Laman

Tampilkan postingan dengan label menguji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menguji. Tampilkan semua postingan

01 Mei 2020

PEMIMPIN DAN KRITIKAN


        Saat sebuah kritik yang ditujukan kepada seseorang yang dianggap memiliki kedudukan atau status yang sejajar, hal tersebut mungkin dianggap sebagai sebuah kewajaran. Namun jika sebuah kritik ditujukan kepada atasan atau orang yang memiliki status dan kedudukan tinggi, hal tersebut seringkali dipandang sebagai sebuah perlawanan. Kata kritik sudah memiliki konotasi negatif dalam masyarakat kita. Namun apakah selalu demikian?


KRITIK – APA ITU?
        Kita akan mampu menempatkan kritik di tempat yang tepat saat kita memahami apa itu kritik dan apa fungsinya bagi diri kita.
        Menurut kamus bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008), kata kritik memiliki arti kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat. Banyak orang hanya memandang kritik sebagai sebuah kecaman, atau bahkan serangan. Jarang sekali ada orang yang melihat kritik sebagai sebuah tanggapan. Menurut saya pribadi, kritik adalah sebuah bantuan yang diberikan orang lain untuk melihat hal-hal yang seringkali tidak dapat kita lihat dengan pandangan kita sendiri.
        Berdasarkan makna katanya, kritik pada dasarnya bersifat netral. Respon kitalah yang kemudian akan memposisikan kritik tersebut dalam pikiran kita. Kritik akan menjadi sebuah hal yang menyakitkan dan melukai saat kita memandanganya sebagai sebuah serangan kebencian yang dilancarkan oleh orang-orang yang kita anggap ingin menghancurkan hidup kita. Namun di lain pihak, kritik akan menjadi seperti nutrisi yang menyehatkan dan menguatkan, saat kita melihatnya sebagai sebuah alat evaluasi bagi diri kita.
        Selembar soal ulangan adalah gambaran yang dapat kita gunakan saat kita memandang sebuah kritik. Selembar soal ulangan dapat dimaknai secara berbeda oleh siswa sekolah. Bagi seorang murid yang sadar akan tujuan pendidikannya, soal ulangan akan menjadi alat untuk mengukur kemampuan dan pemahamannya terhadap sebuah mata pelajaran. Namun di mata seorang murid yang tidak terlalu mempedulikan tujuannya bersekolah, soal ulangan tersebut hanya akan dipandang sebagai hal yang menakutkan dan mengusik kenyamanannya.


ANTI-KRITIK = ANTI-PERKEMBANGAN
        Secara nyata: adakah pemikiran dan tindakan seseorang yang bebas dari kesalahan? Tentu saja tidak ada. Semua manusia mengakui bahwa pasti akan ada kelemahan dalam kehidupannya, baik dalam pemikiran maupun tindakannya. Permasalahan yang seringkali timbul adalah bahwa kita sulit untuk melihat kekurangan atau kelemahan kita. Bukan hanya sekedar sulit melihat kesalahan, namun seringkali malah tidak mampu melihatnya.
Sederhananya saja, kita tidak mungkin dapat melihat wajah kita sendiri tanpa bantuan dari pihak lain – baik itu barang atau orang lain. Oleh karena itulah kita sangat membutuhkan pihak lain yang mampu melihat diri kita, baik itu kelemahan maupun kelebihan kita. Dengan adanya mereka, kita akan mampu lebih banyak mengenal diri kita.
        Kita akan menjadi manusia yang “utuh” dengan mengenal diri sendiri secara menyeluruh. Kita harus mampu mengidentifikasi diri kita, baik itu kelemahan maupun kelebihan kita. Dari situlah kita akan mampu mengenal setiap potensi diri dan mengembangkannya. Kita juga akan mengenali kelemahan-kelemahan kita dan mencari cara untuk memperbaikinya. Pengembangan diri akan dapat berjalan dengan baik saat kita mengenal diri sendiri dengan baik.


