Laman

22 Februari 2016

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI (Lukas 10:25-37)


     Pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang ahli Taurat yang dikisahkan dalam Lukas 10:25-37 membawa sang ahli Taurat dan para murid Tuhan Yesus masuk dalam sebuah perenungan yang dalam. Dalam pertemuan itu, sang Ahli Taurat mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuhan Yesus. “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan. Mungkin karena tujuan awalnya yang salah (yaitu untuk mencobai Tuhan Yesus), sang Ahli Taurat menanyakan pertanyaan yang seharusnya dapat ia jawab sendiri berdasarkan kitab Taurat yang telah ia kuasai. 

     Tuhan Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan balik bertanya kepada sang Ahli Taurat. “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Dan terbukti sang Ahli Taurat pun dapat menjawab dengan benar dengan mengutip dari kitab Ulangan 6:4 dan Imamat 19:18. Tuhan Yesus menjawab dengan mengatakan “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tidak berhenti disitu, sang Ahli Taurat melanjutkan pertanyaannya dengan kembali bertanya ”Siapakah sesamaku manusia?”  Bagi kita yang secara umum mengerti pengajaran Tuhan Yesus mengenai kasih, pertanyan tersebut terlihat lucu. Namun saat kita pahami latar belakang orang Yahudi dan kehidupan agamawi mereka, kita akan mengerti alasan kenapa ia bertanya demikian.

     Dalam masyarakat Yahudi, terdapat semacam "lingkaran-lingkaran" kelompok masyarakat yang berlaku. Lingkar terdalam dianggap paling suci dan terhormat, sedangkan lingkar terluar dianggap paling berdosa dan kotor. Imam dan kaum Lewi adalah pemuka agama yang sangat dihormati di kalangan Yahudi. Orang Samaria dan bangsa kafir (gentiles – ingg.) adalah kelompok orang yang sangat dibenci oleh orang Yahudi. Jadi bagi orang Yahudi, “sesama manusia” adalah sesama bangsa Yahudi saja.

     Berdasarkan pandangan tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan kepada Ahli Taurat ini arti mengasihi sesama manusia. Tuhan Yesus menggunakan cerita “Orang Samaria Yang Baik Hati” untuk menjelaskan pemahaman yang benar tentang ungkapan “Sesama Manusia.”

     Dalam kisah Orang Samaria yang baik ini ada 3 kelompok orang yang menonjol. Kelompok tersebut adalah para perampok, Imam dan Lewi, serta orang Samaria. Dikisahkan ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Di tengah jalan ia dirampok dan dihajar perampoh hingga sekarat dan hampir mati kemudian ditinggalkan tergeletak di pinggir jalan. Beberapa waktu kemudian ada Imam yang sedang dalam perjalanan turun dari Yerusalem. Saat sang Imam melihat orang yang terluka itu, ia berjalan menjauh dan meninggalkannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang Lewi yang beberawa waktu kemudian juga melewati tempat itu. Ia berjalan menjauh dan tidak menolong orang yang terluka tersebut. Dan kemudian lewatlah pula seorang Samaria. Melihat ada orang yang terluka, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan kemudian mendekatinya untuk menolongnya. Ia meminyaki luka-luka orang tersebut, menyiramnya dengan anggur untuk menghindari infeksi, kemudian menaikkan orang tersebut ke atas keledai tunggangannya. Ia membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan dan merawatnya disana. Saat ia harus melanjutkan perjalanan, ia membayar pemilik penginapan untuk meneruskan proses perawatan tersebut sampai ia kembali lagi. 

     Mari kita pelajari kembali tiga kelompok orang yang digambarkan dengan menonjol dalam kisah orang Samaria yang baik hati tersebut:

     1. Perampok
     Perampok hanya mengingini milik orang lain untuk dikuasainya. Orang yang tidak pernah merasa puas akan apa yang ia miliki. Saat melihat orang lain yang memiliki lebih, ia menjadi iri dan ingin memilikinya pula. Orang yang iri dan tidak suka melihat keberhasilan orang lain, ingin menjadi lebih dengan motivasi ingin mengalahkan orang lain, pada hakekatnya sama dengan perampok. Ia tidak lagi pedulia akan cara mendapatkannya, yang penting dapat mengalahkan orang lain dan menjadi lebih.

     2.  Imam dan Lewi
     Imam dan Lewi adalah pelayan-pelayan Tuhan yang seharusnya memiliki moralitas yang unggul. Ia harusnya dapat menjadi teladan perbuatan yang baik. Seorang Imam dan Lewi akan menjadi najis dan tidak dapat melayani saat ia menyentuh darah dan mayat selain hewan korban di Bait Allah. Mungkin imam dan lewi tersebut tidak mau menjadi najis dengan menolong sang korban perampokan tersebut, karena proses penyucian imam dan lewi adalah sebuah proses yang panjang dan ribet. Hal ini adalah gambaran dari para pelayan Tuhan yang tidak mengerti intisari dari pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan hanya menjadi aktivitas tanpa nilai luhur. Pelayanan dijadikan bahan pencitraan tingkat kerohanian, karena dengan terlibat dalam pelayanan orang akan dianggap lebih kudus dan dewasa rohani. Pada kenyataannya itu tidaklah tepat.

     3. Orang Samaria
    Kasih tidak memandang siapa orang yang seharusnya dikasihi. Kasih akan mengasihi semua manusia. Seseorang yang memiliki kasih dalam hidupnya, ia akan rela melakukan apa saja untuk mengasihi semua manusia, tanpa memandang batasan apapun. Karena kasih, orang akan rela mengorbankan apapun, seperti halnya Tuhan Yesus yang rela memberi nyawanya, untuk menyatakan kasihNya kepada semua manusia. 

     Secara tersirat, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan sang ahli Taurat tersebut dengan menunjukkan bahwa "sesama manusia" adalah orang yang mengasihi siapa saja dengan kasih yang tulus dan tidak pandang bulu. Mari kita menyebarkan kasih Tuhan melalui cara kita mengasihi sesama manusia.  


21 Februari 2016

MENGHADAPI PENDERITAAN SEBAGAI KONSEKUENSI IMAN (Renungan dari kitab Wahyu 2:8-11)

Pendahuluan

Saudara, kita tentu sering mendengar berita tentang Islamic State (IS) atau ISIS — kelompok militan radikal yang berusaha mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Demi mencapai tujuan itu, mereka tidak segan melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap siapa pun yang berbeda pandangan dan iman.
Beberapa tahun lalu, ISIS menyandera 230 orang Kristen di Suriah, terdiri dari 51 anak-anak, 84 perempuan, dan 95 laki-laki. Uang tebusan sebesar 1,1 juta dolar AS telah dikumpulkan oleh warga setempat, namun ISIS menolak, karena mereka lebih menginginkan perhatian dunia.

Kisah ini menyayat hati kita. Saudara-saudara seiman kita di Timur Tengah hidup dalam tekanan yang luar biasa, hanya karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus.

Namun, bentuk penderitaan karena iman tidak hanya terjadi di sana. Di Indonesia pun, meski tidak sekejam itu, banyak orang Kristen menghadapi tekanan, diskriminasi, atau kehilangan karena memilih setia kepada Kristus.
Maka muncul pertanyaan:

“Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita ketika kita mempertahankan iman?”
Dan apa yang Tuhan kehendaki dari kita di tengah penderitaan itu?

Mari kita belajar dari jemaat Smirna, sebagaimana tertulis dalam Wahyu 2:8–10, untuk menemukan dua pesan penting bagi kita hari ini.


1. Tuhan Ingin Kita Tidak Takut, Karena Penderitaan Itu Sementara

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.”
(Wahyu 2:10a, AYT)

Rasa takut adalah hal yang wajar ketika menghadapi ancaman. Jemaat Smirna pun mengalaminya. Mereka hidup di bawah tekanan politik dan sosial yang berat. Pada masa itu, Yudaisme masih dianggap sah oleh pemerintah Romawi, tetapi Kekristenan dipandang sebagai sekte baru yang berbahaya. Karena menolak berpartisipasi dalam upacara penyembahan dewa-dewa Roma, mereka dianiaya, dikucilkan, bahkan kehilangan mata pencaharian.

Namun Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya.” (Wahyu 2:9).
Kata “kemiskinan” di sini berarti kemiskinan yang sangat parah, tetapi mereka disebut “kaya” karena kaya dalam iman dan janji Kristus.

Ketika Tuhan berkata bahwa penderitaan mereka hanya akan berlangsung “sepuluh hari,” itu adalah lambang waktu yang singkat dan terbatas. Artinya, Tuhan menegaskan bahwa penderitaan orang percaya tidak akan berlangsung selamanya — karena Allah tetap memegang kendali atas segalanya.

Bayangkan proses seorang ibu melahirkan. Pada puncak persalinan, rasa sakitnya begitu hebat, bahkan mengancam nyawa. Namun begitu mendengar tangisan bayinya, seluruh rasa sakit seolah lenyap, digantikan sukacita yang tak tergambarkan.
Demikianlah penderitaan karena iman — sakit, tapi sementara, dan akan berganti dengan kemuliaan yang kekal.

Jadi, saudara, ketika kita menghadapi tekanan karena iman, jangan takut. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami ada batasnya, dan Tuhan sendiri tahu persis apa yang kita tanggung. Ia tidak membiarkan satu pun air mata kita sia-sia.


2. Tuhan Ingin Kita Tetap Setia Sampai Mati, Karena Ia Akan Memberikan Mahkota Kehidupan

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
(Wahyu 2:10b, AYT)

Kesetiaan adalah nilai yang makin langka di dunia modern — baik dalam relasi, pekerjaan, maupun iman. Banyak orang mudah menyerah, meninggalkan komitmen, bahkan berpaling dari Tuhan demi kenyamanan duniawi.

Namun Yesus memanggil jemaat Smirna — dan kita — untuk tetap setia sampai mati.
Kata Yunani pistos yang diterjemahkan “setia,” juga bermakna “percaya” atau “beriman.” Artinya, Tuhan menghendaki kita beriman teguh sampai akhir, sekalipun harus mengorbankan nyawa.

Jemaat Smirna kelak membuktikan kesetiaan itu. Sejarah mencatat, Polikarpus, uskup Smirna yang terkenal, mati sebagai martir karena menolak menyangkal Kristus. Sebelum dibakar hidup-hidup, ia berkata,

“Selama delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?”

Kepada orang-orang seperti Polikarpus dan semua yang setia, Yesus menjanjikan mahkota kehidupan — lambang dari sukacita, kemuliaan, dan kehidupan kekal di hadapan Allah. Yakobus 1:12 berkata:

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia.”

Kesetiaan ini telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Filipi 2:8–9 menulis:

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”

Saudara, seperti dalam janji pernikahan yang kita ikrarkan — “setia dalam suka dan duka, sehat atau sakit, kaya atau miskin, sampai maut memisahkan” — demikian pula komitmen kita kepada Kristus haruslah total dan tak tergoyahkan.
Dunia mungkin mencoba membeli iman kita dengan kekayaan, jabatan, status, atau ancaman. Tetapi orang percaya sejati akan berkata:

“Sekalipun aku kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan Yesusku.”


Penutup: Setia Hingga Akhir, Menerima Mahkota Kekal

Penganiayaan jemaat Smirna bukan karena kesalahan, melainkan karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Demikian pula dengan kita — mengikut Yesus berarti siap menderita bagi Dia. Tetapi penderitaan itu tidak sia-sia, sebab Tuhan tahu dan peduli.

Ia sudah menyiapkan mahkota kehidupan, yaitu kehidupan kekal di hadirat-Nya bagi setiap orang yang setia.
Karena itu, marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan apa pun demi iman kita. Sebab Yesus yang setia telah lebih dahulu menang, dan di dalam Dia kita pun akan menang.

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

Amin.

 

PERTOBATAN "ORANG BENAR" (Renungan Kisah Rasul 9:1-9)

Pendahuluan

Kita semua pasti sepakat bahwa seseorang yang bersalah perlu mengakui dan menyesali kesalahannya. Itu adalah harapan umum dari masyarakat terhadap siapa pun yang telah berbuat salah. Namun, pernahkah kita berpikir untuk menuntut permintaan maaf dari seseorang yang justru melakukan hal yang benar?

Perlu kita perhatikan bahwa setiap komunitas memiliki standar kebenarannya sendiri. Apa yang dianggap benar oleh satu kelompok, belum tentu benar bagi kelompok lain. Hal ini tampak jelas dalam kisah pertobatan Saulus di jalan menuju Damsyik (Kisah Rasul 9:1–9).

Pada saat itu, Saulus adalah anggota kelompok Farisi yang sangat bersemangat mempertahankan kemurnian ajaran Yudaisme. Tabib Lukas menulis:

“Sementara itu Saulus masih mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa... supaya apabila ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” (Kis. 9:1–2, AYT)

Bagi Saulus, tindakannya itu adalah bentuk kesetiaan kepada Tuhan. Ia yakin sedang melakukan hal yang benar, bahkan mulia. Namun, Tuhan punya cara yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang menurut kita benar, melainkan apa yang menurut Tuhan benar.

Melalui kisah ini, kita dapat belajar setidaknya dua hal penting tentang kebenaran sejati dan pertobatan yang mengubahkan.


1. Merasa Benar, Ternyata Salah

Saulus dengan semangat membara menangkap, memenjarakan, bahkan menghukum mati banyak pengikut Kristus. Ia mendapat dukungan penuh dari komunitasnya, bahkan membawa surat kuasa dari Imam Besar. Namun di tengah perjalanannya menuju Damsyik, Tuhan Yesus sendiri menghadangnya dan berkata:

“Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4, AYT)

Pertemuan itu menjatuhkannya ke tanah dan membutakan matanya. Dalam sekejap, keyakinan yang selama ini ia pegang teguh runtuh. Apa yang ia anggap sebagai pelayanan bagi Tuhan ternyata justru menyakiti hati Tuhan sendiri.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang kita anggap benar adalah kebenaran yang sejati. Sering kali kita melakukan pelayanan di gereja, aktif dalam berbagai kegiatan, dan berpikir semuanya demi kemuliaan Tuhan. Tetapi, sudahkah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

“Apakah saya benar-benar melayani untuk memuliakan Tuhan, atau sekadar mencari kebanggaan pribadi?”

Kebenaran sejati menuntut kejujuran hati dan kerendahan diri di hadapan Tuhan. Hanya ketika kita berani mendengarkan suara hati nurani yang diterangi Roh Kudus, kita akan melihat apakah arah hidup kita masih selaras dengan kehendak-Nya.


2. Kebenaran Sejati Selalu Membawa Perubahan

Setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik, kehidupan Saulus berubah total. Tuhan menunjukkan kepadanya kebenaran yang hakiki, menggantikan standar kebenaran lama yang ia yakini. Dari seorang yang penuh kebencian dan semangat membinasakan, Saulus menjadi rasul penuh kasih yang rindu menyelamatkan banyak jiwa.

Inilah pekerjaan Firman Tuhanmentransformasi kehidupan seseorang secara menyeluruh.
Pertemuan dengan Kristus bukan hanya menyentuh pikiran, tetapi mengubah hati, cara pandang, dan seluruh arah hidup kita.

Banyak orang Kristen berkata bahwa mereka pergi ke gereja untuk beribadah atau mencari Tuhan. Namun, pertanyaannya adalah:

“Apakah setiap ibadah benar-benar membawa kita berjumpa dengan Tuhan?”

Tanda yang paling jelas dari perjumpaan sejati dengan Tuhan adalah perubahan hidup.
Perjumpaan dengan Kristus selalu menghasilkan pertobatan — perubahan pola pikir, sikap hati, dan karakter, menuju satu tujuan: menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Menjadi orang Kristen sejak lahir tidak menjamin hidup kita sudah benar di hadapan Tuhan. Berpuluh tahun beribadah pun tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan rohani, jika kita tidak sungguh membuka hati terhadap Firman Tuhan. Karena itu, marilah kita memastikan bahwa setiap kali kita beribadah, kita benar-benar mendengar suara Tuhan, merenungkannya, dan mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari.


Diperbarui Hari demi Hari

Pertobatan sejati bukan sekadar perubahan arah, tetapi perubahan hati — sebuah proses yang terus berlangsung setiap hari di bawah bimbingan Roh Kudus.

Perjumpaan dengan Tuhan yang sejati selalu meninggalkan jejak perubahan.
Semakin sering kita bertemu dengan Kristus dalam doa, firman, dan ibadah, semakin kita dibentuk untuk menyerupai Dia.

Kiranya kisah Saulus yang diubah menjadi Paulus meneguhkan kita semua:
Bahwa kebenaran sejati bukanlah tentang mempertahankan pendapat, melainkan tentang membiarkan Tuhan membentuk hidup kita sesuai kehendak-Nya.

“Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17, AYT)

Amin.