Laman

Tampilkan postingan dengan label Ibrani 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrani 10. Tampilkan semua postingan

22 Juli 2026

Ekklesia, Liturgia, dan Pertanyaan: Masih Wajibkah Bergereja?



Ekklesia, Liturgia, dan Sebuah Pertanyaan: Wajibkah Berkumpul?

Ada dua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang, kalau dipahami dengan tepat, bisa mengubah cara kita memandang apa itu “gereja” dan apa yang sebenarnya kita lakukan saat berkumpul untuk beribadah. Dua kata itu adalah ekklesia dan leitourgia. Dari situ, tulisan ini akan bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis dan sering ditanyakan: apakah orang Kristen wajib beribadah Minggu di gereja, dan apakah iman bisa bertumbuh cukup hanya dari konten rohani di internet.


1. Ekklesia: Bukan Gedung, tapi Umat yang Dipanggil

Kata ekklesia (ἐκκλησία) muncul di Injil hanya tiga kali, semuanya dikatakan Tuhan Yesus sendiri dan semuanya berada dalam Injil Matius (Matius 16:18; dua kali penyebutan di 18:17). Namun di seluruh Perjanjian Baru, kata ini muncul sekitar 114 kali, sebagian besar dalam surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul.

Secara etimologi, ekklesia memang gabungan dari ek (“keluar dari”) dan kaleo (“memanggil”) — secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar.” Ini benar secara bahasa, tapi perlu kejujuran metodologis: pada abad pertama, kata ini sudah menjadi istilah umum untuk “sidang” atau “perhimpunan,” dan yang lebih menentukan makna sebuah kata bukan hanya asal-usulnya, melainkan bagaimana ia dipakai dalam konteksnya. Dan konteks pemakaian ekklesia justru memperkuat, bukan melemahkan, poin utamanya.

 

Latar Yunani-Romawi. Dalam dunia Yunani klasik, ekklesia adalah istilah politik: kumpulan warga negara kota (polis) yang sah, dipanggil bersidang membahas urusan pemerintahan dan keputusan bersama — badan pemerintahan warga, bukan kerumunan biasa. Latar ini membantu menjelaskan mengapa Paulus menyebut orang percaya memiliki “kewargaan... di sorga” (Filipi 3:20).


Latar Perjanjian Lama. Septuaginta (LXX, terjemahan Yunani Perjanjian Lama) memakai kata ekklesia untuk menerjemahkan kata Ibrani qahal (קָהָל) — jemaat umat Israel yang dipanggil berkumpul di hadapan TUHAN, misalnya di kaki Gunung Sinai (Ulangan 9:10; 18:16). Jadi ketika Yesus dan para rasul memakai kata ekklesia, orang Yahudi yang mendengarnya secara alami menghubungkannya dengan qahal Yahweh — jemaat TUHAN.

Kesimpulannya: ekklesia menunjuk pada umat, bukan tempat. Ini didukung jelas oleh Kisah Para Rasul 2:42-46, deskripsi tentang orang-orang dan aktivitas mereka, bukan tentang bangunan. Ketika penganiayaan menceraiberaikan jemaat Yerusalem (Kisah 8:1), mereka tidak berhenti menjadi ekklesia — mereka membawa identitas itu ke mana pun mereka pergi.

Satu catatan bahasa: kata “church” dalam bahasa Inggris sebenarnya tidak berasal dari ekklesia, melainkan dari kata Yunani kyriakon (κυριακόν, “milik Tuhan”), diserap ke bahasa-bahasa Jermanik (cirice, Kirche). Jadi bukan soal kata itu “diterjemahkan salah” — ini dua kata Yunani berbeda yang akhirnya diwakili satu kata Inggris “church.” Yang penting disadari: ekklesia dalam Alkitab pertama-tama adalah umat yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah (1 Petrus 2:9-10), bukan sekadar tempat atau institusi.

 

2. Liturgia: Bukan Ritual Kosong, tapi Pelayanan Bersama

Kata kedua adalah leitourgia (λειτουργία), akar dari kata “liturgi.” Dalam dunia Yunani-Romawi, kata ini punya makna sipil yang jelas: pelayanan publik yang dilakukan seorang warga demi kepentingan bersama — misalnya warga kaya yang membiayai perayaan kota demi kebaikan bersama (polis). Ini bukan tindakan privat, melainkan kontribusi nyata bagi komunitas.

Dalam Perjanjian Baru, kata ini dipakai untuk pelayanan imam di bait suci (Lukas 1:23), tapi juga untuk pelayanan jemaat: di Kisah Para Rasul 13:2, para pemimpin di Antiokhia sedang “melayani Tuhan” (dari akar kata yang sama) ketika Roh Kudus memisahkan Barnabas dan Saulus untuk pekerjaan penginjilan. Paulus bahkan memakai kata ini untuk persembahan jemaat Filipi baginya (Filipi 2:17) dan untuk pengumpulan dana bagi orang percaya yang miskin (2 Korintus 9:12).

Implikasinya: liturgi, dalam akar Alkitabiahnya, bukan sekadar urutan acara ibadah yang kaku, dan bukan sesuatu yang kita “konsumsi” sebagai penonton. Liturgi adalah kerja bersama umat untuk membangun dan melayani tubuh Kristus — nyanyian, doa, pengajaran, perjamuan kudus, persembahan — tindakan aktif jemaat yang saling melayani.

 

3. Peran Roh Kudus dalam Ekklesia

Ekklesia bukan sekadar konstruksi sosial atau politik tandingan, melainkan karya Roh Kudus. Efesus 2:22 menyebut jemaat dibangun menjadi “tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” 1 Korintus 12:13 menegaskan “oleh satu Roh kita semua... telah dibaptis menjadi satu tubuh” — kelahiran ekklesia Perjanjian Baru tepat terjadi pada peristiwa pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta (Kisah 2), bukan sekadar rekonstruksi politik dari qahal Sinai. Dan 1 Korintus 14 menunjukkan bahwa ketika jemaat berkumpul, karunia-karunia Roh dimaksudkan beroperasi demi membangun jemaat (oikodome, ayat 12). Ekklesia adalah umat yang dipanggil, dibentuk, dan diberdayakan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus (Kisah 1:8).


4. Wajibkah Ibadah di Gereja Hari Minggu?

Dari pemahaman ekklesia dan liturgia di atas, kita bisa masuk ke pertanyaan praktis ini dengan lebih tajam. Jawaban jujurnya: bukan syarat keselamatan, tapi bukan opsional untuk murid Kristus yang serius. Dua hal ini harus dipisahkan tegas.


Bukan syarat keselamatan. Keselamatan adalah sola gratia, sola fide (Efesus 2:8-9), bukan hasil kepatuhan ritual mingguan. Tidak ada ayat yang menjadikan kehadiran fisik di gedung gereja hari Minggu sebagai syarat masuk sorga. Kalau ada yang mengancam “kalau tidak ke gereja, tidak selamat,” itu legalisme.

Tapi bukan opsional. Dasar tekstual utamanya adalah Ibrani 10:24-25, yang layak dibedah lebih dalam.

Eksegesis Ringkas Ibrani 10:24-25

Ayat 24-25 bukan dua perintah terpisah, melainkan bagian dari satu kalimat panjang sejak ayat 19, dibangun di atas tiga kohortatif present subjunctive (“marilah kita,” bentuk yang menuntut tindakan terus-menerus): menghampiri Allah (ay. 22, vertikal ke atas), memegang teguh pengakuan (ay. 23, vertikal ke dalam), dan saling memperhatikan (ay. 24-25, horizontal ke sesama). Ketiganya setara secara struktural — perintah berkumpul bukan tambahan opsional, melainkan konsekuensi kristologis dari karya Kristus sebagai Imam Besar (ay. 19-21).