*Celoteh senja

12 Juli 2018

SENDIRI: Mandiri dan Bertanggung Jawab (Lukas 4:1-2)

Disadari atau tidak, kita harus menghadapi setiap pergumulan dalam kehidupan kita ini seorang diri. Diri kita sendirilah yang secara langsung akan mengalami baik buruknya konsekuensi dari setiap pilihan kita. Urusan iman kita kepada Tuhan adalah urusan diri kita sendiri. Iman kepada Tuhan tidak dapat dipaksakan untuk dimiliki oleh seseorang, karena pada hakikatnya iman adalah keputusan pribadi seseorang untuk mempercayai Tuhan. lantas bagaimana peranan orang tua dan orang-orang di sekitar kita? Semua orang yang ada di sekitar kita memang memiliki pengaruh dalam pertumbuhan iman kita. Ada yang meberi pengaruh besar dan ada yang berpengaruh kecil. Namun perlu kita semua sadari bahwa pertumbuhan iman kita berasal dari setiap respon dan keputusan diri kita sendiri.

SENDIRI
Para penulis Injil menulis beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa ada masa dimana Tuhan Yesus menjalani proses-Nya seorang diri. Semisal dalam Lukas 4:1-2 menuliskan demikian “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.” Setelah mengikuti babtisan Yohanes Pembabtis, Tuhan Yesus dibawa Roh Kudus untuk menjalani proses ujian yang sangat berat di padang gurun. Roh Kudus Allah yang mengantar-Nya. Di akhir proses ujian berat tersebut kita ketahui bersama bahwa Yesus dilayani oleh para malaikat. Tetapi di tengah padang gurun itu, saat proses ujian terjadi, Yesus benar-benar seorang diri, melakukan semuanya sendirian, termasuk berhadapan dengan iblis.
Mari kita mundur ke sebuah peristiwa di Perjanjian Lama yang juga dapat memberi kita gambaran yang jelas, bagaimana keputusan kita harus dipertanggungjawabkan secara pribadi. Dalam Daniel pasal 3 diceritakan bahwa Raja Nebukadnezar membuat patung emas dirinya dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menyembah patung tersebut. Bagi siapapun yang menolak menyembah akan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Singkat cerita, Hananya, Misael dan Azarya, menolak untuk menyembah patung sang Raja. Mereka membuat sebuah pernyataan yang sangat berani dengan mengatakan “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18)
Kita semua tahu bahwa pada akhirnya mereka mengalami pertolongan Tuhan. Tetapi mari kita kembali pada fase dimana setelah mereka menyatakan menolak menyembah patung Nebukadnezar tersebut, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka kemudian diikat dengan erat, tungku api dinyalakan dengan panas yang tujuh kali lipat dari yang biasa, kemudian mereka dicampakkan ke dalamnya. Sampai pada batas itu, mereka tidak melihat ada keajaiban atau mujizat dari Tuhan untuk menolong mereka. Butuh sebuah keberanian yang besar untuk mengambil keputusan yang menyangkut sebuah konsekuensi yang besar. Dan itulah yang mereka alami.
Menyadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan secara pribadi setiap pilihan dan tindakan kita adalah sebuah sikap yang penting. Tanpa kesadaran tersebut, kita akan memiliki frame berpikir yang salah tentang realitas kehidupan. Lebih parahnya lagi, kedewasaan kita tidak akan terbentuk. Satu ciri menonjol dari sebuah kedewasaan adalah sifat kemandirian.
Mandiri artinya berada dalam keadaan dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Fase ketergantungan dalam proses pertumbuhan adalah fase kanak-kanak.  Kita menganggap sebagai hal yang wajar saat anak-anak tergantung pada orang tua mereka. Saat masih dalam fase bayi atau balita, kita tidak dapat menuntut banyak kepada anak-anak kita untuk dapat, misalnya, makan sendiri. Mereka masih butuh disuapi makanan karena ketidakmampuan mereka secara fisik.
Namun hal tersebut tidak lagi berlaku bagi anak-anak kita yang sudak berusia enam tahun keatas. Mereka harus mulai belajar mengurus kebutuhan mereka sendiri. Mengambil makan sendiri, makan tanpa disuapi, mandi sendiri, mempersiapkan seragam sekolah sendiri, dll. Bahkan untuk anak yang lebih besar, kita sebagai orang tua sering menuntut mereka untuk mulai terlibat dalam mengurus rumah dan mengambil tanggung jawab yag lebih besar. Mereka harus mampu menghadapi pergumulan hidup mereka sendiri, secara mandiri. Walaupun adakalanya mereka masih membutuhkan pertolongan orang tua, namun pada intinya mereka akan menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menghadapi dan menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.

DALAM PENYERTAAN DAN PENJAGAAN TUHAN
Matius 14:22-23 mencatat dalam peristiwa yang lain demikian “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Kita sering mendapati kisah dimana Tuhan Yesus memisahkan diri dari keramaian dan mengambil waktu sendiri. Kesendirian-Nya ini selalu dilakukan dengan tujuan yan jelas, yakni untuk bersekutu dengan Bapa-Nya, dalam doa. Namun setelah Tuhan Yesus menyelesaikan doa-Nya, apakah problematika pelayanan-Nya menjadi lebih mudah? Setelah doa di taman Getsemani, apakah kemudian penyaliban dibatalkan? Tentu tidak, bukan? Itulah kenyataan hidup dan tanggung jawab yang memang harus Yesus pikul. Problematikan kehidupan tidak akan menjadi lebih mudah setelah kita berdoa. Hal tersebut juga berlaku bagi semua orang tanpa kecuali, bahkan bagi pelayan Tuhan sekalipun.
Namun jika kita perhatikan semua tokoh dalam Alkitab yag menyerahkan kehidupan mereka kepada Tuhan, termasuk Tuhan Yesus Kristus yang berserah kepada Bapa, mereka justru terlihat semakin teguh dan kuat menjalani kehidupan, sekalipun harus menghadapi akhir kisah yang berat. Persekutuan para murid Yesus semakin intens dengan Tuhan, dan mereka menghadapi tekanan berat karena iman dan berujung martir. Mereka menyadari hal itu dan tetap berani menghadapinya. Mengapa demikian? Karena mereka tahu tujuan akhir dari semua itu dan melihat serta merasakan penyertaan Tuhan di dalamnya. 
Selama kita hidup di dunia ini, kita harus mandiri dan menghadapi semua pergumulan hidup itu sendiri. Mungkin akan ada banyak orang di sekitar kita yang datang menolong, tapi hal itu tidak akan selalu terjadi. Di akhir dari semuanya itu, hanya ada kita seorang diri berhadapan dengan permasalahan dan pergumulan hidup. Hadapi fakta ini dan berjuanglah. Ingatlah bahwa ditengah segala hal yang terjadi, seberat apapun itu, ada Tuhan yang mengawasi dan menjaga kita. Ia tidak akan membiarkan kita menghadapi permasalahan yang tidak dapat kita tanggung. Ia menggunakan semua bentuk pergumulan kita untuk mendewasakan kita. Hingga pada akhirnya, ia akan memberikan kelegaan yang sempurna di hadirat-Nya. 

17 Februari 2018

IBLIS: SIAPA SESUNGGUHNYA SANG PENCOBA? (Matius 4:1-11; Markus 1:12-13; Lukas 4:1-13)


Kisah pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun merupakan salah satu kisah yang sangat terkenal dari Alkitab. Banyak erenungan yang dapat kita ambil dari kisah tersebut. Dalam perenungan kali ini, kita akan melihat siapa sebenarnya Sang Pencoba, yang ternyata sering kali datang kepada Tuhan hingga saat ini.

