Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.
Laman
22 Februari 2016
ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI (Lukas 10:25-37)
Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.
21 Februari 2016
MENGHADAPI PENDERITAAN SEBAGAI KONSEKUENSI IMAN (Renungan dari kitab Wahyu 2:8-11)
Pendahuluan
Saudara, kita tentu sering mendengar berita tentang Islamic
State (IS) atau ISIS — kelompok militan radikal yang berusaha
mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Demi mencapai tujuan itu,
mereka tidak segan melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap siapa pun yang
berbeda pandangan dan iman.
Beberapa tahun lalu, ISIS menyandera 230 orang Kristen di Suriah,
terdiri dari 51 anak-anak, 84 perempuan, dan 95 laki-laki. Uang
tebusan sebesar 1,1 juta dolar AS telah dikumpulkan oleh warga setempat, namun
ISIS menolak, karena mereka lebih menginginkan perhatian dunia.
Kisah ini menyayat hati kita. Saudara-saudara seiman kita di Timur
Tengah hidup dalam tekanan yang luar biasa, hanya karena mereka mempertahankan
iman kepada Yesus Kristus.
Namun, bentuk penderitaan karena iman tidak hanya terjadi di sana.
Di Indonesia pun, meski tidak sekejam itu, banyak orang Kristen menghadapi
tekanan, diskriminasi, atau kehilangan karena memilih setia kepada Kristus.
Maka muncul pertanyaan:
“Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita ketika kita
mempertahankan iman?”
Dan apa yang Tuhan kehendaki dari kita di tengah penderitaan itu?
Mari kita belajar dari jemaat Smirna, sebagaimana
tertulis dalam Wahyu 2:8–10, untuk menemukan dua pesan penting bagi
kita hari ini.
1. Tuhan Ingin Kita Tidak Takut, Karena
Penderitaan Itu Sementara
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya
Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya
kamu dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.”
(Wahyu 2:10a, AYT)
Rasa takut adalah hal yang wajar ketika menghadapi ancaman. Jemaat
Smirna pun mengalaminya. Mereka hidup di bawah tekanan politik dan sosial yang
berat. Pada masa itu, Yudaisme masih dianggap sah oleh
pemerintah Romawi, tetapi Kekristenan dipandang sebagai sekte
baru yang berbahaya. Karena menolak berpartisipasi dalam upacara penyembahan
dewa-dewa Roma, mereka dianiaya, dikucilkan, bahkan kehilangan mata
pencaharian.
Namun Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan
kemiskinanmu — namun engkau kaya.” (Wahyu 2:9).
Kata “kemiskinan” di sini berarti kemiskinan yang sangat
parah, tetapi mereka disebut “kaya” karena kaya dalam iman dan janji Kristus.
Ketika Tuhan berkata bahwa penderitaan mereka hanya akan
berlangsung “sepuluh hari,” itu adalah lambang waktu yang singkat dan
terbatas. Artinya, Tuhan menegaskan bahwa penderitaan orang percaya
tidak akan berlangsung selamanya — karena Allah tetap memegang kendali
atas segalanya.
Bayangkan proses seorang ibu melahirkan. Pada puncak persalinan,
rasa sakitnya begitu hebat, bahkan mengancam nyawa. Namun begitu mendengar
tangisan bayinya, seluruh rasa sakit seolah lenyap, digantikan sukacita yang
tak tergambarkan.
Demikianlah penderitaan karena iman — sakit, tapi sementara, dan
akan berganti dengan kemuliaan yang kekal.
Jadi, saudara, ketika kita menghadapi tekanan karena iman, jangan
takut. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami ada batasnya, dan
Tuhan sendiri tahu persis apa yang kita tanggung. Ia tidak membiarkan satu pun
air mata kita sia-sia.
2. Tuhan Ingin Kita Tetap Setia Sampai Mati,
Karena Ia Akan Memberikan Mahkota Kehidupan
“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan
kepadamu mahkota kehidupan.”
(Wahyu 2:10b, AYT)
Kesetiaan adalah nilai yang makin langka di dunia modern — baik
dalam relasi, pekerjaan, maupun iman. Banyak orang mudah menyerah, meninggalkan
komitmen, bahkan berpaling dari Tuhan demi kenyamanan duniawi.
Namun Yesus memanggil jemaat Smirna — dan kita — untuk tetap
setia sampai mati.
Kata Yunani pistos yang diterjemahkan “setia,” juga bermakna
“percaya” atau “beriman.” Artinya, Tuhan menghendaki kita beriman teguh
sampai akhir, sekalipun harus mengorbankan nyawa.
Jemaat Smirna kelak membuktikan kesetiaan itu. Sejarah
mencatat, Polikarpus, uskup Smirna yang terkenal, mati sebagai
martir karena menolak menyangkal Kristus. Sebelum dibakar hidup-hidup, ia
berkata,
“Selama delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus, dan Ia
tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku
yang telah menyelamatkanku?”
Kepada orang-orang seperti Polikarpus dan semua yang setia, Yesus
menjanjikan mahkota kehidupan — lambang dari sukacita,
kemuliaan, dan kehidupan kekal di hadapan Allah. Yakobus 1:12 berkata:
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila
ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah
kepada barang siapa yang mengasihi Dia.”
Kesetiaan ini telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Filipi 2:8–9 menulis:
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya
dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah
sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”
Saudara, seperti dalam janji pernikahan yang kita ikrarkan — “setia
dalam suka dan duka, sehat atau sakit, kaya atau miskin, sampai maut
memisahkan” — demikian pula komitmen kita kepada Kristus haruslah
total dan tak tergoyahkan.
Dunia mungkin mencoba membeli iman kita dengan kekayaan, jabatan, status, atau
ancaman. Tetapi orang percaya sejati akan berkata:
“Sekalipun aku kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan
Yesusku.”
Penutup: Setia Hingga Akhir, Menerima Mahkota
Kekal
Penganiayaan jemaat Smirna bukan karena kesalahan, melainkan
karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Demikian pula dengan kita — mengikut Yesus berarti siap menderita bagi Dia.
Tetapi penderitaan itu tidak sia-sia, sebab Tuhan tahu dan peduli.
Ia sudah menyiapkan mahkota kehidupan, yaitu kehidupan
kekal di hadirat-Nya bagi setiap orang yang setia.
Karena itu, marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan apa pun demi iman
kita. Sebab Yesus yang setia telah lebih dahulu menang, dan di dalam Dia kita
pun akan menang.
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah
engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota
kehidupan.” (Wahyu 2:10)
Amin.
PERTOBATAN "ORANG BENAR" (Renungan Kisah Rasul 9:1-9)
Kita semua pasti sepakat bahwa seseorang yang bersalah perlu mengakui dan menyesali kesalahannya. Itu adalah harapan umum dari masyarakat terhadap siapa pun yang telah berbuat salah. Namun, pernahkah kita berpikir untuk menuntut permintaan maaf dari seseorang yang justru melakukan hal yang benar?
Perlu kita perhatikan bahwa setiap komunitas memiliki standar kebenarannya sendiri. Apa yang dianggap benar oleh satu kelompok, belum tentu benar bagi kelompok lain. Hal ini tampak jelas dalam kisah pertobatan Saulus di jalan menuju Damsyik (Kisah Rasul 9:1–9).
Pada saat itu, Saulus adalah anggota kelompok Farisi yang sangat bersemangat mempertahankan kemurnian ajaran Yudaisme. Tabib Lukas menulis:
“Sementara itu Saulus masih mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa... supaya apabila ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” (Kis. 9:1–2, AYT)
Bagi Saulus, tindakannya itu adalah bentuk kesetiaan kepada Tuhan. Ia yakin sedang melakukan hal yang benar, bahkan mulia. Namun, Tuhan punya cara yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang menurut kita benar, melainkan apa yang menurut Tuhan benar.
Melalui kisah ini, kita dapat belajar setidaknya dua hal penting tentang kebenaran sejati dan pertobatan yang mengubahkan.
1. Merasa Benar, Ternyata Salah
Saulus dengan semangat membara menangkap, memenjarakan, bahkan menghukum mati banyak pengikut Kristus. Ia mendapat dukungan penuh dari komunitasnya, bahkan membawa surat kuasa dari Imam Besar. Namun di tengah perjalanannya menuju Damsyik, Tuhan Yesus sendiri menghadangnya dan berkata:
“Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4, AYT)
Pertemuan itu menjatuhkannya ke tanah dan membutakan matanya. Dalam sekejap, keyakinan yang selama ini ia pegang teguh runtuh. Apa yang ia anggap sebagai pelayanan bagi Tuhan ternyata justru menyakiti hati Tuhan sendiri.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang kita anggap benar adalah kebenaran yang sejati. Sering kali kita melakukan pelayanan di gereja, aktif dalam berbagai kegiatan, dan berpikir semuanya demi kemuliaan Tuhan. Tetapi, sudahkah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar melayani untuk memuliakan Tuhan, atau sekadar mencari kebanggaan pribadi?”
Kebenaran sejati menuntut kejujuran hati dan kerendahan diri di hadapan Tuhan. Hanya ketika kita berani mendengarkan suara hati nurani yang diterangi Roh Kudus, kita akan melihat apakah arah hidup kita masih selaras dengan kehendak-Nya.
2. Kebenaran Sejati Selalu Membawa Perubahan
Setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik, kehidupan Saulus berubah total. Tuhan menunjukkan kepadanya kebenaran yang hakiki, menggantikan standar kebenaran lama yang ia yakini. Dari seorang yang penuh kebencian dan semangat membinasakan, Saulus menjadi rasul penuh kasih yang rindu menyelamatkan banyak jiwa.
Inilah pekerjaan Firman Tuhan — mentransformasi kehidupan seseorang secara menyeluruh.
Pertemuan dengan Kristus bukan hanya menyentuh pikiran, tetapi mengubah hati, cara pandang, dan seluruh arah hidup kita.
Banyak orang Kristen berkata bahwa mereka pergi ke gereja untuk beribadah atau mencari Tuhan. Namun, pertanyaannya adalah:
“Apakah setiap ibadah benar-benar membawa kita berjumpa dengan Tuhan?”
Tanda yang paling jelas dari perjumpaan sejati dengan Tuhan adalah perubahan hidup.
Perjumpaan dengan Kristus selalu menghasilkan pertobatan — perubahan pola pikir, sikap hati, dan karakter, menuju satu tujuan: menjadi semakin serupa dengan Yesus.
Menjadi orang Kristen sejak lahir tidak menjamin hidup kita sudah benar di hadapan Tuhan. Berpuluh tahun beribadah pun tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan rohani, jika kita tidak sungguh membuka hati terhadap Firman Tuhan. Karena itu, marilah kita memastikan bahwa setiap kali kita beribadah, kita benar-benar mendengar suara Tuhan, merenungkannya, dan mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari.
Diperbarui Hari demi Hari
Pertobatan sejati bukan sekadar perubahan arah, tetapi perubahan hati — sebuah proses yang terus berlangsung setiap hari di bawah bimbingan Roh Kudus.
Perjumpaan dengan Tuhan yang sejati selalu meninggalkan jejak perubahan.
Semakin sering kita bertemu dengan Kristus dalam doa, firman, dan ibadah, semakin kita dibentuk untuk menyerupai Dia.
Kiranya kisah Saulus yang diubah menjadi Paulus meneguhkan kita semua:
Bahwa kebenaran sejati bukanlah tentang mempertahankan pendapat, melainkan tentang membiarkan Tuhan membentuk hidup kita sesuai kehendak-Nya.
“Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17, AYT)
Amin.