“Saudara-saudara yang tercinta! Janganlah percaya kepada
semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka untuk
mengetahui apakah roh yang ada pada mereka itu berasal dari Allah atau tidak.” 1 Yohanes 4:1 (IBIS)
Problematika Kekristenan di Era
Digital
Di zaman teknologi informasi yang
serba cepat seperti sekarang, kita sering merasakan dua hal yang bertolak
belakang sekaligus: kekaguman dan kekhawatiran yang mendalam. Di satu sisi,
kita kagum karena informasi apa pun dapat diperoleh hanya dengan beberapa
ketukan jari di ponsel. Berita, khotbah, bahkan pengajaran rohani datang deras
setiap hari melalui Instagram, YouTube, TikTok, dan grup-grup WhatsApp. Namun
di sisi lain, kita khawatir karena sulit sekali membedakan mana yang benar dan
mana yang palsu.
Contoh paling sederhana adalah
informasi tentang khasiat tanaman obat atau buah-buahan yang sering viral dan
langsung dibagikan ribuan kali tanpa ada bukti medis yang jelas. Banyak orang
langsung mempraktikkannya hanya karena “banyak yang share”. Kekristenan
menghadapi problematika yang persis sama dalam hal pengajaran iman. Banyak
sekali ajaran rohani yang beredar luas, saling bertentangan satu sama lain, dan
tidak sedikit yang secara mendasar bertentangan dengan kebenaran Alkitab.
Masalah ini bukanlah hal baru. Sejak
gereja mula-mula lahir pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2), sudah muncul
berbagai penyimpangan pengajaran. Para rasul sendiri harus terus-menerus
melawan ajaran-ajaran yang menyimpang agar jemaat tidak tersesat.
Pelajaran dari Gereja Mula-mula
Penyimpangan pengajaran pada zaman
rasul biasanya muncul karena percampuran antara ajaran Kristen yang murni
dengan filsafat atau agama lain yang sudah ada sebelumnya. Di kawasan Asia
Kecil, tempat Rasul Yohanes melayani, beberapa ajaran sesat yang paling
berpengaruh antara lain:
- Gnostisisme, yang mengajarkan bahwa Yesus hanyalah roh ilahi yang
terperangkap dalam tubuh manusia yang dianggap hina dan rendah.
- Doketisme, yang percaya bahwa tubuh jasmani Yesus hanyalah ilusi
semata, sehingga penderitaan dan penyaliban-Nya pun dianggap tidak nyata.
- Pengaruh Yudaisme yang
menuntut orang percaya tetap menjalankan seluruh ritual Taurat untuk
mendapat keselamatan.
- Ajaran Cerintus dan
berbagai variasi lainnya yang secara sengaja merendahkan atau mengecilkan
pribadi Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi manusia.
Semua ajaran ini pada intinya ingin
menggeser fokus dari Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit.
Surat 1 Yohanes ditulis Rasul Yohanes dengan tegas sebagai perlawanan terhadap
pengaruh-pengaruh berbahaya ini. Tujuannya jelas: melindungi jemaat agar tetap
setia kepada kebenaran Injil yang murni.
Sikap Kritis yang Sehat dalam Gereja
Sayangnya, di banyak gereja dewasa
ini, sikap kritis terhadap suatu pengajaran sering kali dianggap sebagai sikap
yang kurang rohani, bahkan dianggap pemberontakan atau ketidak-taatan. Padahal,
sikap waspada dan hati-hati ini justru adalah sikap yang dicontohkan oleh para
rasul dan pemimpin gereja mula-mula. Mereka melakukannya bukan karena curiga,
melainkan demi menjaga kemurnian pengajaran yang telah mereka terima dari Tuhan
Yesus sendiri.
Rasul Yohanes memberi kita prinsip
yang sangat jelas dan abadi:
“Janganlah percaya kepada semua
orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka…”
Realita yang kita hadapi hari ini
sudah diramalkan dengan tepat oleh Rasul Paulus hampir dua ribu tahun lalu:
“Sebab akan datang waktunya orang
tidak mau lagi mendengarkan ajaran yang sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan
guru-guru menurut kehendak mereka sendiri karena ingin telinganya disenangkan.
Mereka akan memalingkan telinga mereka dari kebenaran dan berpaling kepada
dongeng-dongeng.” (2 Timotius 4:3-4)
Beberapa Contoh Pengajaran yang
Menyimpang di Masa Kini
Di era media sosial, penyimpangan
pengajaran semakin mudah menyebar. Berikut beberapa contoh yang sering muncul
dan sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini:
- Injil Kemakmuran (Prosperity
Gospel) Pengajaran ini menjanjikan
bahwa iman yang kuat pasti menghasilkan kekayaan materi, kesehatan
sempurna, dan kesuksesan duniawi. Kalau belum “berhasil”, berarti imanmu
masih kurang. Padahal, pengajaran ini sering mengabaikan realita salib,
penderitaan, dan panggilan untuk menyangkal diri yang diajarkan Tuhan
Yesus sendiri.
- Kristen Progresif Tren ini cenderung menafsir ulang Alkitab sesuai nilai
budaya dan zaman modern. Misalnya, merelatifkan ajaran tentang dosa,
keselamatan hanya melalui Yesus, atau bahkan mengatakan bahwa semua agama
pada dasarnya sama saja menuju Tuhan. Akibatnya, pribadi Yesus Kristus
sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan yang berinkarnasi menjadi
kabur.
- Pengajaran “Wahyu Baru” atau
Nubuat Modern yang Tidak Dapat Diuji
Banyak konten di YouTube dan TikTok yang menampilkan “nabi” atau “rasul”
masa kini yang mengklaim menerima wahyu langsung dari Tuhan di luar
Alkitab. Nubuat-nubuat itu sering sangat spesifik tentang masa depan
pribadi atau nasional, tetapi jarang sekali diuji dengan Firman yang sudah
ada. Ini membuat banyak orang lebih bergantung pada “suara baru” daripada
pada Firman Tuhan yang telah sempurna.
- Campuran dengan Praktik Mistis
atau New Age Beberapa pengajaran mengemas
“iman positif”, visualisasi, atau meditasi ala Timur sebagai “cara baru
mendekatkan diri kepada Tuhan”. Padahal, ini sering menggeser fokus dari
Kristus yang disalibkan menjadi fokus pada kekuatan pikiran atau energi
diri sendiri.
Semua contoh di atas gagal melewati
ujian sederhana yang diberikan Rasul Yohanes: Apakah pengajaran itu benar-benar
meninggikan Yesus Kristus yang telah datang dalam daging, disalibkan, dan
bangkit untuk menebus dosa kita?
Kriteria Menguji Pengajaran yang
Benar
Dalam bahasa Yunani asli, kata “roh”
(pneuma) memiliki arti yang luas: bukan hanya roh kudus, tetapi juga
sikap hati, motivasi, dan semangat yang mendorong seseorang. Karena itu, kita
harus menguji dua hal sekaligus:
- Isi Pengajarannya Apakah pengajaran itu memberitakan dengan jelas Yesus
Kristus yang telah datang dalam daging (inkarnasi), mati di salib
sebagai tebusan dosa, dan bangkit pada hari ketiga? Apakah pengajaran
tersebut mengarahkan kita untuk menyembah Dia sebagai Tuhan (Theos)
dan Tuan (Kurios) yang mutlak?
- Motivasi dan Buahnya Apakah pemberitaan itu didorong oleh keinginan mencari
uang, popularitas, atau pujian manusia? Apakah buahnya adalah orang-orang
semakin dekat dengan Kristus, hidup semakin menyerupai-Nya, dan karakter
mereka berubah menjadi lebih seperti Kristus?
Kekuatan Roh yang Lebih Besar
“Kamu berasal dari Allah,
anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada
di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes
4:4)
Ayat ini bukan janji kemenangan
otomatis tanpa usaha. Dalam konteksnya, kemenangan ini diperoleh melalui
pengajaran yang benar yang menolak ajaran sesat. Roh Kudus yang tinggal di
dalam kita jauh lebih besar daripada roh dunia (kosmos) — yaitu sistem
nilai dan pola pikir masyarakat yang sementara dan sementara saja.
Iman yang kuat lahir dari mendengar
Firman yang benar (rhema — pesan yang jelas dan utuh dari Tuhan), bukan
sekadar membaca Alkitab tanpa pemahaman yang mendalam. Firman yang benar akan
menghasilkan motivasi murni: melayani dan memuliakan Kristus dalam segala aspek
kehidupan.
Panggilan Praktis untuk Kita Semua
Mari kita bangun kebiasaan menguji
segala pengajaran dengan langkah-langkah yang sederhana namun konsisten:
- Selalu bandingkan pengajaran
tersebut dengan keseluruhan ajaran Alkitab (bukan hanya satu ayat yang
dipotong-potong).
- Tanyakan dengan jujur: Apakah
Yesus Kristus dimuliakan sebagai Tuhan dan Juruselamat yang tunggal?
- Perhatikan buahnya — baik dalam
kehidupan pengajar maupun pendengarnya. Apakah karakter mereka semakin
mirip dengan Kristus?
- Periksa motivasi di balik
pemberitaan: Apakah ada unsur uang, popularitas, atau sensasi?
- Terapkan Firman dalam kehidupan
sehari-hari — di pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
- Diskusikan dengan saudara
seiman yang matang secara rohani jika ada keraguan.
Jangan mudah terpesona oleh
pengajaran yang terdengar sangat mistis, “super rohani”, atau penuh nubuat
dramatis, tetapi tidak mampu mengubah karakter kita menjadi lebih kudus dan
tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi, mari
kita kembali dengan sepenuh hati kepada Firman Tuhan yang murni. Luangkan waktu
setiap hari untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan Alkitab dengan
sungguh-sungguh. Terapkan kebenaran itu dalam setiap aspek kehidupan kita —
mulai dari kejujuran di tempat kerja, kesetiaan dalam pernikahan, hingga welas
asih kepada sesama yang menderita.
Ketika kita setia menguji segala roh
dan berpegang teguh pada pengajaran yang benar, iman kita akan bertumbuh dengan
kuat, gereja Tuhan akan tetap sehat, dan nama Tuhan Yesus Kristus akan
dimuliakan di tengah dunia yang semakin gelap.
Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin.