsumtif — menonton khotbah online menempatkan seseorang sebagai konsumen konten, sementara gambaran ekklesia yang berkumpul dan leitourgia yang dijelaskan di atas justru menuntut partisipasi aktif: melayani, memberi, dinasihati sekaligus menasihati. Struktur konsumsi digital secara desain membuat orang tetap penonton, bukan anggota tubuh yang berfungsi.

 

Simpulannya: seseorang bisa jadi lebih pintar secara teologis tanpa gereja, tapi tidak bisa bertumbuh dewasa secara Kristen dalam pengertian penuh Alkitab tanpa komunitas nyata — karena kedewasaan Kristen dibentuk lewat gesekan relasi nyata (paroxysmos, Ibrani 10:24), bukan cuma konsumsi informasi.


Pengecualian yang sah tentu ada — disabilitas berat, isolasi geografis ekstrem, penganiayaan yang membuat berkumpul fisik mustahil. Dalam kasus itu, ibadah daring adalah jalan darurat yang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Tapi itu harus dilihat sebagai pengecualian darurat, bukan model normal kehidupan Kristen.


Kalau seseorang punya akses ke jemaat lokal tapi memilih terus-menerus hanya “gereja YouTube” karena lebih nyaman, itu bukan pertumbuhan iman — itu penghindaran terhadap bagian iman yang justru paling menuntut: hidup berdampingan dan saling membentuk dengan orang percaya lain yang tidak sempurna.

Penutup

Ekklesia memberi tahu kita siapa kita — umat yang dipanggil keluar dari dunia menjadi milik Allah, dibentuk dan diberdayakan oleh Roh Kudus. Leitourgia memberi tahu kita apa yang kita lakukan saat berkumpul — bukan menonton, melainkan melayani bersama. Dan Ibrani 10:24-25 memberi tahu kita mengapa berkumpul secara nyata dan berulang itu bukan pilihan sampingan: karena pertumbuhan rohani, dalam desain Alkitab, secara struktural terikat pada relasi nyata dengan sesama orang percaya — sesuatu yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kepandaian teologis maupun kenyamanan konten digital.

17 April 2025

TANDA-TANDA ANGGOTA GEREJA YANG SEHAT

 TANDA-TANDA ANGGOTA GEREJA YANG SEHAT[1]

 

Tanda 1 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Pendengar Eksposisional

Mendengarkan secara eksposisional adalah mendengarkan untuk memahami makna dari suatu bagian Kitab Suci dan menerima makna tersebut sebagai gagasan utama yang harus dipahami untuk kehidupan (baik sebagai pribadi atau sebagai komunitas/gereja) Kristen.

Mendengar firman Allah (logos) dan memahaminya (rhema) adalah hal yang membawa kepada iman yang menyelamatkan (Roma 10:17). Anggota gereja menjadi sehat ketika mereka berkomitmen untuk mendengar pesan ini sebagai disiplin rohani yang teratur. Mendengarkan secara eksposisional mendukung kesehatan rohani baik bagi individu maupun seluruh gereja.

* Lógos adalah ekspresi dari pemikiran, sedangkan rhḗma merujuk pada isi atau pokok pembicaraan dari kata-kata yang diucapkan.

 

Tanda 2 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah "Teolog" Biblika

Teolog biblika adalah seseorang yang berkomitmen untuk memahami sejarah pewahyuan dan tema-tema besar beserta doktrin-doktrin dalam Alkitab sebagai sebuah kesatuan dan keterkaitan. Jadi anggota gereja yang sehat berusaha memahami kesatuan dan perkembangan Alkitab secara keseluruhan—bukan hanya bagian-bagian yang terpisah atau ayat-ayat favorit saja.

Menurut J. I. Packer, mengenal Allah dimulai dengan mengetahui tentang Dia, tentang karakter-Nya. Ini juga melibatkan menyerahkan diri kepada Allah berdasarkan janji-Nya untuk menjadi Tuhan kita melalui pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus, Anak-Nya. Akibatnya, mengenal Allah berarti mengikuti Yesus sebagai murid. Dan pada akhirnya, mengenal Allah berarti menjadi “lebih dari pemenang” dengan bersukacita dalam kecukupan Allah dalam segala hal.

Pengetahuan semacam ini hanya dapat diperoleh dengan menyelami pesan Alkitab secara mendalam, dengan semua tema besarnya yang kaya. Dan pengetahuan akan Allah ini secara khusus dimiliki oleh anggota gereja Kristen yang berkomitmen untuk menjadi teolog biblika.