Kisah pencobaan tersebut dimulai saat Tuhan Yesus selesai dibabtis oleh Nabi Yohanes Pembabtis. Setelah keluar dari air dan Roh Kudus yang nampak seperti burung merpati turun atas-Nya, Tuhan Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai oleh iblis. Perhatikanlah bahwa Roh Kudus Allah-lah yang membawa Tuhan Yesus ke padang gurun. Penulis Injil Markus bahkan mengungkapkan kata “dibawa” dengan nuansa yang kasar, yang berarti dibuang atau dilemparkan. Hal ini menunjukkan bahwa proses yang sedang dihadapi Tuhan Yesus kala itu adalah sebuah proses yang berat.

Dalam Injil Matius dan Lukas dituliskan bahwa Roh Kudus sepertinya sengaja membawa Tuhan Yesus untuk dicobai. Hal tersebut menegaskan bahwa posisi Tuhan Yesus adalah sama seperti manusia pada umumnya. Ia tetap harus menghadapi segala bentuk cobaan dan ujian terhadap iman-Nya kepada Bapa.

Sekarang marilah kita sedikit memahami tentang kata “dicobai.” Kata “Dicobai” berasal dari kata Yunani “Peirazo” diterjemahkan dalam dua kata dalam bahasa Inggris: (1) Temp - tujuannya agar melakukan kejahatan/kesalahan/dosa. Dalam konteks inilah kemudian penterjemah Alkitab kita menterjemahkannya dengan kata dicoba atau pencobaan. Kata dicobai selalu membawa konotasi negative di dalamnya, karena memang pada kenyataannya tidak ada seseorang yang dicobai untuk berbuat baik. Kemudian (2) Test - bertujuan untuk mengungkapkan atau memunculkan kebenaran dan hal yang murni agar terungkap. Dalam konteks ini kita memahami bahwa Abraham sedang diuji oleh Tuhan dan bukannya dicobai. Tujuan Tuhan adalah untuk mengungkap apa yang ada dalam hati terdalam Abraham terhadap Tuhan. Demikian juga dengan bangsa Israel selama pengembaraan mereka di padang gurun. Mereka menghadapi ujian untuk mengungkapkan siapa mereka yang sebenarnya dari hati yang terdalam. Dan di akhir kisah pengembaraan tersebut, kita melihat bahwa kecenderungan bangsa Israel adalah melakukan kejahatan. Ada satu kata lain yang seringkali juga diterjemahkan dengan kata dicobai, yaitu kata “Dokime,” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “Trial.” Kata ini mengandung makna persidangan, pembuktian dengan fakta, menunjukkan kemurnian.

Mari sekarang kita perhatikan salah satu tokoh sentral dalam kisah ini, yakni si Iblis. Setan (bahasa Caldea - red) atau iblis ini sebenarnya adalah sebuah gelar dari sang tokoh yang mencobai Tuhan Yesus. Gelar tersebut berarti penuduh, jahat, pemfitnah, pembohong. Jadi gelar tersebut menunjukkan sifat-sifat dari si iblis itu sendiri. Berhubung kata iblis atau setan ini adalah bentukan kata sifat, maka sebenarnya kata tersebut dapat berlaku bagi siapa sebagai person-nya, termasuk kita. Inilah yang sebenarnya harus menjadi perenungan kita semua.

Sebelum lebih jauh lagi, mari kita perhatikan tiga peristiwa pencobaan yang dialami Tuhan Yesus kala itu. Tujuan si iblis mencobai Yesus adalah agar muncul keraguan terhadap Bapa-Nya. Dalam kondisi Yesus yang sedang sangat lapar karena berpuasa selama 40 hari, si setan mencoba-Nya dengan pencobaan pertama, mengubah batu menjadi roti. Perhatikan kalimat “Jika Engkau Anak Allah” yang dilontarkan oleh iblis. Kalimat tersebut seakan meminta pembuktian bahwa Yesus adalah benar anak Allah. Seolah ada pertanyaan seperti “Apakah benar Bapa menganggapmu sebagai anak-Nya? Lantas kenapa Dia membiarkan kamu dalam situasi seperti ini – kelaparan, sendirian, tersiksa?” Iblis ingin Tuhan Yesus meragukan pemeliharaan Tuhan secara fisik dengan memunculkan pikiran “Daripada mati kelaparan, kamu dapat mengubah batu ini jadi roti, bukan? Kan kamu memiliki kuasa yang besar jika memang benar kamu adalah Sang Anak Allah.”

Dalam pencobaan kedua, nada yang sama digunakan oleh si iblis untuk menyerang Tuhan Yesus. Iblis mungkin berpikir dengan meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Suci, dengan kemudian menambahkannya dengan pernyataan firman Tuhan dari Mazmur 91, akan dapat menggoncangkan iman Yesus. Iblis ingin memunculkan pikiran meragukan jaminan penyertaan dan perlindungan Bapa, dalam pikiran Yesus. Iblis seolah bertanya “Benarkah Tuhan akan menjaga nyawamu saat kamu dalam bahaya?” Dan dalam pencobaan ketiga, iblis seolah membawa Yesus untuk berpikir dan meragukan otoritas dari panggilan-nya sebagai Juru Selamat, Mesias bagi umat manusia. Iblis seolah bertanya “Menjadi Mesias artinya menjadi Raja yang berkuasa atas seluruh dunia, bukan? Apakah Tuhan akan memberikan kekuasaan sebesar itu?
Inti dari semua pencobaan Iblis adalah mengguncang Yesus dengan tantangan-tantangan untuk menunjukkan otoritas-Nya sebagai Anak Allah yang diurapi, Sang Mesias yang dijanjikan kepada umat manusia. Namun jika kemudian Tuhan Yesus menuruti tantangan-tantangan tersebut, maka Tuhan Yesus telah gagal memenuhi rancangan Bapa-Nya. Tuhan Yesus telah melenceng dari rancangan Bapa yang hakiki mengenai kehadiran-Nya di dunia ini. Dan kegagalan tersebut akan membuat Tuhan Yesus tidak layak lagi menyandang predikat sebagai Anak Allah, Sang Mesias itu.

Sekarang, mari kita melihat jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan-pertanyaan setan. Pada pencobaan pertama, Tuhan Yesus menjawab “Manusia tidak hidup dari roti SAJA, tapi dari firman yang keluar dari mulut Allah.” Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita bahwa hidup ini bukan melulu masalah fisik dan pemenuhan keinginan jasmaniah saja, tapi juga harus memperhatikan kehidupan jiwani/rohani. Kenyataannya, jika fokus kita hanya kepada pemenuhan keinginan-keinginan tubuh, maka kita tidak akan ada bedanya dengan binatang. Kesadaran inilah yang harus kita miliki, dan mulai lebih memperhatikan kehidupan rohani kita.

Pada pencobaan kedua, Tuhan Yesus menjawab “Jangan cobai Tuhan Allahmu.” Penobaan ini masih berhubungan erat dengan pencobaan pertama. Kita harus ingat dan benar-benar menekankan pada diri kita bahwa Tuhan bukanlah pelayan kita, yang harus selalu memenuhi semua keinginan kita. Kitalah yang harus tunduk pada perintah-Nya. Mencobai Tuhan seringkali ditunjukkan dengan sikap seperti seorang anak-anak yang selalu meminta keinginannya selalu dipenuhi. Hal ini mengingatkan kita tentang arti kedewasaan rohani. Seseorang yang dewasa secara rohani, akan menundukkan dirinya kepada Tuhan dan bukannya menuntut Tuhan “tunduk” pada keinginannya.