Beberapa kata kunci menegaskan ini:

  • Katanoōmen allēlous (“marilah kita saling memperhatikan”) — katanoeō berarti mengamati dengan saksama, bukan sekadar melirik. Tindakan ini mustahil dilakukan tanpa kehadiran fisik berulang dengan orang yang sama. 
  • Paroxysmos (“dorongan,” ay. 24) — akar kata yang di Kisah 15:39 dipakai untuk “perselisihan tajam.” Nuansanya adalah gesekan intensif, bukan sekadar dorongan lembut — menunjukkan relasi jemaat dirancang untuk saling menggesek menghasilkan kasih dan perbuatan baik.
  • Mē enkataleipontes tēn episynagōgēn heautōn (“jangan meninggalkan pertemuan kita”) — enkataleipō adalah kata kuat, dipakai untuk seruan Yesus di kayu salib (“mengapa Engkau meninggalkan Aku,” Matius 27:46) dan untuk Demas yang meninggalkan Paulus (2 Timotius 4:10). Ini bukan kata netral untuk “absen sesekali,” tapi menyiratkan desersi.
  • Kathōs ethos tisin (“seperti kebiasaan pada beberapa orang”) — penulis menggambarkan situasi nyata: ada orang yang sudah punya pola berulang menjauh dari pertemuan, dalam konteks surat yang penuh peringatan tentang kemurtadan (bandingkan 10:26-31, tepat setelah ayat ini).
  • Parakaloūntes (“saling menasihati/menguatkan”) — akar kata yang sama dengan Paraklētos, tindakan aktif menguatkan yang menuntut kedekatan personal.

Kesimpulan eksegetisnya: ayat ini bukan rumus legalistik “wajib ke gereja hari Minggu” — tidak ada kata “Minggu” atau sanksi keselamatan di dalamnya. Tapi ayat ini juga bukan sandaran bagi “aku dan Tuhan saja cukup.” Konteksnya justru teguran keras terhadap kebiasaan menjauh dari perkumpulan jemaat, dan kata-kata kuncinya — mengamati saksama, saling menggesek, saling menguatkan — semuanya secara linguistik menuntut relasi timbal balik yang berulang dan personal, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh menonton dari kejauhan.

Verdiknya: kalau seseorang secara sadar dan terus-menerus menjauh dari perkumpulan jemaat tanpa alasan yang sah (sakit, isolasi geografis, penganiayaan), itu bukan pelanggaran hukum yang membatalkan keselamatan — tapi gejala kerohanian yang sedang mundur, bukan sesuatu yang netral. Soal harinya sendiri lebih longgar dari yang sering diajarkan: pola jemaat mula-mula memang berkumpul di hari kebangkitan (Kisah 20:7; 1 Korintus 16:2), tapi tidak ada perintah eksplisit “wajib Minggu.” Yang jadi inti bukan hari kalendernya, melainkan keteraturan dan kesetiaan berkumpul dengan tubuh Kristus.

5. Bisakah Iman Bertumbuh Hanya dari Konten Rohani di Internet? 

Ini pertanyaan yang perlu dipecah, bukan disamaratakan sebagai satu hal yang disebut “bertumbuh.”

Pengetahuan (kognitif): ya, bisa bertumbuh signifikan. Orang bisa belajar teologi mendalam, memahami doktrin, mengerti Alkitab dengan baik semata-mata dari khotbah, podcast, dan pengajaran daring berkualitas. Ini fakta.

Tapi kedewasaan Kristen dalam pengertian Alkitab bukan cuma soal pengetahuan — ini soal karakter yang dibentuk dalam relasi. Di sinilah konsumsi konten online, sebagus apa pun, punya keterbatasan struktural:


  • Karunia Roh dirancang beroperasi dalam komunitas. 1 Korintus 12-14 menggambarkan tubuh Kristus sebagai organisme saling bergantung — “mata tidak dapat berkata kepada tangan: aku tidak membutuhkan engkau” (1 Kor 12:21). Karunia bernubuat, menguatkan, menyembuhkan hanya bermakna kalau ada orang lain untuk menerimanya — sesuatu yang mustahil terjadi bagi penonton khotbah di layar.
  • Perjamuan Kudus adalah tindakan komunal (1 Korintus 11:23-26 — “roti yang kita pecah-pecahkan”), bukan sesuatu yang bermakna sama kalau dilakukan sendiri di depan layar.
  • Akuntabilitas rohani — Ibrani 13:17 bicara tentang pemimpin jemaat yang “berjaga-jaga atas jiwamu,” relasi yang mengenal seseorang secara pribadi dan bisa menegur langsung. Ini persis apa yang dituntut oleh katanoōmen allēlous di Ibrani 10:24 — mengamati dengan saksama, sesuatu yang butuh kehadiran nyata dan berulang.
  • Postur pasif-konsumtif — menonton khotbah online menempatkan seseorang sebagai konsumen konten, sementara gambaran ekklesia yang berkumpul dan leitourgia yang dijelaskan di atas justru menuntut partisipasi aktif: melayani, memberi, dinasihati sekaligus menasihati. Struktur konsumsi digital secara desain membuat orang tetap penonton, bukan anggota tubuh yang berfungsi.

 

Simpulannya: seseorang bisa jadi lebih pintar secara teologis tanpa gereja, tapi tidak bisa bertumbuh dewasa secara Kristen dalam pengertian penuh Alkitab tanpa komunitas nyata — karena kedewasaan Kristen dibentuk lewat gesekan relasi nyata (paroxysmos, Ibrani 10:24), bukan cuma konsumsi informasi.


Pengecualian yang sah tentu ada — disabilitas berat, isolasi geografis ekstrem, penganiayaan yang membuat berkumpul fisik mustahil. Dalam kasus itu, ibadah daring adalah jalan darurat yang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Tapi itu harus dilihat sebagai pengecualian darurat, bukan model normal kehidupan Kristen.


Kalau seseorang punya akses ke jemaat lokal tapi memilih terus-menerus hanya “gereja YouTube” karena lebih nyaman, itu bukan pertumbuhan iman — itu penghindaran terhadap bagian iman yang justru paling menuntut: hidup berdampingan dan saling membentuk dengan orang percaya lain yang tidak sempurna.

Penutup

Ekklesia memberi tahu kita siapa kita — umat yang dipanggil keluar dari dunia menjadi milik Allah, dibentuk dan diberdayakan oleh Roh Kudus. Leitourgia memberi tahu kita apa yang kita lakukan saat berkumpul — bukan menonton, melainkan melayani bersama. Dan Ibrani 10:24-25 memberi tahu kita mengapa berkumpul secara nyata dan berulang itu bukan pilihan sampingan: karena pertumbuhan rohani, dalam desain Alkitab, secara struktural terikat pada relasi nyata dengan sesama orang percaya — sesuatu yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kepandaian teologis maupun kenyamanan konten digital.

30 Desember 2016

GEREJA ADALAH RUANG BELAJAR, HIDUP KESEHARIAN ADALAH LADANG UJIAN (Ibrani 10:24-25)

Masih banyak orang Kristen yang memandang aktivitas beribadah “terpisah” dari aktivitas hidup yang lain. Dalam pandangan mereka, gereja dan segala bentuk kegiatan rohani lainnya adalah ruang yang sakral sedangkan lingkup diluar hal tersebut kurang sakral. Istilah yang digunakan untuk pemisahan itu adalah "sekuler" dan "rohani." Dalam satu sisi, pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun jika diperhatikan dengan saksama, maka akan nampak kekurangannya.

Iman Kristen harus dipahami secara utuh. Jika hanya dipahami secara setengah-setengah, maka akan membawa kepada kesesatan. Istilah kesesatan disini janganlah hanya dipahami dalam konteks pengajaran agama, semisal diasumsikan dengan aliran/ajaran sesat seperti Saksi Yehova, Mormonisme, dll. Dalam kasus yang paling sederhana, mengambil atau melakukan sebuah prinsip yang terlihat berasal dari Alkitab – padahal hanya separuh kebenaran saja – adalah satu bentuk kesesatan. Untuk itulah diperlukan sebuah pemahaman yang utuh dan lengkap terhadap iman Kristiani, yang tentunya hal itu bersumber dari penafsiran Alkitab yang disiplin.

Lantas, apa yang seringkali menghambat kita, umat Kristen, untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap firman Tuhan dalam Alkitab? Apa pula yang harusnya kita upayakan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tersebut?

Cherry-picking dan Proof-texting
Saat ini kita akan sedikit membahas satu kesalahan yang hingga saat ini masih sering kali dan mungkin yang paling umum terjadi di kalangan orang Kristen (khususnya, sejauh pengamatan saya, di aliran Pentakosta dan Kharismatik), berkenaan dengan cara memahami Alkitab. Kesalahan tersebut adalah kebiasaan MEMBACA dan lantas MENGAMINI SEBUAH AYAT ALKITAB.

Kesalahan ini disebut cherry-picking, dan dalam istilah hermeneutik dikenal juga sebuah istilah yang lebih terkesan teknis yakni proof-texting. Cherry picking adalah kesalahan logika dimana seseorang membangun argument atau pemahamannya hanya berdasar atas pendapat atau data yang menyokong apa yang diklaimnya saja, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data (konteks), yang sebenarnya sebagian data yang diambil tersebut justru kadang melemahkan atau bahkan membantah klaimnya sendiri; biasa disebut cocokmologi. Pengertian proof-texting adalah kesalahan metodologis dimana seseorang mengambil bagian kecil dari Alkitab, seringkali hanya sebuah ayat, kemudian digunakan untuk mendukung sebuah pemikiran atau membangun sebuah doktrin tanpa mempedulikan konteks sastranya. Dengan ungkapan yang sederhana, cherry-picking dan proof-texting adalah kebiasaan pilih-pilih ayat Alkitab.

Cherry-picking dan proof-texting akan menghasilkan sebuah pengajaran kekristenan yang salah serta lemah. Prinsip-prinsip pengajaran yang dibangun dengan pola tersebut kemungkinan besar tidak konsisten bahkan seringkali kontradiktif. Membangun fondasi kehidupan dengan dasar pengajaran yang didapat dengan pola tersebut seperti membangun rumah di atas pasir. Jika ingin membangun iman Kristen yang kuat, lakukan di atas batu karang. Membangun di atas batu karang berbicara tentang memahami firman Tuhan secara benar dan mendasar sehingga membuat kita mampu merumuskan tindakan nyata dari prinsip kebenaran firman Tuhan tersebut.

Lebih buruk lagi, kebiasaan pilih-pilih ayat tersebut seringkali juga dilakukan secara setengah-setengah. Maksudnya seperti ini: Ayat-ayat yang memiliki isi yang menyenangkan, menenangkan, menguatkan, memotifasi serta “memberkati” seringkali menjadi ayat-ayat favorit banyak umat Kristen. Jarang kita dapati seseorang yang menggunakan ayat-ayat yang berisi teguran dan kritikan sebagai ayat nats atau ayat emas favoritnya.


Gereja (juga) merupakan lembaga pendidikan
Gereja seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat suci atau tempat ibadah dalam kehidupan umat Kristen. Gereja seharusnya juga menjadi wadah umat Kristen untuk belajar dan mendulang pemahaman yang benar terhadap firman Tuhan, serta relefansinya dalam kehidupan sehari-hari. Memahami prinsip firman Tuhan dengan benar serta mengerjakan prinsip kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari – dengan segala keterbatasan kemampuan – akan membawa kita, umat Kristen, mengenal Tuhan dengan benar.

Dalam konteks membangun dasar-dasar iman, gereja harusnya menghindarkan jemaat dari kebiasaan cherry-picking atau proof-texting tersebut di atas. Teknisnya, Gereja harus mulai membiasakan jemaat untuk menggunakan cara pembacaan Alkitab yang lebih menyeluruh; tidak lagi membaca satu ayat saja, melainkan membaca paling tidak satu paragraf utuh atau satu perikop. Akan lebih baik lagi jika kebiasan membaca tuntas Alkitab digalakkan di kalangan jemaat gereja. Membaca Alkitab hingga tuntas (mulai dari kitab Kejadian hingga Wahyu) akan memberi kita sekilas gambaran besar mengenai alur penulisan Alkitab.

Selain Alkitab, gereja seharusnya juga harus mampu mengedukasi anggota jemaat untuk membaca buku-buku atau sumber-sumber bacaan yang lain. Hal tersebut penting sekali untuk memperluas cakrawala berpikir anggota gereja.

Dengarkan saja, maka imanmu akan bertumbuh. Oh really? Come on….!!
Dalam sebuah ibadah formal hari minggu, mimbar gereja memang merupakan sebuah mimbar monolog. Melalui mimbar tersebut seorang pendeta atau hamba Tuhan menyampaikan renungan dari sebuah bagian dari Alkitab. Kita tentu saja tidak akan mendapati adanya dialog yang terjadi antara jemaat dengan sang pengkhotbah dalam kesempatan tersebut. Hal itu adalah semacam aturan tidak tertulis yang umum berlaku dalam sebuah ibadah. Namun apakah mimbar gereja hanya diisi oleh kegiatan ibadah semacam itu saja?

Gereja harus menyediakan ruang untuk pendalaman pemahaman akan firman Tuhan bagi jemaat. Kata Ruang yang saya maksudkan disini lebih mengarah pada waktu atau kesempatan. Yang harus ditentukan oleh para gembala jemaat atau majelis gereja adalah kapan pelaksanaanya. Itu hanyalah masalah teknis dari jadwal kegiatan gereja. Permasalah yang lebih mendesak sebenarnya adalah ada atau tidaknya kesempatan tersebut, bukan?

Saat kita mendengarkan khotbah yang disampaikan pada waktu ibadah umum, tidak jarang muncul tanggapan di dalam pikiran kita. Tanggapan tersebut dapat berupa pertanyaan atau bahkan pendapat atau pemahaman yang tidak jarang justru berseberangan dengan apa yang telah dikatakan oleh sang pengkhotbah.

Tanggapan tersebut muncul karena kita mungkin saja telah menerima sebuah informasi yang berhubungan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh sang pengkhotbah. Bisa saja kita pernah membaca sebuah buku atau artikel tertentu, mendengarkan khotbah dari internet, atau teringat percakapan dengan seorang teman, atau mungkin saja kita pernah mengalami “serangan” terhadap iman kita dari orang yang beragama lain dan kita tidak dapat menjawabnya. Tanggapan-tanggapan yang ada dalam pikiran kita tersebut, saya yakin, membutuhkan jawaban atau tanggapan balik.

Jadi, memang mendengarkan khotbah saja tidaklah dapat membuat iman seseorang bertumbuh. Lantas kenapa ada ayat Alkitab yang berkata bahwa “iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus?” (Roma 10:17) Apakah artinya ayat tersebut salah?

Ada minimal dua ayat yang menurut saya menarik untuk diperhatikan, berkenaan dengan pertumbuhan iman yang didasarkan pada pengajaran firman Tuhan. Ayat yang pertama sebenarnya secara tidak langsung telah saya kutip di atas, yakni Matius 7:24-27. Dalam bagian tersebut, Tuhan Yesus memberikan penakanan bahwa saat seseorang “mendengarkan” firman Tuhan dan melakukannya, maka ia akan memiliki iman yang kuat untuk menghadapi gempuran pengaruh dunia serta dapat bertahan dalam pergumulan hidupnya. Rasul Paulus menulis dalam surat Roma 10:17 bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Kedua bagian kutipan ayat Alkitab tersebut memuat sebuah kata yang sama, yakni mendengarkan. Bahasa Inggris membedakan kata hear dan kata listen, yang dalam Bahasa Indonesia sama-sama diterjemahkan dengan dengar atau mendengarkan. Kata hear bermakna sekadar mendengar sebuah suara, namun kata listen memiliki makna memperhatikan dengan saksama. Kata “mendengarkan” dalam bahasa Yunani yang digunakan penulis kitab, dalam hal ini adalah Rasul Matius dan Rasul Paulus, adalah kata dasar yang sama yang dibaca akoe.

Kata akoe ini hanya akan menunjukkan perbedaan makna saat dimasukkan ke dalam konteks kalimatnya. Dalam hal ini, kata akoe memiliki makna memperhatikan karena perkataan tersebut merupakan paket pengajaran yang diberikan oleh seorang pengajar firman.

Tuhan Yesus dan Rasul Paulus sudah sangat terbiasa dengan kalimat tersebut. Secara meyakinkan, mereka pastilah mendasari pemahamannya dengan ayat yang berasal dari kitab Keluaran 15:26 “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan (listen – KJV) suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Masyarakat Yahudi sangatlah mengenal bagian ini. Bagi mereka, firman Tuhan sangatlah sakral dan mereka harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh ketika firman Tuhan tersebut diajarkan.

Tidak sekedar didengarkan, firman Tuhan haruslah dipahami. Ukuran dari paham atau tidaknya kita terhadap prinsip kebenaran firman Tuhan adalah saat kita mampu merumuskan tindakan nyata untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari, berdasarkan prinsip kebenaran dari bagian firman Tuhan yang kita renungkan tersebut. Di sisi yang lain, seorang hamba Tuhan harus dapat memberikan pengertian yang mendasar kepada jemaat dari bagian firman Tuhan yang dia bawakan dalam khotbahnya.

Gereja adalah kelas belajar seumur hidup
Mari kita sejenak mengingat proses pendidikan kita saat berada, misalnya, di sekolah dasar. Di kelas 1 sekolah dasar, kita diajar untuk menghafalkan perkalian 1 x 1 hingga 10 x 10. Adakah diantara kita yang mampu menghafalkan sekian banyak perkalian tersebut hanya dalam satu kali pertemuan pelajaran matematika? Mustahil, bukan? Mari kita bayangkan ada berapa banyak persoalan kehidupan yang kita hadapi. Apakah mungkin semua permasalah tersebut dapat terjawab dengan satu atau dua kali pergi beribadah ke gereja? Jawabannya akan sama, yakni mustahil.

Gereja harusnya menjadi tempat untuk kita menimba pemahaman mengenai prinsip-prinsip kebenaran Tuhan. Seperti halnya ruang kelas, pola pembelajaran di gereja haruslah dinamis dan holistik, artinya prinsip kebenaran yang dipelajari dapat menjangkau dan diterapkan di semua sudut kehidupan kita.

Jika kita hanya mengandalkan pertemuan ibadah sekali seminggu pada waktu ibadah umum saja, sejauh mana prinsip kebenaran yang akan kita pahami? Tentunya akan sangat dangkal bukan? Belum lagi jika kita tidak memiliki semangat untuk belajar, dan disaat yang sama ada begitu banyak permasalahan kehidupan yang tidak mungkin kita abaikan begitu saja.

Pertemuan-pertemuan ibadah dalam komunitas gereja seharusnya mengusung pemahaman mengenai pendidikan warga gereja ini dengan lebih serius. Pertemuan ibadah selain ibadah umum minggu seharusnya dapat menjadi wadah yang mengasyikkan bagi jemaat untuk berkumpul dan menggali kebenaran firman Tuhan.

Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh warga gereja.
Seorang Kristen yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap iman Kristennya, akan berusaha dengan keras untuk bertumbuh dengan baik. Ada dua aspek kehidupan orang Kristen: aspek pribadi dan komunal. Kita dituntut untuk sadar akan konsekuensi iman kita secara pribadi. Berani mempertanggungjawabkan iman kita dalam hal pola pikir, perkataan dan tingkah laku.

Dalam konteks komunal, gereja sebenarnya memiliki pengertian komunitas orang beriman, bukan sekedar sebuah bangunan tempat ibadah. Jadi sebagai komunitas, semua anggota dari komunitas tersebut mengemban tanggung jawab yang sama, yakni untuk terus memastikan kebenaran Tuhan tetap ditegakkan di dalamnya. Dari sinilah muncul tanggung jawab untuk bertumbuh bersama, saling membangun, saling menjaga dan saling menasihati. Dalam hal ini, penulis surat Ibrani menuliskan demikian: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25)