Laman

Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

17 April 2025

Arti Dari Memikul Salib Setiap Hari (Matius 16:24)

 Apa Arti Dari Memikul Salib?

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Matius 16:24

Kata-kata Yesus ini terdengar keras, bahkan ekstrem. Di dunia yang mengajarkan kita untuk “ikuti kata hati”, Yesus malah berkata: “Tinggalkan dirimu sendiri, pikul salibmu, dan ikut Aku.” Apa sebenarnya arti dari pernyataan radikal ini? Apakah memikul salib hanya berarti menjalani hidup yang sulit? Ataukah maknanya lebih dalam dari itu?


1. Bukan Sekadar Menerima Penderitaan

  • Sering disalahpahami
Banyak orang Kristen—bahkan pengkhotbah—menyamakan salib dengan penderitaan hidup secara umum: kemiskinan, penyakit, kehilangan, atau masalah keluarga. Tapi salib dalam konteks Perjanjian Baru bukanlah beban yang harus diterima dengan pasrah karena tidak bisa dihindari. Salib bukan sesuatu yang “menimpa” kita, melainkan sesuatu yang kita pilih untuk pikul.

  • Makna Historis Salib
Dalam budaya Romawi abad pertama, salib bukan sekadar alat eksekusi. Itu adalah simbol kehinaan mutlak. Orang yang memikul salib bukan hanya akan mati—ia akan mati dengan terkutuk, terhina, dan ditinggalkan. Maka ketika Yesus berkata kepada para murid untuk memikul salib, Ia mengajak mereka untuk mengambil jalan yang akan menghapus status, kenyamanan, dan keselamatan pribadi demi kesetiaan kepada-Nya.


Memikul salib berarti bersedia membayar harga demi ketaatan pada Kristus. Ini bisa berarti kehilangan peluang karier karena kejujuran, kehilangan popularitas karena hidup benar, atau bahkan relasi yang renggang karena tidak mau kompromi dengan dosa. Ini adalah panggilan untuk hidup tidak bagi diri sendiri, tetapi bagi kehendak Allah, apa pun dan berapapun harganya.


2. Menyangkal Diri = Membunuh Ego

  • Lebih dari sekadar menolak keinginan
Menyangkal diri bukan berarti kita tidak pernah punya impian atau keinginan. Bukan juga berarti kita membenci diri sendiri. Tapi ini berarti menggeser pusat kehidupan dari “aku” menjadi “Kristus”. Dalam bahasa lain: bukan lagi kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi (Lukas 22:42).

Ego dalam konteks ini adalah keakuan yang menolak tunduk pada Tuhan. Ego ingin selalu mengendalikan, ingin selalu dipuji, dibenarkan, dan dipuaskan. Menyangkal diri berarti kita memilih untuk tidak lagi mengandalkan kekuatan dan keinginan pribadi—melainkan menundukkan diri kepada pimpinan dan kebenaran Tuhan.

Contoh keseharian

  • Ketika kita ingin membalas orang yang menyakiti kita, tetapi memilih mengampuni karena taat kepada Kristus.
  • Ketika kita lebih suka menonjolkan diri, tapi memilih merendah agar Kristus yang ditinggikan.
  • Ketika kita menyerahkan keputusan besar bukan kepada insting semata, tapi lewat doa dan penundukan hati.

Menyangkal diri itu menyakitkan—seperti mematikan daging dan keinginan sendiri. Tapi dari kematian itulah tumbuh kehidupan yang sejati; kehidupan rohani dan keimanan yang matang/dewasa.


3. Salib: Jalan Kehidupan, Bukan Simbol Kematian

  • Lebih dari sekadar simbol
Salib kini menjadi simbol iman Kristen—digantung di gereja, dikenakan sebagai kalung, dijadikan ornamen seni. Tapi bagi Yesus dan murid-murid-Nya, salib bukan ornamen, melainkan kenyataan brutal. Ini adalah panggilan untuk hidup seperti Yesus—dalam pengorbanan, penyangkalan diri, dan ketaatan total bahkan hingga kematian.

  • Mengikuti Yesus bukan tentang kenyamanan
Yesus tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah bagi pengikut-Nya. Ia berkata bahwa dunia akan membenci kita sebagaimana dunia membenci Dia (Yohanes 15:18-20). Jalan Kristus adalah jalan sempit—bukan karena Allah ingin menyusahkan kita, tapi karena jalan salib adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan dan kemuliaan.

Mengikut Yesus berarti meniru gaya hidup-Nya

  • Hidup penuh kasih kepada musuh.
  • Taat kepada Bapa, bahkan saat tidak masuk akal.
  • Setia dalam penderitaan.
  • Tidak menghindari pengorbanan demi kebaikan orang lain.

Salib bukan hanya titik akhir hidup Kristus di dunia. Salib adalah awal peta perjalanan setiap murid-Nya mewartakan kabar sukacita ke seluruh dunia.


4. Sebuah Panggilan Setiap Hari

  • Bukan keputusan sekali jadi
Yesus berkata dalam Lukas 9:23: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." Artinya, keputusan untuk hidup memikul salib bukan dibuat sekali saat kita bertobat, dibaptis, atau berdoa menyerahkan hidup. Itu adalah keputusan harian, bahkan setiap jam, setiap momen/kesempatan.

  • Panggilan untuk selalu taat kepada Tuhan
Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan: hidup untuk diri sendiri atau untuk Kristus? Taat meski tidak nyaman, atau kompromi demi aman? Menyimpan luka atau mengampuni? Menuntut atau memberi?

Dalam momen-momen itulah salib dipanggul—bukan secara simbolik, tapi nyata: dalam keputusan yang kita buat, dalam reaksi yang kita kendalikan, dalam kasih yang kita pilih untuk tetap berikan.

  • Dan di situlah hidup sejati ditemukan.
Ironisnya, salib—yang tampak seperti alat kematian—justru menjadi gerbang menuju kehidupan. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus sepenuhnya, di sanalah kita menemukan makna, damai, dan sukacita yang tidak bisa diberikan dunia.


  • Mengapa Salib Itu Layak

Mengapa kita harus memikul salib? Karena kita tahu siapa yang pertama kali memikulnya—Yesus sendiri. Ia tidak hanya memanggil kita untuk mengikuti jalan salib, tapi telah lebih dulu menapakinya demi kita.

Memikul salib adalah bentuk cinta kita kepada Dia yang lebih dulu mengasihi kita tanpa syarat. Dan saat kita taat, kita tidak berjalan sendiri. Roh Kudus pasti menyertai, memberi kekuatan, dan mengubah kita hari demi hari menjadi serupa dengan Kristus.


Tuhan memberkati kita senantiasa.

12 Juli 2018

SENDIRI: Mandiri dan Bertanggung Jawab (Lukas 4:1-2)

Disadari atau tidak, kita harus menghadapi setiap pergumulan dalam kehidupan kita ini seorang diri. Diri kita sendirilah yang secara langsung akan mengalami baik buruknya konsekuensi dari setiap pilihan kita. Urusan iman kita kepada Tuhan adalah urusan diri kita sendiri. Iman kepada Tuhan tidak dapat dipaksakan untuk dimiliki oleh seseorang, karena pada hakikatnya iman adalah keputusan pribadi seseorang untuk mempercayai Tuhan. lantas bagaimana peranan orang tua dan orang-orang di sekitar kita? Semua orang yang ada di sekitar kita memang memiliki pengaruh dalam pertumbuhan iman kita. Ada yang meberi pengaruh besar dan ada yang berpengaruh kecil. Namun perlu kita semua sadari bahwa pertumbuhan iman kita berasal dari setiap respon dan keputusan diri kita sendiri.

SENDIRI
Para penulis Injil menulis beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa ada masa dimana Tuhan Yesus menjalani proses-Nya seorang diri. Semisal dalam Lukas 4:1-2 menuliskan demikian “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.” Setelah mengikuti babtisan Yohanes Pembabtis, Tuhan Yesus dibawa Roh Kudus untuk menjalani proses ujian yang sangat berat di padang gurun. Roh Kudus Allah yang mengantar-Nya. Di akhir proses ujian berat tersebut kita ketahui bersama bahwa Yesus dilayani oleh para malaikat. Tetapi di tengah padang gurun itu, saat proses ujian terjadi, Yesus benar-benar seorang diri, melakukan semuanya sendirian, termasuk berhadapan dengan iblis.
Mari kita mundur ke sebuah peristiwa di Perjanjian Lama yang juga dapat memberi kita gambaran yang jelas, bagaimana keputusan kita harus dipertanggungjawabkan secara pribadi. Dalam Daniel pasal 3 diceritakan bahwa Raja Nebukadnezar membuat patung emas dirinya dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menyembah patung tersebut. Bagi siapapun yang menolak menyembah akan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Singkat cerita, Hananya, Misael dan Azarya, menolak untuk menyembah patung sang Raja. Mereka membuat sebuah pernyataan yang sangat berani dengan mengatakan “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18)
Kita semua tahu bahwa pada akhirnya mereka mengalami pertolongan Tuhan. Tetapi mari kita kembali pada fase dimana setelah mereka menyatakan menolak menyembah patung Nebukadnezar tersebut, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka kemudian diikat dengan erat, tungku api dinyalakan dengan panas yang tujuh kali lipat dari yang biasa, kemudian mereka dicampakkan ke dalamnya. Sampai pada batas itu, mereka tidak melihat ada keajaiban atau mujizat dari Tuhan untuk menolong mereka. Butuh sebuah keberanian yang besar untuk mengambil keputusan yang menyangkut sebuah konsekuensi yang besar. Dan itulah yang mereka alami.
Menyadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan secara pribadi setiap pilihan dan tindakan kita adalah sebuah sikap yang penting. Tanpa kesadaran tersebut, kita akan memiliki frame berpikir yang salah tentang realitas kehidupan. Lebih parahnya lagi, kedewasaan kita tidak akan terbentuk. Satu ciri menonjol dari sebuah kedewasaan adalah sifat kemandirian.
Mandiri artinya berada dalam keadaan dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Fase ketergantungan dalam proses pertumbuhan adalah fase kanak-kanak.  Kita menganggap sebagai hal yang wajar saat anak-anak tergantung pada orang tua mereka. Saat masih dalam fase bayi atau balita, kita tidak dapat menuntut banyak kepada anak-anak kita untuk dapat, misalnya, makan sendiri. Mereka masih butuh disuapi makanan karena ketidakmampuan mereka secara fisik.
Namun hal tersebut tidak lagi berlaku bagi anak-anak kita yang sudak berusia enam tahun keatas. Mereka harus mulai belajar mengurus kebutuhan mereka sendiri. Mengambil makan sendiri, makan tanpa disuapi, mandi sendiri, mempersiapkan seragam sekolah sendiri, dll. Bahkan untuk anak yang lebih besar, kita sebagai orang tua sering menuntut mereka untuk mulai terlibat dalam mengurus rumah dan mengambil tanggung jawab yag lebih besar. Mereka harus mampu menghadapi pergumulan hidup mereka sendiri, secara mandiri. Walaupun adakalanya mereka masih membutuhkan pertolongan orang tua, namun pada intinya mereka akan menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menghadapi dan menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.

DALAM PENYERTAAN DAN PENJAGAAN TUHAN
Matius 14:22-23 mencatat dalam peristiwa yang lain demikian “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Kita sering mendapati kisah dimana Tuhan Yesus memisahkan diri dari keramaian dan mengambil waktu sendiri. Kesendirian-Nya ini selalu dilakukan dengan tujuan yan jelas, yakni untuk bersekutu dengan Bapa-Nya, dalam doa. Namun setelah Tuhan Yesus menyelesaikan doa-Nya, apakah problematika pelayanan-Nya menjadi lebih mudah? Setelah doa di taman Getsemani, apakah kemudian penyaliban dibatalkan? Tentu tidak, bukan? Itulah kenyataan hidup dan tanggung jawab yang memang harus Yesus pikul. Problematikan kehidupan tidak akan menjadi lebih mudah setelah kita berdoa. Hal tersebut juga berlaku bagi semua orang tanpa kecuali, bahkan bagi pelayan Tuhan sekalipun.
Namun jika kita perhatikan semua tokoh dalam Alkitab yag menyerahkan kehidupan mereka kepada Tuhan, termasuk Tuhan Yesus Kristus yang berserah kepada Bapa, mereka justru terlihat semakin teguh dan kuat menjalani kehidupan, sekalipun harus menghadapi akhir kisah yang berat. Persekutuan para murid Yesus semakin intens dengan Tuhan, dan mereka menghadapi tekanan berat karena iman dan berujung martir. Mereka menyadari hal itu dan tetap berani menghadapinya. Mengapa demikian? Karena mereka tahu tujuan akhir dari semua itu dan melihat serta merasakan penyertaan Tuhan di dalamnya. 
Selama kita hidup di dunia ini, kita harus mandiri dan menghadapi semua pergumulan hidup itu sendiri. Mungkin akan ada banyak orang di sekitar kita yang datang menolong, tapi hal itu tidak akan selalu terjadi. Di akhir dari semuanya itu, hanya ada kita seorang diri berhadapan dengan permasalahan dan pergumulan hidup. Hadapi fakta ini dan berjuanglah. Ingatlah bahwa ditengah segala hal yang terjadi, seberat apapun itu, ada Tuhan yang mengawasi dan menjaga kita. Ia tidak akan membiarkan kita menghadapi permasalahan yang tidak dapat kita tanggung. Ia menggunakan semua bentuk pergumulan kita untuk mendewasakan kita. Hingga pada akhirnya, ia akan memberikan kelegaan yang sempurna di hadirat-Nya. 

30 Desember 2016

GEREJA ADALAH RUANG BELAJAR, HIDUP KESEHARIAN ADALAH LADANG UJIAN (Ibrani 10:24-25)

Masih banyak orang Kristen yang memandang aktivitas beribadah “terpisah” dari aktivitas hidup yang lain. Dalam pandangan mereka, gereja dan segala bentuk kegiatan rohani lainnya adalah ruang yang sakral sedangkan lingkup diluar hal tersebut kurang sakral. Istilah yang digunakan untuk pemisahan itu adalah "sekuler" dan "rohani." Dalam satu sisi, pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun jika diperhatikan dengan saksama, maka akan nampak kekurangannya.

Iman Kristen harus dipahami secara utuh. Jika hanya dipahami secara setengah-setengah, maka akan membawa kepada kesesatan. Istilah kesesatan disini janganlah hanya dipahami dalam konteks pengajaran agama, semisal diasumsikan dengan aliran/ajaran sesat seperti Saksi Yehova, Mormonisme, dll. Dalam kasus yang paling sederhana, mengambil atau melakukan sebuah prinsip yang terlihat berasal dari Alkitab – padahal hanya separuh kebenaran saja – adalah satu bentuk kesesatan. Untuk itulah diperlukan sebuah pemahaman yang utuh dan lengkap terhadap iman Kristiani, yang tentunya hal itu bersumber dari penafsiran Alkitab yang disiplin.

Lantas, apa yang seringkali menghambat kita, umat Kristen, untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap firman Tuhan dalam Alkitab? Apa pula yang harusnya kita upayakan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tersebut?

Cherry-picking dan Proof-texting
Saat ini kita akan sedikit membahas satu kesalahan yang hingga saat ini masih sering kali dan mungkin yang paling umum terjadi di kalangan orang Kristen (khususnya, sejauh pengamatan saya, di aliran Pentakosta dan Kharismatik), berkenaan dengan cara memahami Alkitab. Kesalahan tersebut adalah kebiasaan MEMBACA dan lantas MENGAMINI SEBUAH AYAT ALKITAB.

Kesalahan ini disebut cherry-picking, dan dalam istilah hermeneutik dikenal juga sebuah istilah yang lebih terkesan teknis yakni proof-texting. Cherry picking adalah kesalahan logika dimana seseorang membangun argument atau pemahamannya hanya berdasar atas pendapat atau data yang menyokong apa yang diklaimnya saja, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data (konteks), yang sebenarnya sebagian data yang diambil tersebut justru kadang melemahkan atau bahkan membantah klaimnya sendiri; biasa disebut cocokmologi. Pengertian proof-texting adalah kesalahan metodologis dimana seseorang mengambil bagian kecil dari Alkitab, seringkali hanya sebuah ayat, kemudian digunakan untuk mendukung sebuah pemikiran atau membangun sebuah doktrin tanpa mempedulikan konteks sastranya. Dengan ungkapan yang sederhana, cherry-picking dan proof-texting adalah kebiasaan pilih-pilih ayat Alkitab.

Cherry-picking dan proof-texting akan menghasilkan sebuah pengajaran kekristenan yang salah serta lemah. Prinsip-prinsip pengajaran yang dibangun dengan pola tersebut kemungkinan besar tidak konsisten bahkan seringkali kontradiktif. Membangun fondasi kehidupan dengan dasar pengajaran yang didapat dengan pola tersebut seperti membangun rumah di atas pasir. Jika ingin membangun iman Kristen yang kuat, lakukan di atas batu karang. Membangun di atas batu karang berbicara tentang memahami firman Tuhan secara benar dan mendasar sehingga membuat kita mampu merumuskan tindakan nyata dari prinsip kebenaran firman Tuhan tersebut.

Lebih buruk lagi, kebiasaan pilih-pilih ayat tersebut seringkali juga dilakukan secara setengah-setengah. Maksudnya seperti ini: Ayat-ayat yang memiliki isi yang menyenangkan, menenangkan, menguatkan, memotifasi serta “memberkati” seringkali menjadi ayat-ayat favorit banyak umat Kristen. Jarang kita dapati seseorang yang menggunakan ayat-ayat yang berisi teguran dan kritikan sebagai ayat nats atau ayat emas favoritnya.


Gereja (juga) merupakan lembaga pendidikan
Gereja seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat suci atau tempat ibadah dalam kehidupan umat Kristen. Gereja seharusnya juga menjadi wadah umat Kristen untuk belajar dan mendulang pemahaman yang benar terhadap firman Tuhan, serta relefansinya dalam kehidupan sehari-hari. Memahami prinsip firman Tuhan dengan benar serta mengerjakan prinsip kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari – dengan segala keterbatasan kemampuan – akan membawa kita, umat Kristen, mengenal Tuhan dengan benar.

Dalam konteks membangun dasar-dasar iman, gereja harusnya menghindarkan jemaat dari kebiasaan cherry-picking atau proof-texting tersebut di atas. Teknisnya, Gereja harus mulai membiasakan jemaat untuk menggunakan cara pembacaan Alkitab yang lebih menyeluruh; tidak lagi membaca satu ayat saja, melainkan membaca paling tidak satu paragraf utuh atau satu perikop. Akan lebih baik lagi jika kebiasan membaca tuntas Alkitab digalakkan di kalangan jemaat gereja. Membaca Alkitab hingga tuntas (mulai dari kitab Kejadian hingga Wahyu) akan memberi kita sekilas gambaran besar mengenai alur penulisan Alkitab.

Selain Alkitab, gereja seharusnya juga harus mampu mengedukasi anggota jemaat untuk membaca buku-buku atau sumber-sumber bacaan yang lain. Hal tersebut penting sekali untuk memperluas cakrawala berpikir anggota gereja.

Dengarkan saja, maka imanmu akan bertumbuh. Oh really? Come on….!!
Dalam sebuah ibadah formal hari minggu, mimbar gereja memang merupakan sebuah mimbar monolog. Melalui mimbar tersebut seorang pendeta atau hamba Tuhan menyampaikan renungan dari sebuah bagian dari Alkitab. Kita tentu saja tidak akan mendapati adanya dialog yang terjadi antara jemaat dengan sang pengkhotbah dalam kesempatan tersebut. Hal itu adalah semacam aturan tidak tertulis yang umum berlaku dalam sebuah ibadah. Namun apakah mimbar gereja hanya diisi oleh kegiatan ibadah semacam itu saja?

Gereja harus menyediakan ruang untuk pendalaman pemahaman akan firman Tuhan bagi jemaat. Kata Ruang yang saya maksudkan disini lebih mengarah pada waktu atau kesempatan. Yang harus ditentukan oleh para gembala jemaat atau majelis gereja adalah kapan pelaksanaanya. Itu hanyalah masalah teknis dari jadwal kegiatan gereja. Permasalah yang lebih mendesak sebenarnya adalah ada atau tidaknya kesempatan tersebut, bukan?

Saat kita mendengarkan khotbah yang disampaikan pada waktu ibadah umum, tidak jarang muncul tanggapan di dalam pikiran kita. Tanggapan tersebut dapat berupa pertanyaan atau bahkan pendapat atau pemahaman yang tidak jarang justru berseberangan dengan apa yang telah dikatakan oleh sang pengkhotbah.

Tanggapan tersebut muncul karena kita mungkin saja telah menerima sebuah informasi yang berhubungan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh sang pengkhotbah. Bisa saja kita pernah membaca sebuah buku atau artikel tertentu, mendengarkan khotbah dari internet, atau teringat percakapan dengan seorang teman, atau mungkin saja kita pernah mengalami “serangan” terhadap iman kita dari orang yang beragama lain dan kita tidak dapat menjawabnya. Tanggapan-tanggapan yang ada dalam pikiran kita tersebut, saya yakin, membutuhkan jawaban atau tanggapan balik.

Jadi, memang mendengarkan khotbah saja tidaklah dapat membuat iman seseorang bertumbuh. Lantas kenapa ada ayat Alkitab yang berkata bahwa “iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus?” (Roma 10:17) Apakah artinya ayat tersebut salah?

Ada minimal dua ayat yang menurut saya menarik untuk diperhatikan, berkenaan dengan pertumbuhan iman yang didasarkan pada pengajaran firman Tuhan. Ayat yang pertama sebenarnya secara tidak langsung telah saya kutip di atas, yakni Matius 7:24-27. Dalam bagian tersebut, Tuhan Yesus memberikan penakanan bahwa saat seseorang “mendengarkan” firman Tuhan dan melakukannya, maka ia akan memiliki iman yang kuat untuk menghadapi gempuran pengaruh dunia serta dapat bertahan dalam pergumulan hidupnya. Rasul Paulus menulis dalam surat Roma 10:17 bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Kedua bagian kutipan ayat Alkitab tersebut memuat sebuah kata yang sama, yakni mendengarkan. Bahasa Inggris membedakan kata hear dan kata listen, yang dalam Bahasa Indonesia sama-sama diterjemahkan dengan dengar atau mendengarkan. Kata hear bermakna sekadar mendengar sebuah suara, namun kata listen memiliki makna memperhatikan dengan saksama. Kata “mendengarkan” dalam bahasa Yunani yang digunakan penulis kitab, dalam hal ini adalah Rasul Matius dan Rasul Paulus, adalah kata dasar yang sama yang dibaca akoe.

Kata akoe ini hanya akan menunjukkan perbedaan makna saat dimasukkan ke dalam konteks kalimatnya. Dalam hal ini, kata akoe memiliki makna memperhatikan karena perkataan tersebut merupakan paket pengajaran yang diberikan oleh seorang pengajar firman.

Tuhan Yesus dan Rasul Paulus sudah sangat terbiasa dengan kalimat tersebut. Secara meyakinkan, mereka pastilah mendasari pemahamannya dengan ayat yang berasal dari kitab Keluaran 15:26 “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan (listen – KJV) suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Masyarakat Yahudi sangatlah mengenal bagian ini. Bagi mereka, firman Tuhan sangatlah sakral dan mereka harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh ketika firman Tuhan tersebut diajarkan.

Tidak sekedar didengarkan, firman Tuhan haruslah dipahami. Ukuran dari paham atau tidaknya kita terhadap prinsip kebenaran firman Tuhan adalah saat kita mampu merumuskan tindakan nyata untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari, berdasarkan prinsip kebenaran dari bagian firman Tuhan yang kita renungkan tersebut. Di sisi yang lain, seorang hamba Tuhan harus dapat memberikan pengertian yang mendasar kepada jemaat dari bagian firman Tuhan yang dia bawakan dalam khotbahnya.

Gereja adalah kelas belajar seumur hidup
Mari kita sejenak mengingat proses pendidikan kita saat berada, misalnya, di sekolah dasar. Di kelas 1 sekolah dasar, kita diajar untuk menghafalkan perkalian 1 x 1 hingga 10 x 10. Adakah diantara kita yang mampu menghafalkan sekian banyak perkalian tersebut hanya dalam satu kali pertemuan pelajaran matematika? Mustahil, bukan? Mari kita bayangkan ada berapa banyak persoalan kehidupan yang kita hadapi. Apakah mungkin semua permasalah tersebut dapat terjawab dengan satu atau dua kali pergi beribadah ke gereja? Jawabannya akan sama, yakni mustahil.

Gereja harusnya menjadi tempat untuk kita menimba pemahaman mengenai prinsip-prinsip kebenaran Tuhan. Seperti halnya ruang kelas, pola pembelajaran di gereja haruslah dinamis dan holistik, artinya prinsip kebenaran yang dipelajari dapat menjangkau dan diterapkan di semua sudut kehidupan kita.

Jika kita hanya mengandalkan pertemuan ibadah sekali seminggu pada waktu ibadah umum saja, sejauh mana prinsip kebenaran yang akan kita pahami? Tentunya akan sangat dangkal bukan? Belum lagi jika kita tidak memiliki semangat untuk belajar, dan disaat yang sama ada begitu banyak permasalahan kehidupan yang tidak mungkin kita abaikan begitu saja.

Pertemuan-pertemuan ibadah dalam komunitas gereja seharusnya mengusung pemahaman mengenai pendidikan warga gereja ini dengan lebih serius. Pertemuan ibadah selain ibadah umum minggu seharusnya dapat menjadi wadah yang mengasyikkan bagi jemaat untuk berkumpul dan menggali kebenaran firman Tuhan.

Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh warga gereja.
Seorang Kristen yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap iman Kristennya, akan berusaha dengan keras untuk bertumbuh dengan baik. Ada dua aspek kehidupan orang Kristen: aspek pribadi dan komunal. Kita dituntut untuk sadar akan konsekuensi iman kita secara pribadi. Berani mempertanggungjawabkan iman kita dalam hal pola pikir, perkataan dan tingkah laku.

Dalam konteks komunal, gereja sebenarnya memiliki pengertian komunitas orang beriman, bukan sekedar sebuah bangunan tempat ibadah. Jadi sebagai komunitas, semua anggota dari komunitas tersebut mengemban tanggung jawab yang sama, yakni untuk terus memastikan kebenaran Tuhan tetap ditegakkan di dalamnya. Dari sinilah muncul tanggung jawab untuk bertumbuh bersama, saling membangun, saling menjaga dan saling menasihati. Dalam hal ini, penulis surat Ibrani menuliskan demikian: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25)

Jangan Percaya Semua Roh! Ujilah Pengajaran di Era Media Sosial (1 Yohanes 4:1)


“Saudara-saudara yang tercinta! Janganlah percaya kepada semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka untuk mengetahui apakah roh yang ada pada mereka itu berasal dari Allah atau tidak.”
1 Yohanes 4:1 (IBIS)

 

Problematika Kekristenan di Era Digital

Di zaman teknologi informasi yang serba cepat seperti sekarang, kita sering merasakan dua hal yang bertolak belakang sekaligus: kekaguman dan kekhawatiran yang mendalam. Di satu sisi, kita kagum karena informasi apa pun dapat diperoleh hanya dengan beberapa ketukan jari di ponsel. Berita, khotbah, bahkan pengajaran rohani datang deras setiap hari melalui Instagram, YouTube, TikTok, dan grup-grup WhatsApp. Namun di sisi lain, kita khawatir karena sulit sekali membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.

Contoh paling sederhana adalah informasi tentang khasiat tanaman obat atau buah-buahan yang sering viral dan langsung dibagikan ribuan kali tanpa ada bukti medis yang jelas. Banyak orang langsung mempraktikkannya hanya karena “banyak yang share”. Kekristenan menghadapi problematika yang persis sama dalam hal pengajaran iman. Banyak sekali ajaran rohani yang beredar luas, saling bertentangan satu sama lain, dan tidak sedikit yang secara mendasar bertentangan dengan kebenaran Alkitab.

Masalah ini bukanlah hal baru. Sejak gereja mula-mula lahir pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2), sudah muncul berbagai penyimpangan pengajaran. Para rasul sendiri harus terus-menerus melawan ajaran-ajaran yang menyimpang agar jemaat tidak tersesat.

 

Pelajaran dari Gereja Mula-mula

Penyimpangan pengajaran pada zaman rasul biasanya muncul karena percampuran antara ajaran Kristen yang murni dengan filsafat atau agama lain yang sudah ada sebelumnya. Di kawasan Asia Kecil, tempat Rasul Yohanes melayani, beberapa ajaran sesat yang paling berpengaruh antara lain:

  • Gnostisisme, yang mengajarkan bahwa Yesus hanyalah roh ilahi yang terperangkap dalam tubuh manusia yang dianggap hina dan rendah.
  • Doketisme, yang percaya bahwa tubuh jasmani Yesus hanyalah ilusi semata, sehingga penderitaan dan penyaliban-Nya pun dianggap tidak nyata.
  • Pengaruh Yudaisme yang menuntut orang percaya tetap menjalankan seluruh ritual Taurat untuk mendapat keselamatan.
  • Ajaran Cerintus dan berbagai variasi lainnya yang secara sengaja merendahkan atau mengecilkan pribadi Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi manusia.

Semua ajaran ini pada intinya ingin menggeser fokus dari Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit. Surat 1 Yohanes ditulis Rasul Yohanes dengan tegas sebagai perlawanan terhadap pengaruh-pengaruh berbahaya ini. Tujuannya jelas: melindungi jemaat agar tetap setia kepada kebenaran Injil yang murni.

 

Sikap Kritis yang Sehat dalam Gereja

Sayangnya, di banyak gereja dewasa ini, sikap kritis terhadap suatu pengajaran sering kali dianggap sebagai sikap yang kurang rohani, bahkan dianggap pemberontakan atau ketidak-taatan. Padahal, sikap waspada dan hati-hati ini justru adalah sikap yang dicontohkan oleh para rasul dan pemimpin gereja mula-mula. Mereka melakukannya bukan karena curiga, melainkan demi menjaga kemurnian pengajaran yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus sendiri.

Rasul Yohanes memberi kita prinsip yang sangat jelas dan abadi:

“Janganlah percaya kepada semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka…”

Realita yang kita hadapi hari ini sudah diramalkan dengan tepat oleh Rasul Paulus hampir dua ribu tahun lalu:

“Sebab akan datang waktunya orang tidak mau lagi mendengarkan ajaran yang sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka sendiri karena ingin telinganya disenangkan. Mereka akan memalingkan telinga mereka dari kebenaran dan berpaling kepada dongeng-dongeng.” (2 Timotius 4:3-4)

 

Beberapa Contoh Pengajaran yang Menyimpang di Masa Kini

Di era media sosial, penyimpangan pengajaran semakin mudah menyebar. Berikut beberapa contoh yang sering muncul dan sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini:

  1. Injil Kemakmuran (Prosperity Gospel) Pengajaran ini menjanjikan bahwa iman yang kuat pasti menghasilkan kekayaan materi, kesehatan sempurna, dan kesuksesan duniawi. Kalau belum “berhasil”, berarti imanmu masih kurang. Padahal, pengajaran ini sering mengabaikan realita salib, penderitaan, dan panggilan untuk menyangkal diri yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri.
  2. Kristen Progresif Tren ini cenderung menafsir ulang Alkitab sesuai nilai budaya dan zaman modern. Misalnya, merelatifkan ajaran tentang dosa, keselamatan hanya melalui Yesus, atau bahkan mengatakan bahwa semua agama pada dasarnya sama saja menuju Tuhan. Akibatnya, pribadi Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan yang berinkarnasi menjadi kabur.
  3. Pengajaran “Wahyu Baru” atau Nubuat Modern yang Tidak Dapat Diuji Banyak konten di YouTube dan TikTok yang menampilkan “nabi” atau “rasul” masa kini yang mengklaim menerima wahyu langsung dari Tuhan di luar Alkitab. Nubuat-nubuat itu sering sangat spesifik tentang masa depan pribadi atau nasional, tetapi jarang sekali diuji dengan Firman yang sudah ada. Ini membuat banyak orang lebih bergantung pada “suara baru” daripada pada Firman Tuhan yang telah sempurna.
  4. Campuran dengan Praktik Mistis atau New Age Beberapa pengajaran mengemas “iman positif”, visualisasi, atau meditasi ala Timur sebagai “cara baru mendekatkan diri kepada Tuhan”. Padahal, ini sering menggeser fokus dari Kristus yang disalibkan menjadi fokus pada kekuatan pikiran atau energi diri sendiri.

Semua contoh di atas gagal melewati ujian sederhana yang diberikan Rasul Yohanes: Apakah pengajaran itu benar-benar meninggikan Yesus Kristus yang telah datang dalam daging, disalibkan, dan bangkit untuk menebus dosa kita?

 

Kriteria Menguji Pengajaran yang Benar

Dalam bahasa Yunani asli, kata “roh” (pneuma) memiliki arti yang luas: bukan hanya roh kudus, tetapi juga sikap hati, motivasi, dan semangat yang mendorong seseorang. Karena itu, kita harus menguji dua hal sekaligus:

  1. Isi Pengajarannya Apakah pengajaran itu memberitakan dengan jelas Yesus Kristus yang telah datang dalam daging (inkarnasi), mati di salib sebagai tebusan dosa, dan bangkit pada hari ketiga? Apakah pengajaran tersebut mengarahkan kita untuk menyembah Dia sebagai Tuhan (Theos) dan Tuan (Kurios) yang mutlak?
  2. Motivasi dan Buahnya Apakah pemberitaan itu didorong oleh keinginan mencari uang, popularitas, atau pujian manusia? Apakah buahnya adalah orang-orang semakin dekat dengan Kristus, hidup semakin menyerupai-Nya, dan karakter mereka berubah menjadi lebih seperti Kristus?

 

Kekuatan Roh yang Lebih Besar

“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4)

Ayat ini bukan janji kemenangan otomatis tanpa usaha. Dalam konteksnya, kemenangan ini diperoleh melalui pengajaran yang benar yang menolak ajaran sesat. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita jauh lebih besar daripada roh dunia (kosmos) — yaitu sistem nilai dan pola pikir masyarakat yang sementara dan sementara saja.

Iman yang kuat lahir dari mendengar Firman yang benar (rhema — pesan yang jelas dan utuh dari Tuhan), bukan sekadar membaca Alkitab tanpa pemahaman yang mendalam. Firman yang benar akan menghasilkan motivasi murni: melayani dan memuliakan Kristus dalam segala aspek kehidupan.

 

Panggilan Praktis untuk Kita Semua

Mari kita bangun kebiasaan menguji segala pengajaran dengan langkah-langkah yang sederhana namun konsisten:

  1. Selalu bandingkan pengajaran tersebut dengan keseluruhan ajaran Alkitab (bukan hanya satu ayat yang dipotong-potong).
  2. Tanyakan dengan jujur: Apakah Yesus Kristus dimuliakan sebagai Tuhan dan Juruselamat yang tunggal?
  3. Perhatikan buahnya — baik dalam kehidupan pengajar maupun pendengarnya. Apakah karakter mereka semakin mirip dengan Kristus?
  4. Periksa motivasi di balik pemberitaan: Apakah ada unsur uang, popularitas, atau sensasi?
  5. Terapkan Firman dalam kehidupan sehari-hari — di pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
  6. Diskusikan dengan saudara seiman yang matang secara rohani jika ada keraguan.

Jangan mudah terpesona oleh pengajaran yang terdengar sangat mistis, “super rohani”, atau penuh nubuat dramatis, tetapi tidak mampu mengubah karakter kita menjadi lebih kudus dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

 

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi, mari kita kembali dengan sepenuh hati kepada Firman Tuhan yang murni. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan Alkitab dengan sungguh-sungguh. Terapkan kebenaran itu dalam setiap aspek kehidupan kita — mulai dari kejujuran di tempat kerja, kesetiaan dalam pernikahan, hingga welas asih kepada sesama yang menderita.

Ketika kita setia menguji segala roh dan berpegang teguh pada pengajaran yang benar, iman kita akan bertumbuh dengan kuat, gereja Tuhan akan tetap sehat, dan nama Tuhan Yesus Kristus akan dimuliakan di tengah dunia yang semakin gelap.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin.