"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." (Kolose 3:5)
Laman
05 April 2017
MENGIKUT KRISTUS ADALAH MEMATIKAN KEINGINAN DIRI (Kolose 3:5)
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." (Kolose 3:5)
13 Januari 2017
HARAPAN AKAN MASA DEPAN (Amsal 23:17-18)
30 Desember 2016
GEREJA ADALAH RUANG BELAJAR, HIDUP KESEHARIAN ADALAH LADANG UJIAN (Ibrani 10:24-25)
Iman Kristen harus dipahami secara utuh. Jika hanya dipahami secara setengah-setengah, maka akan membawa kepada kesesatan. Istilah kesesatan disini janganlah hanya dipahami dalam konteks pengajaran agama, semisal diasumsikan dengan aliran/ajaran sesat seperti Saksi Yehova, Mormonisme, dll. Dalam kasus yang paling sederhana, mengambil atau melakukan sebuah prinsip yang terlihat berasal dari Alkitab – padahal hanya separuh kebenaran saja – adalah satu bentuk kesesatan. Untuk itulah diperlukan sebuah pemahaman yang utuh dan lengkap terhadap iman Kristiani, yang tentunya hal itu bersumber dari penafsiran Alkitab yang disiplin.
Lantas, apa yang seringkali menghambat kita, umat Kristen, untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap firman Tuhan dalam Alkitab? Apa pula yang harusnya kita upayakan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tersebut?
Cherry-picking dan Proof-texting
Saat ini kita akan sedikit membahas satu kesalahan yang hingga saat ini masih sering kali dan mungkin yang paling umum terjadi di kalangan orang Kristen (khususnya, sejauh pengamatan saya, di aliran Pentakosta dan Kharismatik), berkenaan dengan cara memahami Alkitab. Kesalahan tersebut adalah kebiasaan MEMBACA dan lantas MENGAMINI SEBUAH AYAT ALKITAB.
Kesalahan ini disebut cherry-picking, dan dalam istilah hermeneutik dikenal juga sebuah istilah yang lebih terkesan teknis yakni proof-texting. Cherry picking adalah kesalahan logika dimana seseorang membangun argument atau pemahamannya hanya berdasar atas pendapat atau data yang menyokong apa yang diklaimnya saja, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data (konteks), yang sebenarnya sebagian data yang diambil tersebut justru kadang melemahkan atau bahkan membantah klaimnya sendiri; biasa disebut cocokmologi. Pengertian proof-texting adalah kesalahan metodologis dimana seseorang mengambil bagian kecil dari Alkitab, seringkali hanya sebuah ayat, kemudian digunakan untuk mendukung sebuah pemikiran atau membangun sebuah doktrin tanpa mempedulikan konteks sastranya. Dengan ungkapan yang sederhana, cherry-picking dan proof-texting adalah kebiasaan pilih-pilih ayat Alkitab.
Cherry-picking dan proof-texting akan menghasilkan sebuah pengajaran kekristenan yang salah serta lemah. Prinsip-prinsip pengajaran yang dibangun dengan pola tersebut kemungkinan besar tidak konsisten bahkan seringkali kontradiktif. Membangun fondasi kehidupan dengan dasar pengajaran yang didapat dengan pola tersebut seperti membangun rumah di atas pasir. Jika ingin membangun iman Kristen yang kuat, lakukan di atas batu karang. Membangun di atas batu karang berbicara tentang memahami firman Tuhan secara benar dan mendasar sehingga membuat kita mampu merumuskan tindakan nyata dari prinsip kebenaran firman Tuhan tersebut.
Lebih buruk lagi, kebiasaan pilih-pilih ayat tersebut seringkali juga dilakukan secara setengah-setengah. Maksudnya seperti ini: Ayat-ayat yang memiliki isi yang menyenangkan, menenangkan, menguatkan, memotifasi serta “memberkati” seringkali menjadi ayat-ayat favorit banyak umat Kristen. Jarang kita dapati seseorang yang menggunakan ayat-ayat yang berisi teguran dan kritikan sebagai ayat nats atau ayat emas favoritnya.
Gereja (juga) merupakan lembaga pendidikan
Gereja seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat suci atau tempat ibadah dalam kehidupan umat Kristen. Gereja seharusnya juga menjadi wadah umat Kristen untuk belajar dan mendulang pemahaman yang benar terhadap firman Tuhan, serta relefansinya dalam kehidupan sehari-hari. Memahami prinsip firman Tuhan dengan benar serta mengerjakan prinsip kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari – dengan segala keterbatasan kemampuan – akan membawa kita, umat Kristen, mengenal Tuhan dengan benar.
Dalam konteks membangun dasar-dasar iman, gereja harusnya menghindarkan jemaat dari kebiasaan cherry-picking atau proof-texting tersebut di atas. Teknisnya, Gereja harus mulai membiasakan jemaat untuk menggunakan cara pembacaan Alkitab yang lebih menyeluruh; tidak lagi membaca satu ayat saja, melainkan membaca paling tidak satu paragraf utuh atau satu perikop. Akan lebih baik lagi jika kebiasan membaca tuntas Alkitab digalakkan di kalangan jemaat gereja. Membaca Alkitab hingga tuntas (mulai dari kitab Kejadian hingga Wahyu) akan memberi kita sekilas gambaran besar mengenai alur penulisan Alkitab.
Selain Alkitab, gereja seharusnya juga harus mampu mengedukasi anggota jemaat untuk membaca buku-buku atau sumber-sumber bacaan yang lain. Hal tersebut penting sekali untuk memperluas cakrawala berpikir anggota gereja.
Dengarkan saja, maka imanmu akan bertumbuh. Oh really? Come on….!!
Dalam sebuah ibadah formal hari minggu, mimbar gereja memang merupakan sebuah mimbar monolog. Melalui mimbar tersebut seorang pendeta atau hamba Tuhan menyampaikan renungan dari sebuah bagian dari Alkitab. Kita tentu saja tidak akan mendapati adanya dialog yang terjadi antara jemaat dengan sang pengkhotbah dalam kesempatan tersebut. Hal itu adalah semacam aturan tidak tertulis yang umum berlaku dalam sebuah ibadah. Namun apakah mimbar gereja hanya diisi oleh kegiatan ibadah semacam itu saja?
Gereja harus menyediakan ruang untuk pendalaman pemahaman akan firman Tuhan bagi jemaat. Kata Ruang yang saya maksudkan disini lebih mengarah pada waktu atau kesempatan. Yang harus ditentukan oleh para gembala jemaat atau majelis gereja adalah kapan pelaksanaanya. Itu hanyalah masalah teknis dari jadwal kegiatan gereja. Permasalah yang lebih mendesak sebenarnya adalah ada atau tidaknya kesempatan tersebut, bukan?
Saat kita mendengarkan khotbah yang disampaikan pada waktu ibadah umum, tidak jarang muncul tanggapan di dalam pikiran kita. Tanggapan tersebut dapat berupa pertanyaan atau bahkan pendapat atau pemahaman yang tidak jarang justru berseberangan dengan apa yang telah dikatakan oleh sang pengkhotbah.
Tanggapan tersebut muncul karena kita mungkin saja telah menerima sebuah informasi yang berhubungan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh sang pengkhotbah. Bisa saja kita pernah membaca sebuah buku atau artikel tertentu, mendengarkan khotbah dari internet, atau teringat percakapan dengan seorang teman, atau mungkin saja kita pernah mengalami “serangan” terhadap iman kita dari orang yang beragama lain dan kita tidak dapat menjawabnya. Tanggapan-tanggapan yang ada dalam pikiran kita tersebut, saya yakin, membutuhkan jawaban atau tanggapan balik.
Jadi, memang mendengarkan khotbah saja tidaklah dapat membuat iman seseorang bertumbuh. Lantas kenapa ada ayat Alkitab yang berkata bahwa “iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus?” (Roma 10:17) Apakah artinya ayat tersebut salah?
Ada minimal dua ayat yang menurut saya menarik untuk diperhatikan, berkenaan dengan pertumbuhan iman yang didasarkan pada pengajaran firman Tuhan. Ayat yang pertama sebenarnya secara tidak langsung telah saya kutip di atas, yakni Matius 7:24-27. Dalam bagian tersebut, Tuhan Yesus memberikan penakanan bahwa saat seseorang “mendengarkan” firman Tuhan dan melakukannya, maka ia akan memiliki iman yang kuat untuk menghadapi gempuran pengaruh dunia serta dapat bertahan dalam pergumulan hidupnya. Rasul Paulus menulis dalam surat Roma 10:17 bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Kedua bagian kutipan ayat Alkitab tersebut memuat sebuah kata yang sama, yakni mendengarkan. Bahasa Inggris membedakan kata hear dan kata listen, yang dalam Bahasa Indonesia sama-sama diterjemahkan dengan dengar atau mendengarkan. Kata hear bermakna sekadar mendengar sebuah suara, namun kata listen memiliki makna memperhatikan dengan saksama. Kata “mendengarkan” dalam bahasa Yunani yang digunakan penulis kitab, dalam hal ini adalah Rasul Matius dan Rasul Paulus, adalah kata dasar yang sama yang dibaca akoe.
Kata akoe ini hanya akan menunjukkan perbedaan makna saat dimasukkan ke dalam konteks kalimatnya. Dalam hal ini, kata akoe memiliki makna memperhatikan karena perkataan tersebut merupakan paket pengajaran yang diberikan oleh seorang pengajar firman.
Tuhan Yesus dan Rasul Paulus sudah sangat terbiasa dengan kalimat tersebut. Secara meyakinkan, mereka pastilah mendasari pemahamannya dengan ayat yang berasal dari kitab Keluaran 15:26 “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan (listen – KJV) suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Masyarakat Yahudi sangatlah mengenal bagian ini. Bagi mereka, firman Tuhan sangatlah sakral dan mereka harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh ketika firman Tuhan tersebut diajarkan.
Tidak sekedar didengarkan, firman Tuhan haruslah dipahami. Ukuran dari paham atau tidaknya kita terhadap prinsip kebenaran firman Tuhan adalah saat kita mampu merumuskan tindakan nyata untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari, berdasarkan prinsip kebenaran dari bagian firman Tuhan yang kita renungkan tersebut. Di sisi yang lain, seorang hamba Tuhan harus dapat memberikan pengertian yang mendasar kepada jemaat dari bagian firman Tuhan yang dia bawakan dalam khotbahnya.
Gereja adalah kelas belajar seumur hidup
Mari kita sejenak mengingat proses pendidikan kita saat berada, misalnya, di sekolah dasar. Di kelas 1 sekolah dasar, kita diajar untuk menghafalkan perkalian 1 x 1 hingga 10 x 10. Adakah diantara kita yang mampu menghafalkan sekian banyak perkalian tersebut hanya dalam satu kali pertemuan pelajaran matematika? Mustahil, bukan? Mari kita bayangkan ada berapa banyak persoalan kehidupan yang kita hadapi. Apakah mungkin semua permasalah tersebut dapat terjawab dengan satu atau dua kali pergi beribadah ke gereja? Jawabannya akan sama, yakni mustahil.
Gereja harusnya menjadi tempat untuk kita menimba pemahaman mengenai prinsip-prinsip kebenaran Tuhan. Seperti halnya ruang kelas, pola pembelajaran di gereja haruslah dinamis dan holistik, artinya prinsip kebenaran yang dipelajari dapat menjangkau dan diterapkan di semua sudut kehidupan kita.
Jika kita hanya mengandalkan pertemuan ibadah sekali seminggu pada waktu ibadah umum saja, sejauh mana prinsip kebenaran yang akan kita pahami? Tentunya akan sangat dangkal bukan? Belum lagi jika kita tidak memiliki semangat untuk belajar, dan disaat yang sama ada begitu banyak permasalahan kehidupan yang tidak mungkin kita abaikan begitu saja.
Pertemuan-pertemuan ibadah dalam komunitas gereja seharusnya mengusung pemahaman mengenai pendidikan warga gereja ini dengan lebih serius. Pertemuan ibadah selain ibadah umum minggu seharusnya dapat menjadi wadah yang mengasyikkan bagi jemaat untuk berkumpul dan menggali kebenaran firman Tuhan.
Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh warga gereja.
Seorang Kristen yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap iman Kristennya, akan berusaha dengan keras untuk bertumbuh dengan baik. Ada dua aspek kehidupan orang Kristen: aspek pribadi dan komunal. Kita dituntut untuk sadar akan konsekuensi iman kita secara pribadi. Berani mempertanggungjawabkan iman kita dalam hal pola pikir, perkataan dan tingkah laku.
Dalam konteks komunal, gereja sebenarnya memiliki pengertian komunitas orang beriman, bukan sekedar sebuah bangunan tempat ibadah. Jadi sebagai komunitas, semua anggota dari komunitas tersebut mengemban tanggung jawab yang sama, yakni untuk terus memastikan kebenaran Tuhan tetap ditegakkan di dalamnya. Dari sinilah muncul tanggung jawab untuk bertumbuh bersama, saling membangun, saling menjaga dan saling menasihati. Dalam hal ini, penulis surat Ibrani menuliskan demikian: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25)
Jangan Percaya Semua Roh! Ujilah Pengajaran di Era Media Sosial (1 Yohanes 4:1)
“Saudara-saudara yang tercinta! Janganlah percaya kepada semua orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka untuk mengetahui apakah roh yang ada pada mereka itu berasal dari Allah atau tidak.” 1 Yohanes 4:1 (IBIS)
Problematika Kekristenan di Era
Digital
Di zaman teknologi informasi yang
serba cepat seperti sekarang, kita sering merasakan dua hal yang bertolak
belakang sekaligus: kekaguman dan kekhawatiran yang mendalam. Di satu sisi,
kita kagum karena informasi apa pun dapat diperoleh hanya dengan beberapa
ketukan jari di ponsel. Berita, khotbah, bahkan pengajaran rohani datang deras
setiap hari melalui Instagram, YouTube, TikTok, dan grup-grup WhatsApp. Namun
di sisi lain, kita khawatir karena sulit sekali membedakan mana yang benar dan
mana yang palsu.
Contoh paling sederhana adalah
informasi tentang khasiat tanaman obat atau buah-buahan yang sering viral dan
langsung dibagikan ribuan kali tanpa ada bukti medis yang jelas. Banyak orang
langsung mempraktikkannya hanya karena “banyak yang share”. Kekristenan
menghadapi problematika yang persis sama dalam hal pengajaran iman. Banyak
sekali ajaran rohani yang beredar luas, saling bertentangan satu sama lain, dan
tidak sedikit yang secara mendasar bertentangan dengan kebenaran Alkitab.
Masalah ini bukanlah hal baru. Sejak
gereja mula-mula lahir pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2), sudah muncul
berbagai penyimpangan pengajaran. Para rasul sendiri harus terus-menerus
melawan ajaran-ajaran yang menyimpang agar jemaat tidak tersesat.
Pelajaran dari Gereja Mula-mula
Penyimpangan pengajaran pada zaman
rasul biasanya muncul karena percampuran antara ajaran Kristen yang murni
dengan filsafat atau agama lain yang sudah ada sebelumnya. Di kawasan Asia
Kecil, tempat Rasul Yohanes melayani, beberapa ajaran sesat yang paling
berpengaruh antara lain:
- Gnostisisme, yang mengajarkan bahwa Yesus hanyalah roh ilahi yang
terperangkap dalam tubuh manusia yang dianggap hina dan rendah.
- Doketisme, yang percaya bahwa tubuh jasmani Yesus hanyalah ilusi
semata, sehingga penderitaan dan penyaliban-Nya pun dianggap tidak nyata.
- Pengaruh Yudaisme yang
menuntut orang percaya tetap menjalankan seluruh ritual Taurat untuk
mendapat keselamatan.
- Ajaran Cerintus dan
berbagai variasi lainnya yang secara sengaja merendahkan atau mengecilkan
pribadi Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi manusia.
Semua ajaran ini pada intinya ingin
menggeser fokus dari Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit.
Surat 1 Yohanes ditulis Rasul Yohanes dengan tegas sebagai perlawanan terhadap
pengaruh-pengaruh berbahaya ini. Tujuannya jelas: melindungi jemaat agar tetap
setia kepada kebenaran Injil yang murni.
Sikap Kritis yang Sehat dalam Gereja
Sayangnya, di banyak gereja dewasa
ini, sikap kritis terhadap suatu pengajaran sering kali dianggap sebagai sikap
yang kurang rohani, bahkan dianggap pemberontakan atau ketidak-taatan. Padahal,
sikap waspada dan hati-hati ini justru adalah sikap yang dicontohkan oleh para
rasul dan pemimpin gereja mula-mula. Mereka melakukannya bukan karena curiga,
melainkan demi menjaga kemurnian pengajaran yang telah mereka terima dari Tuhan
Yesus sendiri.
Rasul Yohanes memberi kita prinsip
yang sangat jelas dan abadi:
“Janganlah percaya kepada semua
orang yang mengaku mempunyai Roh Allah, tetapi ujilah dahulu mereka…”
Realita yang kita hadapi hari ini
sudah diramalkan dengan tepat oleh Rasul Paulus hampir dua ribu tahun lalu:
“Sebab akan datang waktunya orang
tidak mau lagi mendengarkan ajaran yang sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan
guru-guru menurut kehendak mereka sendiri karena ingin telinganya disenangkan.
Mereka akan memalingkan telinga mereka dari kebenaran dan berpaling kepada
dongeng-dongeng.” (2 Timotius 4:3-4)
Beberapa Contoh Pengajaran yang
Menyimpang di Masa Kini
Di era media sosial, penyimpangan
pengajaran semakin mudah menyebar. Berikut beberapa contoh yang sering muncul
dan sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini:
- Injil Kemakmuran (Prosperity
Gospel) Pengajaran ini menjanjikan
bahwa iman yang kuat pasti menghasilkan kekayaan materi, kesehatan
sempurna, dan kesuksesan duniawi. Kalau belum “berhasil”, berarti imanmu
masih kurang. Padahal, pengajaran ini sering mengabaikan realita salib,
penderitaan, dan panggilan untuk menyangkal diri yang diajarkan Tuhan
Yesus sendiri.
- Kristen Progresif Tren ini cenderung menafsir ulang Alkitab sesuai nilai
budaya dan zaman modern. Misalnya, merelatifkan ajaran tentang dosa,
keselamatan hanya melalui Yesus, atau bahkan mengatakan bahwa semua agama
pada dasarnya sama saja menuju Tuhan. Akibatnya, pribadi Yesus Kristus
sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan yang berinkarnasi menjadi
kabur.
- Pengajaran “Wahyu Baru” atau
Nubuat Modern yang Tidak Dapat Diuji
Banyak konten di YouTube dan TikTok yang menampilkan “nabi” atau “rasul”
masa kini yang mengklaim menerima wahyu langsung dari Tuhan di luar
Alkitab. Nubuat-nubuat itu sering sangat spesifik tentang masa depan
pribadi atau nasional, tetapi jarang sekali diuji dengan Firman yang sudah
ada. Ini membuat banyak orang lebih bergantung pada “suara baru” daripada
pada Firman Tuhan yang telah sempurna.
- Campuran dengan Praktik Mistis
atau New Age Beberapa pengajaran mengemas
“iman positif”, visualisasi, atau meditasi ala Timur sebagai “cara baru
mendekatkan diri kepada Tuhan”. Padahal, ini sering menggeser fokus dari
Kristus yang disalibkan menjadi fokus pada kekuatan pikiran atau energi
diri sendiri.
Semua contoh di atas gagal melewati
ujian sederhana yang diberikan Rasul Yohanes: Apakah pengajaran itu benar-benar
meninggikan Yesus Kristus yang telah datang dalam daging, disalibkan, dan
bangkit untuk menebus dosa kita?
Kriteria Menguji Pengajaran yang
Benar
Dalam bahasa Yunani asli, kata “roh”
(pneuma) memiliki arti yang luas: bukan hanya roh kudus, tetapi juga
sikap hati, motivasi, dan semangat yang mendorong seseorang. Karena itu, kita
harus menguji dua hal sekaligus:
- Isi Pengajarannya Apakah pengajaran itu memberitakan dengan jelas Yesus
Kristus yang telah datang dalam daging (inkarnasi), mati di salib
sebagai tebusan dosa, dan bangkit pada hari ketiga? Apakah pengajaran
tersebut mengarahkan kita untuk menyembah Dia sebagai Tuhan (Theos)
dan Tuan (Kurios) yang mutlak?
- Motivasi dan Buahnya Apakah pemberitaan itu didorong oleh keinginan mencari
uang, popularitas, atau pujian manusia? Apakah buahnya adalah orang-orang
semakin dekat dengan Kristus, hidup semakin menyerupai-Nya, dan karakter
mereka berubah menjadi lebih seperti Kristus?
Kekuatan Roh yang Lebih Besar
“Kamu berasal dari Allah,
anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada
di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes
4:4)
Ayat ini bukan janji kemenangan
otomatis tanpa usaha. Dalam konteksnya, kemenangan ini diperoleh melalui
pengajaran yang benar yang menolak ajaran sesat. Roh Kudus yang tinggal di
dalam kita jauh lebih besar daripada roh dunia (kosmos) — yaitu sistem
nilai dan pola pikir masyarakat yang sementara dan sementara saja.
Iman yang kuat lahir dari mendengar
Firman yang benar (rhema — pesan yang jelas dan utuh dari Tuhan), bukan
sekadar membaca Alkitab tanpa pemahaman yang mendalam. Firman yang benar akan
menghasilkan motivasi murni: melayani dan memuliakan Kristus dalam segala aspek
kehidupan.
Panggilan Praktis untuk Kita Semua
Mari kita bangun kebiasaan menguji
segala pengajaran dengan langkah-langkah yang sederhana namun konsisten:
- Selalu bandingkan pengajaran
tersebut dengan keseluruhan ajaran Alkitab (bukan hanya satu ayat yang
dipotong-potong).
- Tanyakan dengan jujur: Apakah
Yesus Kristus dimuliakan sebagai Tuhan dan Juruselamat yang tunggal?
- Perhatikan buahnya — baik dalam
kehidupan pengajar maupun pendengarnya. Apakah karakter mereka semakin
mirip dengan Kristus?
- Periksa motivasi di balik
pemberitaan: Apakah ada unsur uang, popularitas, atau sensasi?
- Terapkan Firman dalam kehidupan
sehari-hari — di pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
- Diskusikan dengan saudara
seiman yang matang secara rohani jika ada keraguan.
Jangan mudah terpesona oleh
pengajaran yang terdengar sangat mistis, “super rohani”, atau penuh nubuat
dramatis, tetapi tidak mampu mengubah karakter kita menjadi lebih kudus dan
tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi, mari
kita kembali dengan sepenuh hati kepada Firman Tuhan yang murni. Luangkan waktu
setiap hari untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan Alkitab dengan
sungguh-sungguh. Terapkan kebenaran itu dalam setiap aspek kehidupan kita —
mulai dari kejujuran di tempat kerja, kesetiaan dalam pernikahan, hingga welas
asih kepada sesama yang menderita.
Ketika kita setia menguji segala roh
dan berpegang teguh pada pengajaran yang benar, iman kita akan bertumbuh dengan
kuat, gereja Tuhan akan tetap sehat, dan nama Tuhan Yesus Kristus akan
dimuliakan di tengah dunia yang semakin gelap.
Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin.
MENANG MELAWAN PENCOBAAN
I. UBAHLAH BATU MENJADI ROTI (Matius 4:1-4)
II. JATUHKANLAH DIRI-MU (Matius 4:5-7)
III. SEMUANYA KUBERIKAN…JIKA SUJUD MENYEMBAH AKU (Matius 4:8-10)
