Tidak berhenti sampai disitu, jiwa-jiwa baru ini mulai bertekun dalam didikan dan pengajaran para rasul. Ketekunan dalam pengajaran inilah yang membawa perubahan besar dan mendasar pada kehidupan mereka. Mereka menjadi pribadi yang berdampak besar dalam tindakan dan kesaksian. Kehidupan lama mereka yang telah diubahkan oleh kuasa Roh Kudus tersebut rupanya menarik simpati dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang “disukai” – kata ini juga memiliki makna diterima dan dinikmati keberadaannya – sehingga setiap hari ada orang-orang baru yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus karena melihat kehidupan mereka ini (Kisah 2:47).
Laman
21 Desember 2016
QUO VADIS PENTAKOSTA (A)
Tidak berhenti sampai disitu, jiwa-jiwa baru ini mulai bertekun dalam didikan dan pengajaran para rasul. Ketekunan dalam pengajaran inilah yang membawa perubahan besar dan mendasar pada kehidupan mereka. Mereka menjadi pribadi yang berdampak besar dalam tindakan dan kesaksian. Kehidupan lama mereka yang telah diubahkan oleh kuasa Roh Kudus tersebut rupanya menarik simpati dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang “disukai” – kata ini juga memiliki makna diterima dan dinikmati keberadaannya – sehingga setiap hari ada orang-orang baru yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus karena melihat kehidupan mereka ini (Kisah 2:47).
KESADARAN AKAN PENTINGNYA MEMBERI JAWAB
22 Februari 2016
ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI (Lukas 10:25-37)
Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.
21 Februari 2016
MENGHADAPI PENDERITAAN SEBAGAI KONSEKUENSI IMAN (Renungan dari kitab Wahyu 2:8-11)
Pendahuluan
Saudara, kita tentu sering mendengar berita tentang Islamic
State (IS) atau ISIS — kelompok militan radikal yang berusaha
mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Demi mencapai tujuan itu,
mereka tidak segan melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap siapa pun yang
berbeda pandangan dan iman.
Beberapa tahun lalu, ISIS menyandera 230 orang Kristen di Suriah,
terdiri dari 51 anak-anak, 84 perempuan, dan 95 laki-laki. Uang
tebusan sebesar 1,1 juta dolar AS telah dikumpulkan oleh warga setempat, namun
ISIS menolak, karena mereka lebih menginginkan perhatian dunia.
Kisah ini menyayat hati kita. Saudara-saudara seiman kita di Timur
Tengah hidup dalam tekanan yang luar biasa, hanya karena mereka mempertahankan
iman kepada Yesus Kristus.
Namun, bentuk penderitaan karena iman tidak hanya terjadi di sana.
Di Indonesia pun, meski tidak sekejam itu, banyak orang Kristen menghadapi
tekanan, diskriminasi, atau kehilangan karena memilih setia kepada Kristus.
Maka muncul pertanyaan:
“Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita ketika kita
mempertahankan iman?”
Dan apa yang Tuhan kehendaki dari kita di tengah penderitaan itu?
Mari kita belajar dari jemaat Smirna, sebagaimana
tertulis dalam Wahyu 2:8–10, untuk menemukan dua pesan penting bagi
kita hari ini.
1. Tuhan Ingin Kita Tidak Takut, Karena
Penderitaan Itu Sementara
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya
Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya
kamu dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.”
(Wahyu 2:10a, AYT)
Rasa takut adalah hal yang wajar ketika menghadapi ancaman. Jemaat
Smirna pun mengalaminya. Mereka hidup di bawah tekanan politik dan sosial yang
berat. Pada masa itu, Yudaisme masih dianggap sah oleh
pemerintah Romawi, tetapi Kekristenan dipandang sebagai sekte
baru yang berbahaya. Karena menolak berpartisipasi dalam upacara penyembahan
dewa-dewa Roma, mereka dianiaya, dikucilkan, bahkan kehilangan mata
pencaharian.
Namun Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan
kemiskinanmu — namun engkau kaya.” (Wahyu 2:9).
Kata “kemiskinan” di sini berarti kemiskinan yang sangat
parah, tetapi mereka disebut “kaya” karena kaya dalam iman dan janji Kristus.
Ketika Tuhan berkata bahwa penderitaan mereka hanya akan
berlangsung “sepuluh hari,” itu adalah lambang waktu yang singkat dan
terbatas. Artinya, Tuhan menegaskan bahwa penderitaan orang percaya
tidak akan berlangsung selamanya — karena Allah tetap memegang kendali
atas segalanya.
Bayangkan proses seorang ibu melahirkan. Pada puncak persalinan,
rasa sakitnya begitu hebat, bahkan mengancam nyawa. Namun begitu mendengar
tangisan bayinya, seluruh rasa sakit seolah lenyap, digantikan sukacita yang
tak tergambarkan.
Demikianlah penderitaan karena iman — sakit, tapi sementara, dan
akan berganti dengan kemuliaan yang kekal.
Jadi, saudara, ketika kita menghadapi tekanan karena iman, jangan
takut. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami ada batasnya, dan
Tuhan sendiri tahu persis apa yang kita tanggung. Ia tidak membiarkan satu pun
air mata kita sia-sia.
2. Tuhan Ingin Kita Tetap Setia Sampai Mati,
Karena Ia Akan Memberikan Mahkota Kehidupan
“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan
kepadamu mahkota kehidupan.”
(Wahyu 2:10b, AYT)
Kesetiaan adalah nilai yang makin langka di dunia modern — baik
dalam relasi, pekerjaan, maupun iman. Banyak orang mudah menyerah, meninggalkan
komitmen, bahkan berpaling dari Tuhan demi kenyamanan duniawi.
Namun Yesus memanggil jemaat Smirna — dan kita — untuk tetap
setia sampai mati.
Kata Yunani pistos yang diterjemahkan “setia,” juga bermakna
“percaya” atau “beriman.” Artinya, Tuhan menghendaki kita beriman teguh
sampai akhir, sekalipun harus mengorbankan nyawa.
Jemaat Smirna kelak membuktikan kesetiaan itu. Sejarah
mencatat, Polikarpus, uskup Smirna yang terkenal, mati sebagai
martir karena menolak menyangkal Kristus. Sebelum dibakar hidup-hidup, ia
berkata,
“Selama delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus, dan Ia
tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku
yang telah menyelamatkanku?”
Kepada orang-orang seperti Polikarpus dan semua yang setia, Yesus
menjanjikan mahkota kehidupan — lambang dari sukacita,
kemuliaan, dan kehidupan kekal di hadapan Allah. Yakobus 1:12 berkata:
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila
ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah
kepada barang siapa yang mengasihi Dia.”
Kesetiaan ini telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Filipi 2:8–9 menulis:
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya
dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah
sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”
Saudara, seperti dalam janji pernikahan yang kita ikrarkan — “setia
dalam suka dan duka, sehat atau sakit, kaya atau miskin, sampai maut
memisahkan” — demikian pula komitmen kita kepada Kristus haruslah
total dan tak tergoyahkan.
Dunia mungkin mencoba membeli iman kita dengan kekayaan, jabatan, status, atau
ancaman. Tetapi orang percaya sejati akan berkata:
“Sekalipun aku kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan
Yesusku.”
Penutup: Setia Hingga Akhir, Menerima Mahkota
Kekal
Penganiayaan jemaat Smirna bukan karena kesalahan, melainkan
karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Demikian pula dengan kita — mengikut Yesus berarti siap menderita bagi Dia.
Tetapi penderitaan itu tidak sia-sia, sebab Tuhan tahu dan peduli.
Ia sudah menyiapkan mahkota kehidupan, yaitu kehidupan
kekal di hadirat-Nya bagi setiap orang yang setia.
Karena itu, marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan apa pun demi iman
kita. Sebab Yesus yang setia telah lebih dahulu menang, dan di dalam Dia kita
pun akan menang.
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah
engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota
kehidupan.” (Wahyu 2:10)
Amin.