Laman

21 Desember 2016

QUO VADIS PENTAKOSTA (A)


“But the Holy Spirit will come upon you and give you power. 
Then you will tell everyone about me in Jerusalem, in all Judea, in Samaria, and everywhere in the world.”
(Kisah Para Rasul 1:8 – CEV)

Ungkapan Domine quo vadis adalah pertanyaan Simon Petrus yang ditujukan kepada Tuhan Yesus, yang dicatat dalam terjemahan bahasa Latin Injil Yohanes 13:36. Frasa tersebut diterjemahkan dengan “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” dalam Alkitab Terjemahan Baru. Simon Petrus memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengikuti gurunya, kemanapun Dia pergi. Bahkan jika harus dibayar dengan nyawa demi mengikuti gurunya, Simon Petrus siap membayarnya (ayat 37). Namun demikianlah ironi yang sebenarnya terjadi. Waktu telah membuktikan bahwa saat Petrus mengatakan perkataan tersebut, dia tidaklah benar-benar memahami setiap konsekuensinya.

Fenomena Pentakosta dalam Kisah Rasul pasal 2, yang dialami para murid Tuhan Yesus saat di Yerusalem, mengawali berdirinya gereja Tuhan secara universal, yang tentunya bukanlah sekedar bangunan atau organisasi. Ledakan keberanian untuk mewartakan Injil terjadi dalam kehidupan para murid Yesus, yang sebelum peristiwa Pentakosta, mereka tidak memiliki keberanian tersebut. Itulah gerakan Pentakosta yang pertama. 

Pergerakan Pentakosta modern rupanya sudah tidak lagi mewarisi ledakan keberanian untuk mewartakan Injil seperti yang terjadi pada jemaat gereja mula-mula. Sekarang ini, semangat mewartakan injil tergantikan dengan euforia kegiatan ibadah yang hingar bingar, yang sebenarnya tidak memiliki dasarnya pada konsep gerakan Pentakosta, bahkan secara Alkitabiah sekalipun. Tulisan Quo Vadis Pentakosta ini berusaha memahami pesan mendasar dari Pentakosta dan juga mempertanyakan kembali arah pergerakan kita sebagai bagian dari gereja aliran Pentakosta.
  
Secuil Pentakosta dalam Perjanjian Lama
Pemaknaan terhadap hari raya Pentakosta rupanya mengalami perkembangan dari masa ke masa. Bagi orang Yahudi, hari itu penting dan merupakah sebuah keharusan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Pentakosta adalah kata Yunani yang berarti “(hari) kelimapuluh.” Tibanya hari Pentakosta berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat Israel merayakan Paskah. “Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kau rayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Keluaran 34:22).” 

Perlu kita perhatikan bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu merupakah hari yang penuh sukacita dan dimana mereka bersyukur kepada Allah atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepada Allah dengan membawa korban syukur yang merupakan persembahan mereka kepada Allah, sekaligus menyatakan pengakuan mereka bahwa segala yang baik yang mereka terima, berasal dari Allah (baca dalam Ulangan 16:11 dan Imamat 23:17-20). Pentakosta sedianya merupakan hari perayaan panen, yang dalam istilah Ibrani dikenal dengan Shavuot. Catatan lain dalam PL mengenai hari raya ini ada dalam Keluaran 23:16 (hari raya menuai) dan Bilangan 28:26 (hari hulu hasil). Jadi yang perlu ditekankan disini adalah bahwa hari raya Pentakosta berhubungan dengan pertanian, khususnya hasil panen gandum dalam tradisi Israel.

Momentum Pentakosta Perjanjian Baru: Intisari Peranan Roh Kudus
Hari Pentakosta adalah hari yang penting bagi orang-orang Yahudi, demikian juga bagi orang Kristen. Dalam Perjanjian Baru kita membaca narasi dari Kisah Para Rasul bahwa hari Pentakosta merupakan hari turunnya Roh Kudus, di mana sejak hari Raya Pentakosta tersebut, Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja secara penuh di dalam Gereja-Nya. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus belum bekerja sebelum hari raya Pentakosta tersebut, karena kita dengan jelas membaca dalam keempat Injil bahwa Roh Kudus sudah bekerja sebelum itu, baik pada waktu pembaptisan Yesus, pencobaan di padang gurun, dll (Matius 3:16; 4:1; Markus 1:10; Lukas 3:21-22; 4:1; Yohanes 1:32-33). 

Di dalam Perjanjian Lama, kita juga membaca bagaimana Roh memimpin para nabi, pada saat tertentu dan ketika mengerjakan tugas tertentu. Namun demikian, Alkitab menjelaskan bahwa kehadiran dan peran Roh Kudus tidak pernah dialami oleh umat Allah secara penuh sebagaimana terjadi pada hari Pentakosta, yaitu hari setelah Yesus menyelesaikan karya penyelamatan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam pemahaman inilah kita memahami pernyataan Injil Yohanes berikut: “...sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum DIMULIAKAN (Yohanes 7:39b).” Kata “dimuliakan” sangat menonjol di dalam Injil Yohenes, di mana istilah itu mengacu kepada kematian Yesus (band. Yohanes 12:23-24). Dengan perkataan lain, Yohanes menegaskan relasi yang erat dan yang tidak terpisahkan antara karya Yesus yang telah diselesaikan melalui kematianNya, dengan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta.

Pentingnya hari Pentakosta tersebut dapat dilihat juga dari penegasan Yesus pada Kisah Rasul 1: 4-5. Pada ayat tersebut Tuhan Yesus, di satu pihak melarang rasul-rasul pergi meninggalkan Yerusalem. Di pihak lain, rasul-rasul diperintahkan untuk “menantikan janji Bapa.” Mengapa? Bukankah dari segi pengetahuan dan pengalaman, rasul-rasul telah mengenal siapa Yesus sesungguhnya dan telah hidup bersamaNya selama kira-kira tiga tahun? Ditinjau dari segi waktu, apakah tidak sebaiknya mereka segera pergi ke seluruh dunia untuk mengabarkan injil? Tuhan Yesus melarang mereka karena semua pengetahuan dan pengalaman itu harus disertai dengan hadirnya Roh Kudus dalam diri mereka. Hal itu ditegaskan Tuhan Yesus pada Kisah 1:8 “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamuDan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem... sampai ke ujung bumi.” Itulah sebabnya mereka diperintahkan untuk menantikan janji Bapa akan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta (Kisah 2)

Banyak jemaat gereja-gereja Pentekosta dan Kharismatik seringkali memaknai hari raya Pentakosta hanya didasarkan pada penggalan laporan Lukas mengenai peristiwa yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2, yakni ayat 1-11. Menurut laporan Lukas, pada saat itu para murid yang berkumpul di sebuah loteng di Yerusalem menerima karunia Roh Kudus yang turun ke atas setiap mereka dalam bentuk seperti lidah api. Peristiwa tersebut dilanjutkan dengan pujian mereka terhadap perbuatan Tuhan yang ajaib, yang secara fenomenal dilantunkan dalam beberapa bahasa yang berbeda, yang tidak mereka kuasai sebelumnya. Jika kita berhenti pada bagian ini – fenomena bahasa roh yang popular di kalangan gereja Pentakosta dan Kharismatik –, maka kita tidak akan mendapatkan pesan yang sesungguhnya, yang ingin disampaikan oleh tabib Lukas dalam catatannya tersebut. Tanpa bermaksud menafikan nilai penting dari fenomena bahasa roh itu, tabib Lukas ingin menunjukkan hal yang lebih besar, lebih penting dan sifatnya lebih mendasar. 

Dalam Kisah Rasul 2:14-47, Lukas mencatat tentang dampak besar yang terjadi karena fenomena bahasa roh tersebut. Dalam kuasa dan kepenuhan Roh Kudus, Rasul Petrus berkhotbah memberi penjelasan mengenai latar belakang terjadinya fenomena itu. Ia memberitakan pribadi Yesus Kristus, Allah yang turun ke dalam dunia, mengambil rupa sebagai manusia biasa, yang disalibkan demi menebus dosa manusia, dan yang telah bangkit mengalahkan maut pada hari ketiga, serta yang telah naik kembali ke surga. Dampak dari khotbah, atau bahkan bisa kita katakan sebuah kesaksian, yang dipenuhi kuasa Roh Kudus tersebut sangatlah masif. Kurang lebih ada 3000 orang menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan Yesus dan memberi diri dibabtis.

Tidak berhenti sampai disitu, jiwa-jiwa baru ini mulai bertekun dalam didikan dan pengajaran para rasul. Ketekunan dalam pengajaran inilah yang membawa perubahan besar dan mendasar pada kehidupan mereka. Mereka menjadi pribadi yang berdampak besar dalam tindakan dan kesaksian. Kehidupan lama mereka yang telah diubahkan oleh kuasa Roh Kudus tersebut rupanya menarik simpati dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang “disukai” – kata ini juga memiliki makna diterima dan dinikmati keberadaannya – sehingga setiap hari ada orang-orang baru yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus karena melihat kehidupan mereka ini (Kisah 2:47).

Sebuah Ironi Pentakosta Modern: “Pencitraan”
Anda melihat benang merah dari peristiwa Pentakosta ini bukan? Ya. Secara garis besar, Pentakosta dalam awal sejarah Israel hingga dalam zaman Perjanjian Baru, tetap membicarakan hal yang sama: Sukacita dan ucapan syukur karena pemeliharaan Tuhan dalam PENUAIAN. Inilah nilai inti dari Pentakosta dalam perspektif kekristenan. Ironisnya, banyak orang Kristen yang justru hanya berfokus pada fenomena bahasa roh atau karunia-karunia Roh Kudus saja, dan melupakan nilai inti yang sesungguhnya. Kebanyakan orang Kristen lebih mengejar karunia berbahasa roh, daripada bersaksi dalam urapan Roh Kudus untuk membawa jiwa-jiwa datang kepada Kristus, seperti yang telah dilakukan oleh Rasul Petrus kala itu. Hal ini jelas sudah sangat menyimpang dari semangat Pentakosta yang ditunjukkan oleh komunitas gereja mula-mula.

Kekristenan yang salah fokus ini dapat dikatakan sebagai kekristenan yang sombong, yakni kekristenan yang mengejar tampilan luar atau pencitraan saja. Jika dalam sebuah persekutuan atau ibadah, seorang terlihat berkata-kata dalam bahasa roh, hal itu tentunya akan menarik perhatian orang lain. Suatu anggapan yang dimiliki oleh orang Kristen, yang kebanyakan berasal dari aliran pentakosta dan karismatik, tentang seseorang yang memiliki karunia bahasa roh adalah mereka mendapat predikat sebagai orang yang lebih rohani, lebih suci, lebih layak melayani di mimbar gereja dan lebih dewasa secara iman.

Menegaskan kembali makna “Penuh dengan Roh Kudus”
Dalam Kisah Rasul 2:4, tabib Lukas menarasikan demikian “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Kata penuhlah dalam bahasa aslinya menggunakan kata Yunani eplesthesan (aorist – pasif – indikatif – orang ketiga – jamak), sebenarnya diterjemahkan dengan “mereka dulu pernah dipenuhi,” yang memiliki makna bahwa peristiwa kepenuhan tersebut bersifat fenomenal, unik, khusus hanya terjadi kepada mereka saat itu saja. Tidak ada kesan berkelanjutan dari peristiwa kepenuhan yang dilanjutkan dengan berbahasa roh tersebut. Memang dalam catatan Kisah Para Rasul sendiri menyebutkan beberapa peristiwa terjadinya kepenuhan Roh Kudus yang beberapa diikuti dengan fenomena bahasa roh. Namun hal tersebut lantas tidak memutlakkan bahwa fenomena bahasa roh selalu menjadi tanda awal, saat kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam diri orang percaya kala itu, walaupun disaat yang sama harus diakui bahwa kemungkinan itu juga ada.

Tabib Lukas beberapa kali menuliskan fenomena bahasa roh terjadi, pada masa gereja mula-mula. Kisah Rasul 10:46, yakni pada waktu Kormelius dari Kaisarea mengundang Petrus ke rumahnya, atas petunjuk malaikat Tuhan yang menjumpai Kornelius. Semua orang yang mendengarkan pemberitaannya, dipenuhi dengan Roh Kudus dan kemudian berbahasa roh. Kisah Rasul 19:6 juga mengisahkan disaat Paulus menumpangkan tangan kepada dua belas orang di Efesus yang sebelumnya telah menerima babtisan dari Yohanes Pembabtis. Keduabelas orang tersebut berbahasa roh dan kemudian juga bernubuat. 

Dalam Kisah Rasul 4:31, tabib Lukas menulis bagaimana kelompok orang percaya mengalami kepenuhan Roh Kudus. Suasana yang mirip dengan peristiwa Pentakosta pertama dalam pasal 2:1 terjadi. “..goyanglah tempat mereka..” Dalam bagian tersebut, tabib Lukas tidak mencatat terjadinya apakah bahasa roh terjadi atau tidak. Memang tidak bisa disangkal adanya kemungkinan bahwa fenomena berbahasa roh terjadi di kala itu. Beberapa tradisi mempercayai bahwa pada waktu itu kemungkinan mereka berbahasa roh juga. Namun tentunya Lukas juga memiliki alasan jika kemudian tidak menuliskannya dalam bagian ini.

Makna “penuh Roh Kudus” yang relevan dengan kehidupan kekristenan
Dalam modul kamus E-Sword versi 8.0.6, The Complete Word Study Dictionary (© 1992 By AMG International, Inc. Chattanooga, TN 37422, U.S.A. Revised edition, 1993), kata penuhlah (eplesthesan – yun.) diterangkan memiliki arti harafiah memenuhi atau mengisi. Matius 27:48 menggunakan kata ini untuk menggambarkan kejadian ketika seorang prajurit memberi minum Yesus dengan menggunakan bunga karang (sponge – ingg.) yang lebih lugas dikenal juga dengan kata spons dalam bahasa Indonesia. Seperti prinsip spons inilah gambaran Roh Kudus yang memenuhi kehidupan orang percaya. Setiap ruang kosong dalam kehidupan seorang percaya, “diisi” oleh Roh Kudus. Hal tersebut akan membuat spons kehidupan seorang percaya mengembang sedemikian rupa. Sebuah gambaran bahwa pribadi Roh Kudus akan mengembangkan kualitas kehidupan seorang percaya. Tidak ada lagi celah kosong yang tersisa dari kehidupan kita yang tidak dikuasai oleh Roh Kudus. Tidak ada lagi celah bagi pemenuhan keinginan daging. Tujuan hidup kita akan berganti menjadi pemenuhan keinginan roh.

Secara metaforis, kata eplesthesan dipakai untuk menggambarkan dipenuhinya seseorang oleh sesuatu yang memiliki kesan yang kuat secara emosional, pemikiran, dan nilai-nilai, yang kemudian mempengaruhi tindakan dan pengambilan keputusan orang tersebut. Pengertian yang sama juga acapkali digunakan saat menunjukkan perasaan marah dan takut (band. Lukas 4:28; 5:26; 6:11; Kisah 3:10; 5:17; 13:45). Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa saat Roh Kudus memenuhi seseorang, itu berarti Ia (seharusnya dapat) menguasai seluruh aspek kehidupan orang tersebut. Kepenuhan Roh Kudus berbicara tentang kehidupan yang tidak lagi dikuasai pikiran, perasaan dan kehendak untuk memuaskan diri sendiri. Kepenuhan Roh Kudus akan membawa seorang percaya untuk menghidupi tujuan yang lebih hakiki, yang lebih ilahi, yakni tujuan hidup yang sesuai dengan rancangan Tuhan dalam kehidupannya. (bersambung)

KESADARAN AKAN PENTINGNYA MEMBERI JAWAB


“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Dalam Matius 28:19-20, umat Kristen menerima amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus untuk memberitakan Injil (euangelion – yang secara harafiah berarti Kabar Sukacita) kepada semua suku bangsa. Amanat yang diberikan pada umat Kristen tersebut lebih lugas dikenal dengan istilah BERSAKSI. Namun demikian, umat Kristen biasanya terbelah dalam dua kutub penerapan yang berbeda dan terkesan bertolak belakang, dalam memahami dan menerapkan kata “bersaksi. 

Dua kutub tersebut adalah (1) bersaksi melalui perkataan dan (2) bersaksi melalui perbuatan. Didalam konteks kehidupan di lingkungan masyarakat dengan kekristenan sebagai minoritas, sebagian besar umat Kristen cenderung memilih pilihan yang kedua, yakni bersaksi melalui perbuatan. Hal tersebut dianggap lebih “aman” karena tidak menyinggung keyakinan orang lain dan tidak beresiko. Sedangkan pilihan yang pertama – bersaksi melalui perkataan – seringkali dihindari karena diasumsikan akan berakhir dengan perdebatan antar keyakinan. Apakah selalu seperti itu?

Keseimbangan Kualitas Antara Pemahaman Dengan Perbuatan
Pada dasarnya, perbuatan adalah perwujudan atau bentuk nyata dari prinsip-prinsip dan buah pikiran yang dianut oleh seseorang. Jika prinsipnya benar maka benar pula perbuatannya. Demikian juga sebaliknya, jika prinsipnya salah maka salah pula perbuatannya. Jika kita memiliki pengetahuan yang benar terhadap firman Tuhan, maka kita juga akan melakukan hal-hal yang benar yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan yang kita pahami. 

Saya beri gambaran seperti saat kita membuat kue. Saat kita mengetahui semua bahan baku yang diperlukan beserta dengan ukurannya, kemudian dibarengi dengan pengetahuan akan langkah-langkah pembuatan yang benar, maka kita akan dapat membuat sebuah hidangan kue yang dapat dinikmati semua orang. Intinya: Prinsip harus benar dulu, baru kemudian diterapkan dalam perbuatan/tindakan yang selaras dengan prinsip tersebut.

Pentingnya Memberi Jawab Dengan Benar
Pada kenyataannya, tantangan bagi dunia kekristenan berada pada tataran konsep (pemahaman terhadap ajaran-ajaran) kekristenan itu sendiri. Krisis identitas iman seorang Kristen biasanya diawali dengan kurangnya pemahaman mengenai pengajaran kekristenan. Misalnya, saat ada orang yang menuduh bahwa Tuhannya orang Kristen ada tiga, banyak orang Kristen sendiri yang kebingungan dalam menjawab atau meluruskan tuduhan tersebut. 

Contoh lainnya adalah banyaknya orang Kristen yang kalang kabut kebingungan saat kemunculan novel The Da Vinci Code, karya penulis bernama Dan Brown, yang meledak di pasaran. Dalam novel tersebut, Yesus diceritakan memiliki hubungan khusus dengan Maria Magdalena. Banyak gereja bahkan sempat bereaksi dengan cepat dengan membuat pertemuan-pertemuan pendalaman Alkitab untuk mengatasi kegoyahan iman banyak jemaatnya. Betul sekali! Banyak jemaat Kristen yang goyah keimanannya setelah membaca novel dan menyaksikan film The Da Vinci Code, beberapa tahun lalu.

Pertanyaan penting yang harusnya kita jawab adalah: Apakah gereja sudah melakukan upaya untuk mempersiapkan jemaatnya untuk menjadi pribadi yang siap secara intelektual/keilmuan memberi jawab terhadap tantangan-tantangan tersebut? Banyak gereja lebih memilih berfokus pada pengajaran-pengajaran yang bersifat normatif, misalnya pembentukan karakter pribadi seseorang, bagaimana mengatasi pergumulan dengan dosa pribadi, bagaimana sikap hati seorang pelayan gereja, cara memperoleh kehidupan yang diberkati, dsb. Hal tersebut bukannya tanpa alasan. Pertumbuhan kedewasaan yang dirasa lambat, memaksa gereja melakukannya. Namun ada juga gereja yang memilih dalam posisi status quo dan menghindari pengajaran-pengajaran yang bersifat apologetis, supaya tetap aman dan tidak dimusuhi oleh lingkungan sekitarnya.


Gereja memiliki “Hak Jawab” dalam menanggapi semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Memberi jawab tidaklah selalu berkonotasi negatif semacam berdebat, gontok-gontokan, eyel-eyelan,atau yang lainnya. Memberi jawab bisa dilakukan dengan dengan cara mengajak dan membiasakan orang di sekitar kita untuk memiliki pola pikir yang logis dan rasional, tanpa ada keinginan untuk menjatuhkan dan menghina keyakinan seseorang. 

Untuk dapat melakukannya, kita harus terlebih dahulu terbiasa memiliki pola pikir yang logis dan rasional. Tapi apakah iman dapat dirasionalkan? Jawaban singkatnya: DAPAT! Tabib Lukas dalam injilnya pasal 1:1-4 telah membuktikannya untuk kita semua. Dia telah menyusun sebuah berita mengenai kabar sukacita keselamatan, yang diberikan kepada setiap orang yang mau percaya kepada Yesus Kristus, dengan kaidah-kaidah pemberitaan yang sesuai pada jamannya. Jika seorang Lukas mampu melakukannya, maka kitapun pasti diberi kemampuan oleh Tuhan untuk melakukannya.

22 Februari 2016

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI (Lukas 10:25-37)


     Pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang ahli Taurat yang dikisahkan dalam Lukas 10:25-37 membawa sang ahli Taurat dan para murid Tuhan Yesus masuk dalam sebuah perenungan yang dalam. Dalam pertemuan itu, sang Ahli Taurat mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuhan Yesus. “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan. Mungkin karena tujuan awalnya yang salah (yaitu untuk mencobai Tuhan Yesus), sang Ahli Taurat menanyakan pertanyaan yang seharusnya dapat ia jawab sendiri berdasarkan kitab Taurat yang telah ia kuasai. 

     Tuhan Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan balik bertanya kepada sang Ahli Taurat. “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Dan terbukti sang Ahli Taurat pun dapat menjawab dengan benar dengan mengutip dari kitab Ulangan 6:4 dan Imamat 19:18. Tuhan Yesus menjawab dengan mengatakan “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tidak berhenti disitu, sang Ahli Taurat melanjutkan pertanyaannya dengan kembali bertanya ”Siapakah sesamaku manusia?”  Bagi kita yang secara umum mengerti pengajaran Tuhan Yesus mengenai kasih, pertanyan tersebut terlihat lucu. Namun saat kita pahami latar belakang orang Yahudi dan kehidupan agamawi mereka, kita akan mengerti alasan kenapa ia bertanya demikian.

     Dalam masyarakat Yahudi, terdapat semacam "lingkaran-lingkaran" kelompok masyarakat yang berlaku. Lingkar terdalam dianggap paling suci dan terhormat, sedangkan lingkar terluar dianggap paling berdosa dan kotor. Imam dan kaum Lewi adalah pemuka agama yang sangat dihormati di kalangan Yahudi. Orang Samaria dan bangsa kafir (gentiles – ingg.) adalah kelompok orang yang sangat dibenci oleh orang Yahudi. Jadi bagi orang Yahudi, “sesama manusia” adalah sesama bangsa Yahudi saja.

     Berdasarkan pandangan tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan kepada Ahli Taurat ini arti mengasihi sesama manusia. Tuhan Yesus menggunakan cerita “Orang Samaria Yang Baik Hati” untuk menjelaskan pemahaman yang benar tentang ungkapan “Sesama Manusia.”

     Dalam kisah Orang Samaria yang baik ini ada 3 kelompok orang yang menonjol. Kelompok tersebut adalah para perampok, Imam dan Lewi, serta orang Samaria. Dikisahkan ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Di tengah jalan ia dirampok dan dihajar perampoh hingga sekarat dan hampir mati kemudian ditinggalkan tergeletak di pinggir jalan. Beberapa waktu kemudian ada Imam yang sedang dalam perjalanan turun dari Yerusalem. Saat sang Imam melihat orang yang terluka itu, ia berjalan menjauh dan meninggalkannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang Lewi yang beberawa waktu kemudian juga melewati tempat itu. Ia berjalan menjauh dan tidak menolong orang yang terluka tersebut. Dan kemudian lewatlah pula seorang Samaria. Melihat ada orang yang terluka, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan kemudian mendekatinya untuk menolongnya. Ia meminyaki luka-luka orang tersebut, menyiramnya dengan anggur untuk menghindari infeksi, kemudian menaikkan orang tersebut ke atas keledai tunggangannya. Ia membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan dan merawatnya disana. Saat ia harus melanjutkan perjalanan, ia membayar pemilik penginapan untuk meneruskan proses perawatan tersebut sampai ia kembali lagi. 

     Mari kita pelajari kembali tiga kelompok orang yang digambarkan dengan menonjol dalam kisah orang Samaria yang baik hati tersebut:

     1. Perampok
     Perampok hanya mengingini milik orang lain untuk dikuasainya. Orang yang tidak pernah merasa puas akan apa yang ia miliki. Saat melihat orang lain yang memiliki lebih, ia menjadi iri dan ingin memilikinya pula. Orang yang iri dan tidak suka melihat keberhasilan orang lain, ingin menjadi lebih dengan motivasi ingin mengalahkan orang lain, pada hakekatnya sama dengan perampok. Ia tidak lagi pedulia akan cara mendapatkannya, yang penting dapat mengalahkan orang lain dan menjadi lebih.

     2.  Imam dan Lewi
     Imam dan Lewi adalah pelayan-pelayan Tuhan yang seharusnya memiliki moralitas yang unggul. Ia harusnya dapat menjadi teladan perbuatan yang baik. Seorang Imam dan Lewi akan menjadi najis dan tidak dapat melayani saat ia menyentuh darah dan mayat selain hewan korban di Bait Allah. Mungkin imam dan lewi tersebut tidak mau menjadi najis dengan menolong sang korban perampokan tersebut, karena proses penyucian imam dan lewi adalah sebuah proses yang panjang dan ribet. Hal ini adalah gambaran dari para pelayan Tuhan yang tidak mengerti intisari dari pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan hanya menjadi aktivitas tanpa nilai luhur. Pelayanan dijadikan bahan pencitraan tingkat kerohanian, karena dengan terlibat dalam pelayanan orang akan dianggap lebih kudus dan dewasa rohani. Pada kenyataannya itu tidaklah tepat.

     3. Orang Samaria
    Kasih tidak memandang siapa orang yang seharusnya dikasihi. Kasih akan mengasihi semua manusia. Seseorang yang memiliki kasih dalam hidupnya, ia akan rela melakukan apa saja untuk mengasihi semua manusia, tanpa memandang batasan apapun. Karena kasih, orang akan rela mengorbankan apapun, seperti halnya Tuhan Yesus yang rela memberi nyawanya, untuk menyatakan kasihNya kepada semua manusia. 

     Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.  


21 Februari 2016

MENGHADAPI PENDERITAAN SEBAGAI KONSEKUENSI IMAN (Renungan dari kitab Wahyu 2:8-11)

Pendahuluan

Saudara, kita tentu sering mendengar berita tentang Islamic State (IS) atau ISIS — kelompok militan radikal yang berusaha mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Demi mencapai tujuan itu, mereka tidak segan melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap siapa pun yang berbeda pandangan dan iman.
Beberapa tahun lalu, ISIS menyandera 230 orang Kristen di Suriah, terdiri dari 51 anak-anak, 84 perempuan, dan 95 laki-laki. Uang tebusan sebesar 1,1 juta dolar AS telah dikumpulkan oleh warga setempat, namun ISIS menolak, karena mereka lebih menginginkan perhatian dunia.

Kisah ini menyayat hati kita. Saudara-saudara seiman kita di Timur Tengah hidup dalam tekanan yang luar biasa, hanya karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus.

Namun, bentuk penderitaan karena iman tidak hanya terjadi di sana. Di Indonesia pun, meski tidak sekejam itu, banyak orang Kristen menghadapi tekanan, diskriminasi, atau kehilangan karena memilih setia kepada Kristus.
Maka muncul pertanyaan:

“Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita ketika kita mempertahankan iman?”
Dan apa yang Tuhan kehendaki dari kita di tengah penderitaan itu?

Mari kita belajar dari jemaat Smirna, sebagaimana tertulis dalam Wahyu 2:8–10, untuk menemukan dua pesan penting bagi kita hari ini.


1. Tuhan Ingin Kita Tidak Takut, Karena Penderitaan Itu Sementara

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.”
(Wahyu 2:10a, AYT)

Rasa takut adalah hal yang wajar ketika menghadapi ancaman. Jemaat Smirna pun mengalaminya. Mereka hidup di bawah tekanan politik dan sosial yang berat. Pada masa itu, Yudaisme masih dianggap sah oleh pemerintah Romawi, tetapi Kekristenan dipandang sebagai sekte baru yang berbahaya. Karena menolak berpartisipasi dalam upacara penyembahan dewa-dewa Roma, mereka dianiaya, dikucilkan, bahkan kehilangan mata pencaharian.

Namun Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya.” (Wahyu 2:9).
Kata “kemiskinan” di sini berarti kemiskinan yang sangat parah, tetapi mereka disebut “kaya” karena kaya dalam iman dan janji Kristus.

Ketika Tuhan berkata bahwa penderitaan mereka hanya akan berlangsung “sepuluh hari,” itu adalah lambang waktu yang singkat dan terbatas. Artinya, Tuhan menegaskan bahwa penderitaan orang percaya tidak akan berlangsung selamanya — karena Allah tetap memegang kendali atas segalanya.

Bayangkan proses seorang ibu melahirkan. Pada puncak persalinan, rasa sakitnya begitu hebat, bahkan mengancam nyawa. Namun begitu mendengar tangisan bayinya, seluruh rasa sakit seolah lenyap, digantikan sukacita yang tak tergambarkan.
Demikianlah penderitaan karena iman — sakit, tapi sementara, dan akan berganti dengan kemuliaan yang kekal.

Jadi, saudara, ketika kita menghadapi tekanan karena iman, jangan takut. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami ada batasnya, dan Tuhan sendiri tahu persis apa yang kita tanggung. Ia tidak membiarkan satu pun air mata kita sia-sia.


2. Tuhan Ingin Kita Tetap Setia Sampai Mati, Karena Ia Akan Memberikan Mahkota Kehidupan

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
(Wahyu 2:10b, AYT)

Kesetiaan adalah nilai yang makin langka di dunia modern — baik dalam relasi, pekerjaan, maupun iman. Banyak orang mudah menyerah, meninggalkan komitmen, bahkan berpaling dari Tuhan demi kenyamanan duniawi.

Namun Yesus memanggil jemaat Smirna — dan kita — untuk tetap setia sampai mati.
Kata Yunani pistos yang diterjemahkan “setia,” juga bermakna “percaya” atau “beriman.” Artinya, Tuhan menghendaki kita beriman teguh sampai akhir, sekalipun harus mengorbankan nyawa.

Jemaat Smirna kelak membuktikan kesetiaan itu. Sejarah mencatat, Polikarpus, uskup Smirna yang terkenal, mati sebagai martir karena menolak menyangkal Kristus. Sebelum dibakar hidup-hidup, ia berkata,

“Selama delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?”

Kepada orang-orang seperti Polikarpus dan semua yang setia, Yesus menjanjikan mahkota kehidupan — lambang dari sukacita, kemuliaan, dan kehidupan kekal di hadapan Allah. Yakobus 1:12 berkata:

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia.”

Kesetiaan ini telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Filipi 2:8–9 menulis:

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”

Saudara, seperti dalam janji pernikahan yang kita ikrarkan — “setia dalam suka dan duka, sehat atau sakit, kaya atau miskin, sampai maut memisahkan” — demikian pula komitmen kita kepada Kristus haruslah total dan tak tergoyahkan.
Dunia mungkin mencoba membeli iman kita dengan kekayaan, jabatan, status, atau ancaman. Tetapi orang percaya sejati akan berkata:

“Sekalipun aku kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan Yesusku.”


Penutup: Setia Hingga Akhir, Menerima Mahkota Kekal

Penganiayaan jemaat Smirna bukan karena kesalahan, melainkan karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Demikian pula dengan kita — mengikut Yesus berarti siap menderita bagi Dia. Tetapi penderitaan itu tidak sia-sia, sebab Tuhan tahu dan peduli.

Ia sudah menyiapkan mahkota kehidupan, yaitu kehidupan kekal di hadirat-Nya bagi setiap orang yang setia.
Karena itu, marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan apa pun demi iman kita. Sebab Yesus yang setia telah lebih dahulu menang, dan di dalam Dia kita pun akan menang.

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

Amin.