Dalam pencobaan ketiga, Tuhan Yesus terlihat mulai jengah akan keberadaan setan ini. Di sisi lain, setan terlihat berganti taktik karena menyinggung posisi Yesus sebagai Anak Allah ternyata tidak berhasil. Kali ini Setan menunjukkan “takdir yang seharusnya” diperoleh Yesus sebagai seorang Mesias, yakni berkuasa sebagai raja atas dunia. “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus memiliki kesadaran penuh bahwa Ia adalah Sang Mesias. Namun kemesiasan-Nya bukanlah Mesias yang seperti dibayangkan akan berkuasa sebagai raja. Kemesiasan-Nya adalah yang tetap tunduk kepada rencana Bapa-Nya: Penebusan dosa umat manusia.

Sifat-sifat setan seperti yang telah kita lihat di atas, sebenarnya dapat juga ada dalam hidup kita. Bukankah tidak jarang kita bersikap seperti anak-anak kepada Tuhan? kita sering kali menuntut Tuhan untuk selalu memenuhi semua keinginan kita. Saat keinginan kita tidak dipenuhi, kita mulai menuduh dan menyalahkan Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan bukanlah budak kita. Kita tidak hidup untuk memenuhi keinginan diri kita sendiri. Tuhan menciptakan kita untuk memenuhi tujuan dan rencana-Nya. Itulah bentuk pribadi yang telah dewasa secara rohani.

Marilah kita berjuang untuk menjadi pribadi rohani yang dewasa. Sadarlah bahwa kita hidup untuk menjalankan rancangan Allah bagi kita. Saat kita memaksakan keinginan dan rancangan kita kepada Allah, pada hakikatnya kita telah berdosa dan telah berubah menjadi iblis itu sendiri. Perjuangkan pendewasaan ini adalah sebuah proses yang berat. Oleh karena itu gantungkanlah hidup kita sebenuhnya pada kasih karunia Tuhan dan kebenaran firman-Nya. 

30 Desember 2016

Jangan Percaya Semua Roh! Ujilah Pengajaran di Era Media Sosial (1 Yohanes 4:1)


“Saudara-saudara yang tercinta! Janganlah percaya kepada semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka untuk mengetahui apakah roh yang ada pada mereka itu berasal dari Allah atau tidak.”
1 Yohanes 4:1 (IBIS)

 

Problematika Kekristenan di Era Digital

Di zaman teknologi informasi yang serba cepat seperti sekarang, kita sering merasakan dua hal yang bertolak belakang sekaligus: kekaguman dan kekhawatiran yang mendalam. Di satu sisi, kita kagum karena informasi apa pun dapat diperoleh hanya dengan beberapa ketukan jari di ponsel. Berita, khotbah, bahkan pengajaran rohani datang deras setiap hari melalui Instagram, YouTube, TikTok, dan grup-grup WhatsApp. Namun di sisi lain, kita khawatir karena sulit sekali membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.

Contoh paling sederhana adalah informasi tentang khasiat tanaman obat atau buah-buahan yang sering viral dan langsung dibagikan ribuan kali tanpa ada bukti medis yang jelas. Banyak orang langsung mempraktikkannya hanya karena “banyak yang share”. Kekristenan menghadapi problematika yang persis sama dalam hal pengajaran iman. Banyak sekali ajaran rohani yang beredar luas, saling bertentangan satu sama lain, dan tidak sedikit yang secara mendasar bertentangan dengan kebenaran Alkitab.

Masalah ini bukanlah hal baru. Sejak gereja mula-mula lahir pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2), sudah muncul berbagai penyimpangan pengajaran. Para rasul sendiri harus terus-menerus melawan ajaran-ajaran yang menyimpang agar jemaat tidak tersesat.

 

Pelajaran dari Gereja Mula-mula

Penyimpangan pengajaran pada zaman rasul biasanya muncul karena percampuran antara ajaran Kristen yang murni dengan filsafat atau agama lain yang sudah ada sebelumnya. Di kawasan Asia Kecil, tempat Rasul Yohanes melayani, beberapa ajaran sesat yang paling berpengaruh antara lain:

  • Gnostisisme, yang mengajarkan bahwa Yesus hanyalah roh ilahi yang terperangkap dalam tubuh manusia yang dianggap hina dan rendah.
  • Doketisme, yang percaya bahwa tubuh jasmani Yesus hanyalah ilusi semata, sehingga penderitaan dan penyaliban-Nya pun dianggap tidak nyata.
  • Pengaruh Yudaisme yang menuntut orang percaya tetap menjalankan seluruh ritual Taurat untuk mendapat keselamatan.
  • Ajaran Cerintus dan berbagai variasi lainnya yang secara sengaja merendahkan atau mengecilkan pribadi Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi manusia.

Semua ajaran ini pada intinya ingin menggeser fokus dari Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit. Surat 1 Yohanes ditulis Rasul Yohanes dengan tegas sebagai perlawanan terhadap pengaruh-pengaruh berbahaya ini. Tujuannya jelas: melindungi jemaat agar tetap setia kepada kebenaran Injil yang murni.

 

Sikap Kritis yang Sehat dalam Gereja

Sayangnya, di banyak gereja dewasa ini, sikap kritis terhadap suatu pengajaran sering kali dianggap sebagai sikap yang kurang rohani, bahkan dianggap pemberontakan atau ketidak-taatan. Padahal, sikap waspada dan hati-hati ini justru adalah sikap yang dicontohkan oleh para rasul dan pemimpin gereja mula-mula. Mereka melakukannya bukan karena curiga, melainkan demi menjaga kemurnian pengajaran yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus sendiri.

Rasul Yohanes memberi kita prinsip yang sangat jelas dan abadi:

“Janganlah percaya kepada semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka…”

Realita yang kita hadapi hari ini sudah diramalkan dengan tepat oleh Rasul Paulus hampir dua ribu tahun lalu:

“Sebab akan datang waktunya orang tidak mau lagi mendengarkan ajaran yang sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka sendiri karena ingin telinganya disenangkan. Mereka akan memalingkan telinga mereka dari kebenaran dan berpaling kepada dongeng-dongeng.” (2 Timotius 4:3-4)

 

Beberapa Contoh Pengajaran yang Menyimpang di Masa Kini

Di era media sosial, penyimpangan pengajaran semakin mudah menyebar. Berikut beberapa contoh yang sering muncul dan sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini:

  1. Injil Kemakmuran (Prosperity Gospel) Pengajaran ini menjanjikan bahwa iman yang kuat pasti menghasilkan kekayaan materi, kesehatan sempurna, dan kesuksesan duniawi. Kalau belum “berhasil”, berarti imanmu masih kurang. Padahal, pengajaran ini sering mengabaikan realita salib, penderitaan, dan panggilan untuk menyangkal diri yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri.
  2. Kristen Progresif Tren ini cenderung menafsir ulang Alkitab sesuai nilai budaya dan zaman modern. Misalnya, merelatifkan ajaran tentang dosa, keselamatan hanya melalui Yesus, atau bahkan mengatakan bahwa semua agama pada dasarnya sama saja menuju Tuhan. Akibatnya, pribadi Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan yang berinkarnasi menjadi kabur.
  3. Pengajaran “Wahyu Baru” atau Nubuat Modern yang Tidak Dapat Diuji Banyak konten di YouTube dan TikTok yang menampilkan “nabi” atau “rasul” masa kini yang mengklaim menerima wahyu langsung dari Tuhan di luar Alkitab. Nubuat-nubuat itu sering sangat spesifik tentang masa depan pribadi atau nasional, tetapi jarang sekali diuji dengan Firman yang sudah ada. Ini membuat banyak orang lebih bergantung pada “suara baru” daripada pada Firman Tuhan yang telah sempurna.
  4. Campuran dengan Praktik Mistis atau New Age Beberapa pengajaran mengemas “iman positif”, visualisasi, atau meditasi ala Timur sebagai “cara baru mendekatkan diri kepada Tuhan”. Padahal, ini sering menggeser fokus dari Kristus yang disalibkan menjadi fokus pada kekuatan pikiran atau energi diri sendiri.