 

Tanda 3 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Dipenuhi Injil (Gospel Saturated)

Dipenuhi (saturated. Ingg) – (bio.) keadaan keseimbangan dalam komunitas ketika imigrasi atau penambahan berjumlah sama dengan pengurangan ataupun dengan pemusnahan. (KBBI Online). Pemahamannya kontekstualnya adalah keadaan dimana penambahan/input/pengajaran Injili SEBANDING/SAMA/SEIMBANG dengan output/praktik/tindakan Injili dalam kehidupan orang percaya.

Dalam Injil Yesus Kristus (kabar sukacita tentang pribadi, karya penebusan, dan kebangkitan Kristus), Allah menawarkan diri-Nya bagi orang berdosa dan kepada orang berdosa. Injil inilah yang menyadarkan kita akan kasih Allah, kebobrokan kita sebagai manusia, dan kebutuhan kita akan penebusan, serta kemungkinan memperoleh sukacita kekal melalui penyembahan kepada Allah. Injil yang sama, beserta pemahaman yang sehat tentangnya, membangun kesehatan dan kekuatan dalam diri anggota gereja Kristen.

 

Tanda 4 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Benar-Benar Bertobat

Dalam teologi Kristen, “pertobatan” dipahami sebagai perubahan yang radikal. Pertobatan adalah perubahan total dari kehidupan yang terikat dalam dosa menuju kehidupan yang bebas untuk mencari dan menyembah Allah. Pertobatan bukan sekadar sebuah keputusan, tetapi sebuah transformasi hidup. Perubahan ini bukan sekadar soal kesalehan moral, pengembangan diri, atau modifikasi perilaku. Itu bukan sesuatu yang bisa dicapai melalui tindakan lahiriah atau praktik keagamaan, seperti berjalan ke depan altar. Pertobatan mustahil bisa dicapai jika hanya mengandalkan usaha manusia, melainkan oleh campur tangan Allah.

Pertobatan adalah perubahan yang begitu drastis sehingga memerlukan campur tangan Roh Kudus. Dalam kesadaran dan keputusan pertobatan, Roh Kudus menganugerahkan dua kasih karunia sekaligus, yaitu kekuatan iman dan komitmen pertobatan, agar orang berdosa berbalik meninggalkan dosanya dan mengarahkan pandangannya untuk datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus Kristus.

 

Tanda 5 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Penginjil Biblika

Penginjil Biblika (biblical evangelist - penginjil yang sesuai dengan Alkitab) adalah seseorang yang dengan setia membagikan kabar baik tentang Yesus Kristus sesuai dengan kebenaran Alkitab. Penginjilan yang alkitabiah tidak bergantung pada metode pragmatis, emosi, atau tekanan, tetapi pada kesetiaan dalam menyampaikan pesan Injil.

Seorang biblical evangelist harus:

1.         Menyampaikan isi Injil secara spesifik, termasuk siapa Allah, siapa manusia, apa itu dosa, siapa Yesus, apa yang telah Yesus lakukan terhadap dosa, dan apa yang harus dilakukan manusia sebagai respons.

2.         Menegaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Yohanes 14:6; Kisah Para Rasul 4:12).

3.         Memanggil pendengarnya untuk bertobat dan beriman kepada Kristus.

 

Penginjil yang sejati memahami bahwa keberhasilan penginjilan bukanlah hasil dari usaha manusia, melainkan karya Allah melalui firman-Nya dan Roh Kudus. Oleh karena itu, seorang biblical evangelist menanam dan menyiram benih Injil dengan setia, sambil mempercayakan hasilnya kepada Tuhan (1 Korintus 3:7).

 

Tanda 6 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Anggota yang Berkomitmen

Apa artinya menjadi anggota gereja yang berkomitmen? Gagal menghubungkan diri kita secara tetap dengan Kepala gereja melalui bergabung dengan tubuh-Nya tentu merupakan tanda ketidakbersyukuran, baik karena ketidaktahuan maupun hati yang tumpul. Kita yang memiliki hak istimewa untuk hidup di negara-negara di mana kita dapat dengan bebas bergabung dengan gereja lokal harus mengingat peringatan dari Dietrich Bonhoeffer berikut ini:

“Hanya karena anugerah Allah, sebuah jemaat diizinkan untuk berkumpul secara nyata di dunia ini untuk berbagi Firman Allah dan sakramen. Tidak semua orang Kristen menerima berkat ini. Mereka yang dipenjara, yang sakit, yang terpencar sendirian, para pemberita Injil di tanah-tanah kafir, mereka berdiri sendiri. Mereka tahu bahwa persekutuan yang nyata adalah sebuah berkat. Mereka mengingat, seperti yang dilakukan oleh Pemazmur, bagaimana mereka pergi ‘bersama orang banyak... ke rumah Allah, dengan suara sukacita dan pujian, bersama kumpulan orang yang merayakan hari raya’ (Mzm. 42:4). Oleh karena itu, siapa pun yang hingga saat ini memiliki hak istimewa untuk hidup dalam kehidupan Kristen bersama saudara-saudara seiman, hendaklah memuji anugerah Allah dari lubuk hatinya. Biarlah ia bersyukur kepada Allah sambil berlutut dan menyatakan: Ini adalah anugerah, tidak lain hanyalah anugerah, bahwa kita diperbolehkan hidup dalam komunitas dengan saudara-saudara Kristen.”

 

Tanda 7 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Mencari Disiplin

Disiplin berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran, keteraturan, dan pertumbuhan. Disiplin dalam kehidupan jemaat dan anggota gereja yang sehat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan. Gereja adalah komunitas dan lingkungan yang hidup dalam kedisiplinan dalam mentalitas dan kerohanian. Tidak mungkin bagi anggota gereja untuk saling memperhatikan secara efektif jika hanya sedikit orang yang mengambil tanggung jawab untuk menegur atau membimbing saudara-saudari yang membutuhkannya. Jika anggota gereja tidak mau melayani sesama dengan mengajarkan Firman dalam sekolah Minggu atau memimpin kelompok kecil, jika mereka menghindari mengenal satu sama lain sehingga tidak ada konteks untuk persekutuan yang bermakna, maka disiplin yang bersifat membangun maupun korektif tidak akan terjadi. Rumah Allah akan menjadi tidak tertata dengan baik, anak-anak-Nya tidak diajarkan dengan benar, dan kesaksian gereja akan tercemar oleh dosa yang tidak bertobat dan tidak dikoreksi.

 

Tanda 8 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Murid yang Bertumbuh

Anggota gereja yang sehat adalah anggota gereja yang senantiasa mengalami pertumbuhan. Secara khusus, ia adalah seseorang yang bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus, kekudusan, dan kedewasaan rohani. Kedewasaan dan kekudusan itu dikembangkan dalam ketergantungan kepada Kristus, Firman-Nya, dan sesama di dalam gereja lokal. Dan yang paling luar biasa, kita tidak akan berhenti bertumbuh sampai kita mencapai kepenuhan Kristus! Tidak mungkin memisahkan kesehatan sebuah gereja lokal dari kesehatan anggotanya. Dan tidak mungkin memisahkan kesejahteraan seorang anggota gereja dari pertumbuhan rohani dan pemuridan mereka.

 

Tanda 9 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Pengikut yang Rendah Hati

Kepemimpinan dalam gereja lokal ditetapkan oleh Allah untuk memberkati umat-Nya. Namun, agar kepemimpinan itu efektif, diperlukan dorongan dan dukungan dari anggota gereja. Banyak pria setia yang mengalami kehancuran karena menghadapi anggota jemaat yang keras kepala dan menolak bimbingan. Hal ini seharusnya tidak terjadi di antara umat Allah. Sebaliknya, anggota gereja yang sehat harus berusaha dan mendorong orang lain untuk berusaha mengikuti pemimpin mereka dengan hati yang terbuka lebar, ketaatan yang penuh semangat, dan penundukan yang penuh sukacita.

 

Tanda 10 - Seorang Anggota Gereja yang Sehat Adalah Pejuang Doa.

Adakah hak istimewa yang lebih menakjubkan daripada yang telah diberikan kepada orang Kristen melalui Kristus: berdiri di hadapan Allah Bapa kita dan merespons dalam doa oleh Roh-Nya terhadap Firman-Nya yang disampaikan kepada kita? Jika kita ingin menjadi pendengar eksposisional, dipenuhi Injil, dan teolog Alkitabiah, maka kita harus berdoa dengan keyakinan penuh akan apa yang Allah sedang lakukan di dunia melalui Kristus, Putra-Nya, serta berdoa untuk kemajuan Injil dan kehendak-Nya di seluruh dunia.



[1] Ringkasan buku karya Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member?, Crossway, 2008.