Kita semua pasti sepakat bahwa seseorang yang bersalah perlu mengakui dan menyesali kesalahannya. Itu adalah harapan umum dari masyarakat terhadap siapa pun yang telah berbuat salah. Namun, pernahkah kita berpikir untuk menuntut permintaan maaf dari seseorang yang justru melakukan hal yang benar?
Perlu kita perhatikan bahwa setiap komunitas memiliki standar kebenarannya sendiri. Apa yang dianggap benar oleh satu kelompok, belum tentu benar bagi kelompok lain. Hal ini tampak jelas dalam kisah pertobatan Saulus di jalan menuju Damsyik (Kisah Rasul 9:1–9).
Pada saat itu, Saulus adalah anggota kelompok Farisi yang sangat bersemangat mempertahankan kemurnian ajaran Yudaisme. Tabib Lukas menulis:
“Sementara itu Saulus masih mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa... supaya apabila ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” (Kis. 9:1–2, AYT)
Bagi Saulus, tindakannya itu adalah bentuk kesetiaan kepada Tuhan. Ia yakin sedang melakukan hal yang benar, bahkan mulia. Namun, Tuhan punya cara yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang menurut kita benar, melainkan apa yang menurut Tuhan benar.
Melalui kisah ini, kita dapat belajar setidaknya dua hal penting tentang kebenaran sejati dan pertobatan yang mengubahkan.
1. Merasa Benar, Ternyata Salah
Saulus dengan semangat membara menangkap, memenjarakan, bahkan menghukum mati banyak pengikut Kristus. Ia mendapat dukungan penuh dari komunitasnya, bahkan membawa surat kuasa dari Imam Besar. Namun di tengah perjalanannya menuju Damsyik, Tuhan Yesus sendiri menghadangnya dan berkata:
“Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4, AYT)
Pertemuan itu menjatuhkannya ke tanah dan membutakan matanya. Dalam sekejap, keyakinan yang selama ini ia pegang teguh runtuh. Apa yang ia anggap sebagai pelayanan bagi Tuhan ternyata justru menyakiti hati Tuhan sendiri.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang kita anggap benar adalah kebenaran yang sejati. Sering kali kita melakukan pelayanan di gereja, aktif dalam berbagai kegiatan, dan berpikir semuanya demi kemuliaan Tuhan. Tetapi, sudahkah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar melayani untuk memuliakan Tuhan, atau sekadar mencari kebanggaan pribadi?”
Kebenaran sejati menuntut kejujuran hati dan kerendahan diri di hadapan Tuhan. Hanya ketika kita berani mendengarkan suara hati nurani yang diterangi Roh Kudus, kita akan melihat apakah arah hidup kita masih selaras dengan kehendak-Nya.
2. Kebenaran Sejati Selalu Membawa Perubahan
Setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik, kehidupan Saulus berubah total. Tuhan menunjukkan kepadanya kebenaran yang hakiki, menggantikan standar kebenaran lama yang ia yakini. Dari seorang yang penuh kebencian dan semangat membinasakan, Saulus menjadi rasul penuh kasih yang rindu menyelamatkan banyak jiwa.
Inilah pekerjaan Firman Tuhan — mentransformasi kehidupan seseorang secara menyeluruh.
Pertemuan dengan Kristus bukan hanya menyentuh pikiran, tetapi mengubah hati, cara pandang, dan seluruh arah hidup kita.
Banyak orang Kristen berkata bahwa mereka pergi ke gereja untuk beribadah atau mencari Tuhan. Namun, pertanyaannya adalah:
“Apakah setiap ibadah benar-benar membawa kita berjumpa dengan Tuhan?”
Tanda yang paling jelas dari perjumpaan sejati dengan Tuhan adalah perubahan hidup.
Perjumpaan dengan Kristus selalu menghasilkan pertobatan — perubahan pola pikir, sikap hati, dan karakter, menuju satu tujuan: menjadi semakin serupa dengan Yesus.
Menjadi orang Kristen sejak lahir tidak menjamin hidup kita sudah benar di hadapan Tuhan. Berpuluh tahun beribadah pun tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan rohani, jika kita tidak sungguh membuka hati terhadap Firman Tuhan. Karena itu, marilah kita memastikan bahwa setiap kali kita beribadah, kita benar-benar mendengar suara Tuhan, merenungkannya, dan mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari.
Diperbarui Hari demi Hari
Pertobatan sejati bukan sekadar perubahan arah, tetapi perubahan hati — sebuah proses yang terus berlangsung setiap hari di bawah bimbingan Roh Kudus.
Perjumpaan dengan Tuhan yang sejati selalu meninggalkan jejak perubahan.
Semakin sering kita bertemu dengan Kristus dalam doa, firman, dan ibadah, semakin kita dibentuk untuk menyerupai Dia.
Kiranya kisah Saulus yang diubah menjadi Paulus meneguhkan kita semua:
Bahwa kebenaran sejati bukanlah tentang mempertahankan pendapat, melainkan tentang membiarkan Tuhan membentuk hidup kita sesuai kehendak-Nya.
“Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17, AYT)
Amin.