Semua contoh di atas gagal melewati ujian sederhana yang diberikan Rasul Yohanes: Apakah pengajaran itu benar-benar meninggikan Yesus Kristus yang telah datang dalam daging, disalibkan, dan bangkit untuk menebus dosa kita?

 

Kriteria Menguji Pengajaran yang Benar

Dalam bahasa Yunani asli, kata “roh” (pneuma) memiliki arti yang luas: bukan hanya roh kudus, tetapi juga sikap hati, motivasi, dan semangat yang mendorong seseorang. Karena itu, kita harus menguji dua hal sekaligus:

  1. Isi Pengajarannya Apakah pengajaran itu memberitakan dengan jelas Yesus Kristus yang telah datang dalam daging (inkarnasi), mati di salib sebagai tebusan dosa, dan bangkit pada hari ketiga? Apakah pengajaran tersebut mengarahkan kita untuk menyembah Dia sebagai Tuhan (Theos) dan Tuan (Kurios) yang mutlak?
  2. Motivasi dan Buahnya Apakah pemberitaan itu didorong oleh keinginan mencari uang, popularitas, atau pujian manusia? Apakah buahnya adalah orang-orang semakin dekat dengan Kristus, hidup semakin menyerupai-Nya, dan karakter mereka berubah menjadi lebih seperti Kristus?

 

Kekuatan Roh yang Lebih Besar

“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4)

Ayat ini bukan janji kemenangan otomatis tanpa usaha. Dalam konteksnya, kemenangan ini diperoleh melalui pengajaran yang benar yang menolak ajaran sesat. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita jauh lebih besar daripada roh dunia (kosmos) — yaitu sistem nilai dan pola pikir masyarakat yang sementara dan sementara saja.

Iman yang kuat lahir dari mendengar Firman yang benar (rhema — pesan yang jelas dan utuh dari Tuhan), bukan sekadar membaca Alkitab tanpa pemahaman yang mendalam. Firman yang benar akan menghasilkan motivasi murni: melayani dan memuliakan Kristus dalam segala aspek kehidupan.

 

Panggilan Praktis untuk Kita Semua

Mari kita bangun kebiasaan menguji segala pengajaran dengan langkah-langkah yang sederhana namun konsisten:

  1. Selalu bandingkan pengajaran tersebut dengan keseluruhan ajaran Alkitab (bukan hanya satu ayat yang dipotong-potong).
  2. Tanyakan dengan jujur: Apakah Yesus Kristus dimuliakan sebagai Tuhan dan Juruselamat yang tunggal?
  3. Perhatikan buahnya — baik dalam kehidupan pengajar maupun pendengarnya. Apakah karakter mereka semakin mirip dengan Kristus?
  4. Periksa motivasi di balik pemberitaan: Apakah ada unsur uang, popularitas, atau sensasi?
  5. Terapkan Firman dalam kehidupan sehari-hari — di pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
  6. Diskusikan dengan saudara seiman yang matang secara rohani jika ada keraguan.

Jangan mudah terpesona oleh pengajaran yang terdengar sangat mistis, “super rohani”, atau penuh nubuat dramatis, tetapi tidak mampu mengubah karakter kita menjadi lebih kudus dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

 

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi, mari kita kembali dengan sepenuh hati kepada Firman Tuhan yang murni. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan Alkitab dengan sungguh-sungguh. Terapkan kebenaran itu dalam setiap aspek kehidupan kita — mulai dari kejujuran di tempat kerja, kesetiaan dalam pernikahan, hingga welas asih kepada sesama yang menderita.

Ketika kita setia menguji segala roh dan berpegang teguh pada pengajaran yang benar, iman kita akan bertumbuh dengan kuat, gereja Tuhan akan tetap sehat, dan nama Tuhan Yesus Kristus akan dimuliakan di tengah dunia yang semakin gelap.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin.